Selamat Jalan Cecep

Cecep sudah siap dibawa pergi oleh pemilik barunya. Selamat jalan Cep..

Cecep, sebuah sepeda motor Yamaha Vixion tahun 2008 yang saya beli pada bulan April tahun 2010 kini telah pensiun dari tugasnya menemani saya sehari-hari. Setelah lebih dari dua tahun menjalankan tugasnya sebagai kuda besi saya, kini saya telah memantapkan pikiran untuk melego Cecep kepada orang lain yang lebih membutuhkan jasanya. Dulu, ketika membelinya dari pemilik sebelumnya di Jl. Gunung AgungĀ  Denpasar, alasan saya adalah karena saya membutuhkan sebuah sepeda motor yang lebih bertenaga untuk menempuh jarak 54 KM (PP) setiap hari kerja.

Kalau boleh memberi kesan selama menggunakan Yamaha Vixion, saya merasa sangat amat puas. Dari segi penampilan jelas Yamaha Vixion khususnya selama ini merupakan motor dengan penampilan paling keren di kelasnya. Mungkin hanya sedikit kalah gagah dari adiknya yaitu Yamaha Byson (yang keluar beberapa bulan setelah saya meminang Cecep). Tapi tak apalah, toh sebenarnya Vixon beda segmen dengan Byson.

Dari segi power mesin, di kelasnya Cecep juga termasuk paling bagus. Mungkin memang kalah dengan motor macam Honda CBR 150 namun kalau dilihat dari harga motor yang selisih lebih dari 10 juta, tentu saja saya ndak salah memilih Vixion. Teknologi mesin Vixion di jamannya juga termasuk paling canggih dimana sudah menggunakan Fuel Injection (bukan karburator) yang membuat penggunaan bahan bakar jauh lebih irit. Bahkan dibanding adiknya yaitu Yamaha Byson (karburator), konon mesin Vixion yang sama-sama SOHC tetap lebih unggul baik dari segi teknologi maupun power.

Urusan perawatan juga sangat gampang dan relatif murah dibanding merk lain. Saya cukup mengganti oli mesin dan service setiap 2000 KM dengan biaya yang sangat terjangku untuk ukuran motor batangan. Tidak lupa mengganti filter oli dan air radiator setiap 9000 KM. Saya juga sempat mengganti kampas rem depan dan belakang, tali kopling serta gir dan rantai. Semua biayanya menurut saya sangat terjangkau.

Pokoknya, selama lebih dari dua tahun bersama Cecep, saya puas, bahkan sangat puas. Apalagi ketika dijual lagi, harganya relatif stabil, selisihnya tidak sampai 2 juta dari harga ketika saya beli dulu. Lalu, apa penyebab saya akhirnya memutuskan untuk menjual Cecep?

Pertama, umur. Ya, bagaimana pun juga sebuah sepeda motor adalah barang yang akan renta dimakan waktu. Menurut saya dan seperti informasi yang banyak saya baca, “usia produktif” sebuah sepeda motor khususnya produksi Jepang seperti Yamaha, Honda, Suzuki dan lainnya adalah 5 tahun. Usia Cecep saat ini hampir 4,5 tahun, walaupun perfomanya tidak berubah dan hanya beberap part yang diganti, tapi saya rasa ini saat yang tepat untuk menjualnya. Mumpung harganya masih stabil dan juga belum sampai merepotkan dengan perawatan yang membutuhkan biaya lebih.

Kedua, kondisi lalu lintas. Kondisi lalu lintas di jalanan yang saya lewati sekarang ini sudah semakin parah, hampir mustahil pulang pergi ke kantor tanpa bertemu dengan yang namanya macet. Apalagi dengan proyek pembangunan underpass di Simpang Dewa Ruci (simpang siur) membuat kondisi jalan semakin tidak ramah. Memang mungkin macet disana hanya sementara, tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya sangat jarang saya bisa membawa Cecep dengan kecepatan diatas 100 km/jam. Artinya, dari segi kecepatan sama saja dengan jika menggunakan skutik semacam Vario. Memang sih tetap lebih enak naik motor laki ketimbang matic.

Ketiga, tipe motor. Yamaha Vixion memang memiliki segala macam keunggulan yang membuat saya puas. Tapi ada satu kelemahan yang dimiliki Cecep dan juga motor sejenis lainnya yaitu ketika musim hujan tiba. Menjadi agak ribet menggunakan Cecep / Yamaha Vixion dan motor sejenis lainnya jika hujan walaupun sudah menggunakan jas hujan. Kalau pun menggunakan jas hujan model baju dan celana, tetap saja sepatu akan basah. Dan kalau musim hujan sudah tiba, kalau pakai motor yang paling enak adalah tipe skutik (skuter matic).

Itulah beberapa alasan saya menjual Cecep. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Yamaha Indonesia yang sudah membuat sepeda motorĀ  yang bagus seperti Yamaha Vixion. Lalu sekarang diganti apa? Sementara saya belum membeli pengganti Cecep. Sekarang sehari-hari saya menggunakan sepeda motor skutik Honda Vario yang sebelumnya digunakan oleh istri. Kebetulan sekarang istri saya sekarang sehari-hari sudah menggunakan mobil city car yang kami beli dengan meminjam sebagian uang di mertua.

Untuk pengganti motor Yamaha Vixion saya, sementara ini saya belum menjatuhkan pilihan. Apakah akan seterusnya menggunakan skutik atau kembali menggunakan motor batangan karena kebetulan saat ini ada dua motor sekelas Yamaha Vixion yang baru keluar yaitu Yamaha New Vixion 2013 dan Honda CB150R Streetfire. Harga pastinya memang belum keluar, namun menurut prediksi harganya sekitar 20-25 jutaan. Ya, memang jauh dari budget saya, tapi kalau mau merogoh kantong lebih dalam sepertinya masih masuk akal bagi saya. Tapi ah, itu masih khayalan, sementara saya nikmati dulu naik skutik.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

10 thoughts on “Selamat Jalan Cecep

  1. Saya masih setia dengan si Biru Beracun. Tahun depan, resmi sudah dia sepuluh tahun menemani perjalanan. Btw, tidak ada keinginan untuk menjatuhkan pilihan pada roda empat bli? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *