Operasi Batu Ginjal : URS dan ESWL

Dua minggu terakhir ini merupakan minggu yang tidak mengenakkan bagi saya. Saya harus istirahat dirumah pasca operasi URS dan ESWL yang saya lakukan di Rumah Sakit BaliMed Denpasar. Apa itu operasi URS dan ESWL silahkan googling sendiri, yang jelas itu tindakan medis untuk menghilangkan batu pada saluran kencing dan ginjal. Gejala sakit yang saya alami sebenarnya sudah mulai sejak sekitar 2-3 bulan yang lalu. Saya merasakan nyeri di perut bagian kiri bawah. Awalnya nyeri terasa selama beberapa jam lalu hilang dengan sendirinya. Beberapa minggu kemudian nyeri itu muncul lagi, sempat saya mengira itu sakit maag karena saya dulu punya riwayat maag.

Setelah beberapa kali mengalami sakit yang sama suatu sore ketika sakit saya memutuskan untuk periksa ke dokter umum. Setelah diperiksa dan ditanyakan masalah kencing dan buang air besar, Dokter memberikan obat untuk konstipasi dan menyarankan saya banyak makan buah terutama pepaya. Setelah itu sakit saya memang hilang, saya pun selanjutnya makan pepaya tiap hari. Bahkan belakangan setiap habis makan di kantin kampus, saya selalu memesan semangkuk buah. Saat itu saya meyakini diri menderita konstipasi.

Namun, beberapa kali setelah itu nyeri itu kembali datang dan datang lagi. Pernah saya tidak tahan dengan sakitnya, lalu saya memeriksakan diri ke Dokter umum lagi. Dokter pun masih mengatakan hal yang sama, entah, mungkin karena saya yang mengatakan pernah menderita konstipasi sebelumnya. Tapi kali ini saya meminta surat pengantar dari Dokter untuk tindakan selanjutnya. Dokter pun memberi surat pengantar untuk rontgen. Tapi setelah beberapa lama nyeri itu tidak terasa lagi hingga hari Senin sekitar dua minggu yang lalu.

Senin, 5 Desember 2011

Sore itu perut saya sakit lagi. Sempat saya tahan sakitnya dan juga minum obat penghilang nyeri. Tapi malamnya sekitar pukul 20.00, karena sakitnya belum hilang, berbekal surat pengantar dari Dokter umum, saya memutuskan untuk rontgen dan periksa ke Dokter spesialis penyakit dalam. Hasil rontgen diperiksa oleh Dokter spesialis penyakit dalam. Dokter mengatakan tidak ditemukan ada masalah apa pun. Tapi Dokter mengatakan mengatakan bisa saja ada batu yang tidak terlihat dalam hasil rontgen. Saya lalu diberi surat pengantar untuk USG.

Selasa, 6 Desember 2011

Besoknya, hari Selasa sore saya datang ke Rumah Sakit BaliMed untuk di USG. Dokter yang melakukan USG pun mengatakan memang ada batu dan katanya saya memang harus berobat. Hasil USG saya diberikan pengantar lagi untuk kembali Dokter spesialis penyakit dalam karena surat pengantar USG dari sana. Dokter spesialis penyakit dalam lalu merujuk lagi ke Dokter spesialis bedah urologi.

Dokter spesialis bedah urologi ini saya panggil Dokter Wirya atau di rumah sakit BaliMed lebih dikenal dengan dokter GWK. Oleh Dokter GWK ini saya diperiksa lagi, di USG lagi untuk memastikan apakah memang ada batu di saluran kencing dan memastikan posisinya. Hasilnya memang ada batu di saluran kencing saya, posisinya tepat di rasa sakit yang saya rasakan, dekat kantong kemih. Batu juga ditemukan di ginjal, ginjal saya juga bengkak.

Dokter GWK lalu menjelaskan bahwa awalnya batu yang dibawah menyumbat saluran kencing, lalu mengakibatkan ginjal bengkak dan ada batu juga di ginjal. Dokter GWK lalu menjelaskan tindakan yang harus dilakukan adalah saya harus menjalani operasi URS dan ESWL untuk menghilangkan kedua batu itu. Dokter GWK juga memperlihatkan video bagaimana operasi URS dan EWSL itu dilakukan pada pasien.

Saya sempat menanyakan kepada Dokter GWK apakah ada cara lain yang bisa saya tempuh untuk sembuh, Dokter menjawab tidak ada. Saya lalu menanyakan bagaimana dengan tingkat keberhasilan operasi ini, Dokter GWK mengatakan bahwa tingkat keberhasilan operasi URS adalah 93% dan ESWL 95%. Dokter lalu menambahkan bahwa dalam dunia kedokteran tingkat keberhasilan diatas 80% itu sudah bagus, dan tidak ada jaminan 100% berhasil karena selalu ada faktor ijin Tuhan. Dokter kemudian mengatakan malam itu saya dipersilahkan pulang untuk berpikir, lalu kapan saya siap saya dipersilahkan menelepon Dokter GWK untuk menjalani operasi URS dan ESWL.

Sebelum pulang saya lalu mampir ke resepsionis RS BaliMed untuk menanyakan masalah biaya. Petugas disana lalu mengatakan bahwa tindakan URS memerlukan biaya sekitar 7-12 juta dan ESWL sekitar 3-4 juta. Saya cukup kaget dengan biaya tersebut, tapi demi kesehatan sepertinya saya tidak akan masalah dengan biaya itu. Oya, itu belum termasuk biaya obat serta rawat inap, karena setelah tindakan tersebut saya harus rawat inap semalam.

Tiba dirumah, entah mengapa malah ada rasa senang dalam hati saya. Mungkin tepatnya rasa tenang, karena permasalahan sakit saya selama ini sudah menemui titik terang. Yang harus saya pikirkan selanjutnya adalah apakah saya memutuskan menjalani operasi itu atau tidak. Sebenarnya malam itu hati kecil saya sudah mengatakan bahwa operasi itu adalah jalan yang harus saya tempuh. Istri saya pun sepertinya sependapat, walaupun biaya sedikit menjadi ganjalan bagi kami.

Rabu, 7 Desember 2011

Dini hari sekitar pukul 4.00 perut saya sakit lagi, coba saya tahan dengan minum air saja. Dalam hati saya sudah memutuskan bahwa saya harus menjalani operasi secepatnya. Pagi sekitar pukul 7.00 setelah diskusi kecil dengan istri dan keluarga, kami memutuskan untuk menelepon dokter. Istri saya menelepon Dokter GWK dan menyampaikan bahwa saya siap menjalani operasi hari itu juga. Pukul 09.00 kami sudah tiba di RS BaliMed, mendaftar di resepsionis lalu saya masuk UGD untuk melakukan persiapan operasi. Cek kondisi fisik, tekanan darah, suntik antibiotik dan lain-lain.

Saya sempat masuk kamar rawat inap menunggu operasi. Pukul 13.00 akhirnya saya masuk ruang operasi untuk menjalani URS. Selama satu jam tindakan itu dilakukan, saya dibius setengah badan. Suntikan bius dimasukkan di punggung, lalu beberapa menit kemudian dari perut ke bawah sudah tidak terasa apa-apa lagi. Saya tidak melihat langsung operasi URS dilakukan. Alat seperti pipa kecil dengan panjang sekitar 40 cm masuk melalui penis saya. Alat itu dilengkapi kamera dan saya bisa melihat video alat itu masuk ke dalam tubuh saya dan menghancurkan batu di saluran kencing saya. Sekitar 14.00 saya keluar dari ruang operasi.

Saya lalu dibawa ke ruangan lain untuk menjalani ESWL. Tindakan ESWL ini semacam diberi sinyal/gelombang kejut dari luar tubuh saya, dari arah punggung yang menuju batu pada ginjal saya. Saya melihat di alat yang digunakan, sinar ESWL ini dilakukan sampai 3000 kali. Saya bahkan sempat ketiduran selama menjalani ESWL ini. Kurang lebih 2 jam kemudian, pukul 16.00 akhirnya selesai juga. Saya lalu dibawa ke ruang lain lagi untuk di rontgen. Rontgen ini katanya untuk melihat apakah posisi selang di dalam tubuh saya sudah benar. Ya, ternyata ketika operasi URS itu di dalam tubuh saya dipasang selang kecil, dari ginjal menuju saluran kencing. Saya juga baru menyadari bahwa di penis saya terpasang selang cateter untuk menampung urine saya yang merah karena bercampur darah. Semuanya selesai, saya lalu masuk ke kamar untuk rawat inap.

Kamis, 8 Desember 2011

Warna urine pada selang cateter yang terpasang di penis saya mulai jernih. Sekitar pukul 08.00 bahkan sudah benar-benar jernih. Perawat mengatakan itu tandanya bahwa saya kemungkinan sudah boleh pulang. Saya sempat di visite oleh Dokter spesialis penyakit dalam. Perawat lalu menghubungi Dokter GWK dan menyampaikan kondisi saya. Sayang, Dokter GWK hari itu baru visite malam hari. Melalui perawat Dokter GWK menyampaikan bahwa saya sudah boleh pulang atau kalau mau juga boleh menunggu dokter visite dulu malam harinya. Mempertimbangkan biaya rawat inap lagi, kami memutuskan untuk pulang. Saya lalu dijadwalkan untuk kontrol ke Dokter GWK hari Kamis seminggu lagi. Saya lalu pulang, total biaya yang saya bayar hari itu adalah sekitar 17,5 juta.

Nah, ketika tiba dirumah inilah saya ceroboh. Saya mengabaikan kata istri serta ibu saya agar saya istirahat dulu. Saya memang tidak merasakan keluhan apa-apa lagi sehingga saya pun langsung beraktivitas seperti biasa, menyapu, menyiram tanaman, menggendong anak, dll. Saya bahkan sempat mau langsung mengajar di Stikom Bali, untungnya saya batalkan.

Jumat, 9 Desember 2011

Mulai pagi, kencing saya keluar berwarna merah. Kencing-kencing selanjutnya semakin parah, bercampur gumpalan-gumpalan darah. Saya sempat mengira ini mungkin wajar karena sehabis operasi, apalagi saya tidak merasakan sakit apa-apa, hanya agak ngeri melihat kencing bercampur darah. Sore harinya, istri saya mencoba menelepon Dokter GWK dan menyampaikan kondisi saya. Dokter langsung mengatakan bahwa saya harus kontrol malam itu juga. Saya pun mulai khawatir, itu artinya kondisi saya itu tidak wajar.

Malamnya saya langsung kontrol ke Dokter GWK yang malam itu praktek di RS Surya Husada, walaupun mendapat giliran paling terakhir. Setelah bertemu Dokter GWK, katanya darah itu kemungkinan disebabkan oleh selang di dalam tubuh saya atau karena saya banyak aktivitas pacsa operasi. Saya lalu di USG lagi dan hasilnya beruntung tidak ada gumpalan darah sehingga selang tidak perlu diangkat malam itu. Seharusnya selang itu baru diangkat setelah bengkak pada ginjal saya kempes. Hasil USG juga menunjukkan bahwa batu di saluran kencing saya sudah hilang, namun masih ada batu kecil di ginjal saya. Ginjal saya juga masih bengkak. Dokter lalu memberikan obat untuk menghentikan pendarahan dan menyarankan agar saya istirahat total dulu selama beberapa hari. Jika tidak ada keluhan apa-apa lagi, hari Selasa 4 hari lagi selang saya akan diangkat.

Sabtu, 10 Desember 2011

Kencing pertama pagi hari masih ada sedikit darah, namun selanjutnya tidak ada darah lagi. Saya mulai tenang, tapi saya benar-benar istirahat dirumah. Saya lebih banyak tiduran saja, keluar kamar untuk makan, kencing dan mandi. Selama 4 hari hanya itu saja aktivitas saya dirumah. Saya bahkan tidak berani menggendong anak saya.

Selasa, 13 Desember 2011

Tiba juga saatnya untuk mengangkat selang dalam tubuh saya. Setelah menelepon Dokter GWK untuk memastikan, pukul 18.30 saya sudah tiba di RS BaliMed dan langsung masuk UGD untuk persiapan proses mengangkat selang. Saya menunggu cukup lama, sampai pukul 21.45 barulah akhirnya tindakan pengangkatan selang itu dilakukan. Sebenarnya tidak lama, hanya sekitar 3 menit. Selang kecil sepanjang sekitar 30 cm itu dikeluarkan dari tubuh saya, melalui penis. Tidak terlalu sakit karena saya sudah dibius lokal pada penis. Terasa sakit sedikit saja dan agak geli. Saya lalu pulang dan membayar di RS BaliMed sekitar 3 juta. Saya tidak rawat inap lagi dan sudah bisa berjalan seperti biasa langsung setelah itu.

Rabu, 14 Desember 2011

Saya kembali istirahat total di rumah dan memastikan tidak ada pendarahan lagi karena besok Kamis rencananya saya kembali bekerja.

Kamis, 15 Desember 2011

Saya ke kampus untuk bekerja mengendarai motor matic milik istri, jarak dari rumah sekitar 27 km. Sampai siang semuanya berjalan normal walaupun saya masih agak khawatir. Ruangan saya ada di lantai 2 dan toiletnya di lantai 1. Ketika kencing yang ketiga kalinya, mulai ada darah lagi walaupun sedikit. Lalu saya segera pulang untuk istirahat. Sore harinya masih ada darah namun sedikit, saya lalu memaksakan diri untuk mengajar ke Stikom Bali karena minggu lalu saya sudah tidak mengajar. Tapi saya diantar oleh istri saya naik mobil mertua.

Sepulang mengajar kondisi saya semakin buruk, urine bercampur darah semakin banyak dan ada gumpalan-gumpalan darah seperti minggu lalu. Saya benar-benar khawatir. Keadaan diperparah dengan istri saya yang juga ikut sakit, dia pusing dan mual sampai tidak berani melek. Malam sekitar pukul 20.00 saya memberanikan diri untuk menelepon Dokter GWK. Oleh Dokter saya kembali disuruh istirahat dan minum banyak air. Saya lalu disuruh membeli obat Calnex di apotik. Saya lalu diantar ke apotik oleh kakak saya lalu saya konsultasi dulu dengan dokter umum untuk memastikan nama obat yang saya beli.

Setelah meminum obat itu, kondisi saya membaik. Sekitar 1 jam kemudian pendarahan saya berhenti, tidak ada darah lagi pada air kencing saya. Kondisi istri saya juga membaik setelah diajak ke dokter oleh mertua saya. Sementara anak saya sempat “diungsikan” ke rumah kakak saya. Sekitar pukul 22.00 anak saya diajak kembali ke rumah karena dia sudah tertidur. Keadaan pun sudah tenang.

Jumat, 16 Desember 2011

Saya memutuskan untuk tidak ke kampus walaupun tidak ada surat keterangan sakit dari Dokter. Saya kembali istirahat penuh di rumah.

Sabtu, 17 Desember 2011

Saya memberanikan diri untuk mengajar ke Stikom Bali karena minggu lalu untuk kelas ini saya sudah tidak masuk. Dengan perasaan agak khawatir pendarahan lagi saya mencoba mengajar seperti biasa. Untunglah semua berjalan lancar dan tidak ada pendarahan lagi.

Senin, 19 Desember 2011

Saya mencoba lagi masuk ke kampus dengan mengendarai sepeda motor. Dan syukurlah semua berjalan lancar, tidak ada keluhan atau pun pendarahan lagi.

Selasa, 20 Desember 2011

Hari Selasa malam saya datang kontrol lagi ke Dokter GWK untuk mengetahui kondisi saya. Awalnya saya berpikir batu di ginjal saya mungkin masih ada dan mungkin saja saya akan disuruh menjalani ESWL sekali lagi. Dan ternyata setelah di USG langsung oleh dokter GWK, hasilnya membuat saya lega. Kata Dokter GWK ginjal saya sudah tidak bengkak lagi dan batunya pun sudah tidak ada lagi. Saya sudah sembuh total.

Ketika di periksa kali ini saya sempat ngobrol lebih lama dengan Dokter GWK, mungkin karena saya pasien terakhir malam itu. Awalnya Dokter GWK menanyakan saya bekerja dimana dan lulusan mana. Saya bilang saya dosen komputer di STP Nusa Dua Bali dan lulusan ITATS, Surabaya. Dokter GWK ternyata juga lulusan Surabaya, di Universitas Airlangga. Dia juga sempat menjadi ketua organisasi Swastika disana. Wah ternyata sama-sama sempat jadi arek Suroboyo.

Dokter GWK juga mengatakan bahwa batu di ginjal itu tidak dijamin akan hilang selamanya karena itu merupakan sisa metabolisme tubuh kita. Dokter GWK memberikan beberapa tips kepada saya untuk mencegah batu itu tumbuh lagi. Tipsnya adalah :

  1. Minum air putih minimal 3 liter per hari, kalau bisa sampai 4 liter
  2. Banyak olahraga terutama lari, kalau bisa minimal 3 kali seminggu
  3. Hindari makan daging (kambing, babi, sapi) dan juga jeroan
  4. Hindari makan ikan laut, kalau terpaksa kurangi garamnya
  5. Hindari makan kacang-kacangan

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk saya lakukan. Dokter GWK juga meresepkan obat herbal untuk batu ginjal. Malam itu saya pulang dengan perasaan sangat lega karena saya merasa sudah sehat kembali. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Dokter GWK.

Rabu, 21 Desember 2011

Saya sudah bisa main bulutangkis lagi… horee.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.