Istri Saya Kena Cacar Air

Tinggi sebuah pohon berbanding lurus dengan besarnya angin yang menerpa. Artinya semakin besar dan tinggi pohon tersebut, semakin besar dan kuat pula angin yang akan menerpanya. Kurang lebih begitulah hal yang saya alami saat ini. Saya menganggap ini adalah cobaan pertama yang saya hadapi setelah kelahiran buah hati saya. Saya sebelumnya memang sempat takut karena selama ini Tuhan begitu baik pada saya, kebahagiaan hampir selalu menemani saya, sementara saya belum bisa menjadi orang sempurna, terkadang saya berbuat salah juga walaupun setelah itu saya menyesalinya.

Dan saya sempat berpikir, suatu saat nasib buruk tentu akan pernah menimpa saya, terlebih setelah putri kecil saya lahir, saya menjadi semakin waspada, kapankah saya akan menerima karma atas perbuatan salah saya. Saya selalu berdoa semoga putri kecil saya sehat selalu bersama semua orang yang saya cintai.

Hari minggu kemarin, 13 hari setelah putri saya lahir, cobaan itu akhirnya datang juga. Istri saya terkena cacar air, entah darimana dia tertular. Saya tentu sedih begitu pula istri saya. Namun kami tetap bersyukur karena yang sakit bukan putri saya. Tetapi, rasa cemas tentu semakin menjadi karena saya takut putri kecil saya tertular. Kasihan, dia baru berumur beberapa hari.

Kini saya hanya bisa berdoa, semoga istri saya lekas sembuh dan semoga putri saya tidak sampai tertular. Sejak dipastikan menderita cacar air oleh dokter (dokter umum), saya sudah memisahkan putri saya dengan ibunya. Tetapi saya tetap cemas. Hari ini istri saya sudah ke dokter spesialis kulit untuk menanyakan lebih detil tentang apa yang sebaiknya kami lakukan.

Ya Tuhan, berikanlah kami kekuatan sehingga bisa melewati cobaan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.