Makna Hari Sugihan Jawa dan Bali

Makna hari Sugihan baik itu Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali sebaiknya kita ketahui. Hari Sugihan merupakan rangkaian dalam hari Raya Galungan dan Kuningan. Hari Sugihan Jawa jatuh pada hari Kamis wuku Sungsang, yaitu 6 hari sebelum hari raya Galungan yang dirayakan pada hari Rabu wuku Dungulan. Sedangkan hari Sugihan Bali adalah sehari setelah Sugihan Jawa yaitu hari Jumat, 5 hari sebelum Galungan.

Hari Sugihan Jawa dan Bali memiliki makna yang sangat penting dan dirayakan oleh umat Hindu khususnya di Bali dalam rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Umat Hindu di Bali biasanya sudah mulai sibuk dan menghaturkan banten / sesajen pada hari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Bahkan bisa dikatakan pada hari Sugihan ini suasana Galungan sudah benar-benar terasa.

Makna hari Sugihan Jawa adalah pembersihan dan penyucian Bhuana Agung (makrokosmos), lingkungan dan alam semesta. Sugihan berasal dari kata “sugi” yang berarti membersihkan. Sedangkan Jawa diartikan jaba (luar) sehingga Sugihan Jawa memiliki makna pembersihan di luar diri (Bhuana Agung). Umat Hindu di Bali biasanya melaksanakn ritual menghaturkan banten dan sesajen Sugihan sesuai dengan adat dan tradisi di daerah masing-masing serta melakukan persembahyangan mulai dari sanggah / merajan di rumah dan tempat suci lainnya.

Sedangkan makna Sugihan Bali adalah pembersihan / penyucian diri yaitu Bhuana Alit (mikrokosmos), hati dan pikiran sebelum menyambut hari raya Galungan dirayakan sebagai hari Kemenangan Dharma melawan Adharma. Pada hari Sugihan Bali ini umat Hindu di Bali juga melakukan ritual sesuai tradisi di daerah masing-masing, memohon penglukatan dan pembersihan diri.

Itulah makna hari Sugihan Jawa dan Bali yang dilaksanakan dalam rangkaian menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pelaksanaan oleh masing-masing umat Hindu bisa saja terlihat berbeda namun memiliki makna yang sama. Semoga bermanfaat, jika ada kekeliruan mohon dikoreksi pada kolom komentar.

Makna Hari Raya Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag

Hari raya tumpek Wariga biasa disebut juga tumpek uduh, tumpek bubuh (bubur), tumpek pengatag / pengarah. Makna hari raya tumpek wariga ini sangat erat kaitannya dengan hari raya Galungan. Sebelum membahas makna hari raya tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag, perlu diketahui bahwa hari raya tumpek ini jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, Wuku Wariga. Tumpek merupakan hari raya yang berdasarkan wuku (1 wuku = 7 hari, jadi seminggu dimulai dari hari Minggu). Tumpek Wariga dilaksanakan tepat 25 hari sebelum hari raya Galungan (yang juga berdasarkan Wuku), dimana hari raya Tumpek Wariga ini memiliki makna dan kaitan yang erat dengan hari raya Galungan.

Makna hari raya Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag adalah sebagai ungkapan terima kasih umat manusia terhadap alam khususnya berbagai tanaman dan tumbuhan yang telah memberikan limpahan kenikmatan kehidupan. Umat Hindu di Bali sejak dulu sangat menghargai dan mencintai alam, dan kecintaan pada alam ini dituangkan dalam berbagai bentuk termasuk dalam hari raya Tumpek Wariga.

Dalam pelaksanaannya, Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag ini, umat Hindu di Bali akan membuat upacara dan sesajen khusus dan melakukan persembahyangan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Sangkara yang memelihara semua tanaman / pepohonan yang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Salah satu ciri khas dari sesajen ini biasanya disertai dengan Bubuh (bubur), makanya sering disebut Tumpek Bubuh. Ada doa / kalimat unik yang biasanya diucapkan di tanaman / pepohonan (biasanya pohon buah) yaitu kurang lebih seperti ini : “Kaki-kaki, buin selae (25) dina Galunganne, mebuah ja apang nged”. Artinya kurang lebih, Kakek, 25 hari lagi Galungan, berbuahlah yang banyak.

Pada intinya, makna hari Raya Tumpek Wariga, umat manusia kembali mengingat dan mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah menciptakan lingkungan termasuk tanaman dan tumbuhan.

Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak

Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang berlokasi di Taman Sari, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Tempat suci ini adalah sebuah pura tetapi oleh pengelola tidak disebut dengan kata Pura melainkan Parahyangan yang dalam bahasa Sunda berarti tempat suci, jadi maknanya sama tetapi beda penyebutan saja.

Nama lengkap tempat ini adalah Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak tapi bisa disingkat dengan Parahyangan Gunung Salak. Oleh umat Hindu di Bali mungkin tidak sedikit yang menyebut dengan Pura Gunung Salak. Jika dicari di Google Map mungkin tidak akan ditemukan Pura Gunung Salak, karena yang ada adalah Parahyangan Gunung Salak.

Untuk umat Hindu yang ingin tangkil ke Parahyangan Gunung Salak, khususnya yang dari luar daerah seperti dari Bali, bisa menggunakan pesawat udara menuju Jakarta. Dari Jakarta menuju Bogor menggunakan kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dalam kondisi lancar. Akses jalan menuju Parahyangan Gunung Salak khususnya setelah tiba di Bogor sudah bagus, jalan beton/aspal namun tidak terlalu lebar, jadi jika menggunakan bus besar harus agak pelan saat berpapasan.

Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak ini terletak di lereng Gunung Salak, Bogor. Jalan menuju kesana tentu saja terus menanjak namun tidak terlalu curam. Kondisi cuaca juga biasanya bagus, agak dingin namun tidak terlalu ekstrem, jika cerah kita masih bisa tanpa jaket.

Menurut informasi dari Bapak Wayan Suastika dalam Darma Wecana yang disampaikannya, Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak ini mulai dirintis tahun 1985. Karya Ngenteg Linggih telah dilaksanakan pada tahun 2005 yang lalu. Sedangkan Pujawali di Parahyangan Gunung Salak adalah pada Purnamaning Ketiga, yaitu sekitar bulan September.

Pengelola Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak ada 2 yaitu : Pengelola dan Pengempon. Pengelolanya adalah Yayasan Giri Taman Sari yang dipimpin oleh Letjen Wayan Medio. Sedangkan Pengempon sehari-hari dipimpin oleh Prof. Nengah Suratijaya. Parahyangan Gunung Salak diemong oleh 21 banjar dari 3 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat. Setiap pujawali akan dilaksanakan oleh salah satu banjar dan dibantu oleh seluruh banjar lainnya. Di tahun 2019 yaitu bulan September, pujawali akan dilaksanakan oleh Banjar Bekasi.

Suasana di Parahyangan Gunung Salak sangat tenang, agung dan tentram. Pengelola Parahyangan juga sangat memperhatikan kesucian tempat ini. Sebagai contoh, umat yang ingin sembahyang diminta meletakkan alas kaki di tempat yang sudah disediakan di depan area wantilan. Jadi selama di areal Parahyangan kita tidak menggunakan alas kaki. Handphone dan alat komunikasi juga wajib dinonaktifkan selama berada di Utamaning Mandala, khususnya suara agar tidak mengganggu keheningan saat sembahyang.

Demikianlah informasi mengenai Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak, mohom koreksi jika ada yang kurang tepat. Semoga bermanfaat.

Tradisi Megebagan Orang Meninggal di Bali

Bali memiliki banyak keunikan, salah satunya yaitu tradisi megebagan pada saat ada orang Bali (warga) yang meninggal. Bali merupakan salah satu obyek wisata di Indonesia yang memiliki banyak tradisi dan budaya tentunya dengan nuansa Hindu Bali. Nuansa gotong royong di Bali masih sangat kental khususnya melalui organisasi adat yang disebut Banjar. Banjar merupakan sebuah organisasi sosial yang berada dibawah naungan sebuah Desa Adat. Melalui organisasi Banjar inilah warga Bali melakukan kegiatan Suka-Duka.

Salah satu kegiatan yang melibatkan warga banjar adalah ketika ada warga yang berduka yaitu meninggal dunia. Banyak prosesi dan tradisi yang mengiringinya dimana salah satunya adalah tradisi megebagan. Megebagan ini adalah kegiatan dimana warga banjar akan mendatangi rumah warga yang berduka dan ikut menunggui keluarga yang berduka di malam hari, pada umumnya dari sore hingga menjelang pagi.

Tradisi megebagan di Bali ini dilandasi oleh rasa saling menyayangi diantara warga, sekaligus menunjukkan rasa belasungkawa secara nyata bagi keluarga yang berduka. Konon, jaman dulu pada awalnya tradisi megebagan di Bali ini ada karena pada waktu ini jumlah penduduk di Bali belum sebanyak ini, dan juga kondisi belum ada listrik/lampu penerangan yang memadai sehingga ketika ada warga yang meninggal maka warga lainnya akan ikut menunggui di rumah duka. Tentu faktor utamanya bukan karena kesepian dan rasa takut, tapi keinginan untuk berusaha agar keluarga yang ditinggalkan tidak terlalu larut dalam duka dan tidak merasa sendirian.

Kini setelah kondisi di Bali jauh berbeda dimana penduduk sudah banyak dan juga lampu terang benderang 24 jam, tradisi megebagan di Bali tetap dijalankan. Hal ini dikarenakan tradisi ini masih tetap diperlukan sebagai bentuk persatuan antar warga Banjar. Walaupun pelaksanaannya di setiap banjar juga Desa Adat tidak selalu sama. Di sebuah banjar biasanya memiliki bagian lagi yang disebut Tempekan. Ada banjar yang hanya mendatangkan warga tempekan saja ketika megebagan (karena jumlahnya sudah cukup banyak) dan ada juga yang mendatangkan warga banjar. Begitu pula mengenai waktu megebagan, ada yang menyepakati adalah 3 hari saja yaitu mulai H-2 upacara penguburan / ngaben, ada juga yang lebih lama. Semuanya melalui kesepakatan antar warga banjar yang dituangkan melalui awig / perarem.

Semoga saja tradisi megebagan di Bali ini tetap ajeg dan lestari dan juga tradisi-tradisi yang sangat unik dan baik lainnya.

Latar Belakang Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2018

Latar belakang pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali pada Pilkada tahun 2018 ini sebaiknya diketahui oleh para calon pemilih sebelum memutuskan untuk memberikan suara kepada salah satu calon. Jangan hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui latar belakang serta visi-misi dan program kerja yang ditawarkan. Dua pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali sudah diumumkan yaitu Wayan Koster – Cok Ace, dan pasangan lainnya yaitu Rai Mantra – Sudikerta. Bagaimanakah latar belakang keempat orang tersebut?

Read More