Kata Bahasa Bali Yang Jarang Digunakan

Bahasa Bali sebenarnya masih merupakan bahasa Ibu dan digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Bali, bahkan di daerah perkotaan. Akan tetapi kosakata yang digunakan mungkin sudah mengalami perubahan. Banyak kata-kata yang sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena bahasa Bali yang digunakan sehari-hari sudah bercampur dengan bahasa Indonesia.

Ada banyak kata yang sudah jarang digunakan, misalnya contoh beberapa bagian dari rumah dan sekitarnya seperti teba (lahan kosong di belakang rumah), carik (sawah) dan lainnya. Kata-kata ini mulai jarang digunakan mungkin karena tempatnya yang memang sudah mulai jarang ada.

Baca Juga :

Contoh lain kata bahasa Bali yang mulai jarang digunakan misalnya paon (dapur), meten (kamar), bale (rumah/bangunan), jelanan (pintu) dan lainnya. Untuk contoh kata-kata ini mulai jarang digunakan karena lebih sering disebut menggunakan bahasa Indonesia. Contoh lain juga seperti peralatan dapur misalnya lumur (gelas), sidu (sendok makan), siut (alat untuk mengaduk saat menanak nasi), payuk (panci), nyakan (memasak) dan lainnya. Belum lagi karena istilah untuk peralatan dapur ini dalam bahasa Bali di tiap daerah sangat bervariasi.

Berikut ini rangkuman beberapa kata dalam Bahasa Bali yang sudah / mungkin mulai jarang digunakan saat ini khususnya di dareah perkotaan.

Ampik (semacam lemari tempat menyimpan makanan di dapur)
Bale (kamar/ bangunan)
Carik (sawah)
Cekot (sendok makan)
Cedok (gayung)
Clekotokan / polo (otak)
Colok (korek api)
Damar / sentir (lampu tradisional)
Dampar (bangku panjang)
Galar (bagian alas pada dipan yang umumnya terbuat dari bilah bambu)
Genjo (baskom)
Jelanan (pintu)
Kayeh / manjus (mandi)
Kabak / mekabakan (pacar / pacaran)
Kekeb (penutup makanan terbuat dari tanah)
Klambi (baju)
Langgatan (plafon)
Leneng (beton tempat duduk di depan pintu gerbang rumah)
Lud / dakin talenan (kotoran talenan)
Lumur (gelas)
Mekemuh (berkumur)
Mekilad (Membersihkan sisa BAB di pantat)
Mekoratan (BAB)
Melalung (telanjang)
Nyakan (memasak)
Odak / boreh (lulur)
Paciringan (toilet)
Payuk (panci)
Puun (terbakar)
Semprong (boneka bayi)
Sereg (kunci)
Sidu (sendok)
Siut (alat mengaduk saat menanak nasi)
Taban (dipan)
Teba (lahan kosong di belakang rumah)
Ubuan / ubuhan (peliharaan)

Itulah beberapa kata Bahasa Bali yang mulai jarang digunakan. Ada tambahan? Silahkan dikomentari.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *