Selamat Jalan Bejo

Setelah Cecep datang untuk menemani saya, otomatis Bejo tersingkir. Saya sebenarnya sedih dan merasa berat untuk melepas Bejo. Sama beratnya ketika dulu saya terpaksa menjual Kereta Senja (sebutan teman-teman SMA untuk Honda Prima tahun 1989 milik saya) saya di tahun 2005 karena perlu uang muka untuk mendatangkan Bejo dari dealer Yamaha. Kereta Senja itu sudah saya gunakan sejak kelas 3 SMP hingga saya lulus kuliah tahun 2005 di Surabaya. Kereta Senja itu sudah berkali-kali menerjang banjir di seputaran Semolo dari Rungkut menuju kampus ITATS.

Kereta Senja, dengan pede nampang di depan kos di Surabaya… (tahun 2001/2002)

Kini giliran Bejo yang harus angkat kaki, Bejo sudah hampir 5 tahun selalu setia menemani saya. Bejo belum pernah mencelakakan atau pun merepotkan saya kecuali ketika beberapa kali ban belakangnya kempos dalam perjalanan, untungnya ketika itu kejadiannya selalu tidak jauh dari tempat tambal ban (kadang curiga, jangan-jangan itu tukang tambal ban yang nyebarin paku, hehe).

Bejo ketika baru datang dari Dealer..

Dulu Bejo di beli oleh ayah saya dengan kredit selama 2 tahun, sebagian besar kredit dibayar oleh ayah saya, kecuali beberapa bulan terakhir baru bisa saya bantu dengan menyisihkan uang dari gaji saya. Dua tahun kemudian barulah Bejo benar-benar lunas. Walaupun demikian Bejo sudah sehati dengan saya, hingga dia tak pernah merepotkan saya. Termasuk ketika pernah saya terlambat ganti oli tapi Bejo tetap tangguh. Begitu pula ketika musim hujan dan Bejo harus rela jarang tampil kinclong tapi perfomanya tetap yahud.

Tapi sekarang, mengingat jarak tempat bekerja yang cukup jauh Bejo terpaksa saya carikan pengganti. Sebenarnya jarak 54 km per hari tidak ada masalah bagi Bejo, buktinya sudah 1 tahun lebih Bejo setia menemani saya dari rumah ke kampus STP Nusa Dua Bali dan kembali ke rumah lagi. Tapi saya ingin motor yang lebih bertenaga, kasihan Bejo kalau harus bertahun-tahun seperti itu.

Satu hal lagi yang membuat saya begitu menyukai Bejo, dia sangat irit bahan bakar. Bahkan kakak saya yang pernah membawa bekerja heran dengan iritnya dibanding motor bebek pabrikan sebelah yang sudah ngetop itu. Cuma kalau top speed-nya ya cuma 100 km/jam, ya maklumlah Bejo kan cuma 110 cc, jangan dibandingkan dengan motor bebek 125 cc. Begitu juga dengan penampilan, desain Bejo sangat sempurna bagi saya di kelas motor bebek. Walaupun kini adik-adiknya Bejo yang terbaru tampil agak norak bagi saya.

Saat ini Bejo masih parkir di rumah saya dalam kondisi sudah siap untuk dijual. Hari Sabtu kemarin saya bawa dia ke bengkel untuk di service dan ganti oli yang terakhir kalinya, dan kemarin saya putuskan untuk mencucinya sendiri di rumah. Hitung-hitung sebagai salam perpisahan saya dengannya.

Dan sebelum Bejo benar-benar pergi, “terima kasih atas semua jasamu Jo, selamat jalan…”

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

17 thoughts on “Selamat Jalan Bejo

  1. kok terasa sedih ya mas… walaupun dia tidak punya perasaan, tapi kalau kita udah sayang ama dia, rasanya sangats edih harus berpisah dengannya… dulu gw jg pernah alami hal serupa..
    .-= elmoudy´s last blog ..Mbah Priuk =-.

  2. banyak orang yg sudah sukses dan istilah orang jawa pasti barang riwayat, nisalakan sepeda honda gran th 95. walau sudah punya 7 mobil, dia masih sayang sama grand ya…..

    hatinya tak mau lepas dari kendaraan pertana yg membawa dia sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *