Rapat SBMSTAPP 2017 di Poltekpar Palembang

Perjalanan dinas saya kali ini adalah untuk menghadiri Rapat SBMSTAPP 2017 di Poltekpar Palembang yaitu tanggal 10 – 13 April 2017, dimana acara rapat diadakan pada tanggal 11-12 April 2017. Kegiatan rapat ini masih merupakan lanjutan kegiatan SBMSTAPP 2017 dengan agenda utama rapat yaitu evaluasi proses pendaftaran dan persiapan pelaksanaan ujian seleksi. Saya hadir rapat menemani atasan saya yaitu Ketua STPNB dan Kabag Adak, tetapi bapak Ketua berangkat dari Jakarta, sedangkan saya dan Kabag Adak berangkat dari Bali.

Kami berangkat hari Senin, 10 April 2017 pukul 12.30 menggunakan Garuda Indonesia dengan penerbangan langsung dari Bali ke Palembang. Saat check in sehari sebelumnya via aplikasi mobile Garuda Indonesia, saya agak kaget melihat posisi tempat duduk yang hanya 4 di tiap barisnya. Saya pikir berarti kami menggunakan pesawat udara tipe ATR (itu lho yang kelihatan baling-baling di kiri dan kanan sayapnya). Tapi ternyata pesawat yang kami tumpangi adalah tipe CRJ1000 NEXTGEN, ini pertama kalinya saya menumpangi pesawat tipe ini. Secara fisik pesawat ini tidak kelihatan baling-baling di kiri-kanan sayapnya, akan tetapi ukurannya mirip yang tipe ATR, hanya saja kayaknya lebih panjang.

Penerbangan dari Bali ke Palembang kami tempuh dalam waktu 2 jam. Sepanjang penerbangan saya merasa cukup nyaman, hanya ada goncangan beberapa saat sebelum pilot mengumumkan kita akan landing. Sebenarnya goncangannya cukup keras bagi saya walau hanya beberapa detik. Tapi mungkin karena saya duduk di depan sekali rasanya cukup nyaman.

Kami pun mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Turun dari pesawat kami naik bus menuju gedung kedatangan. Gedungnya lumayan besar, tetapi saya tidak sempat melihat seberapa besar dan luasnya, tapi yang jelas bandara ini sangat luas, terlihat dari landasan pacu ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, rasanya baru setengah saja yang digunakan. Kami kemudian dijemput oleh pihak kampus Poltekpar Palembang dan diantar ke hotel tempat kami menginap di hotel Novotel (bintang 4).

Tentang hotel, ya namanya hotel bintang 4 rasanya tentu sangat nyaman, kamarnya luas dan fasilitas di dalam kamar yang sangat lengkap bagi saya, mulai dari TV, sofa, lemari besar, kamar mandi luas dengan bath tub, dan lainnya, pokoknya nyaman deh. Sedangkan di luar kamar sebenarnya ada banyak fasilitas seperti kolam renang yang luas, fitness dan lainnya, walau saya tidak ada waktu untuk mencoba semuanya, ya karena tujuan kami di hotel tentunya lebih banyak untuk istirahat. Malam pertama di Palembang, kami langsung dijamu makan malam di Kampung Kapitan Restaurant, tempatnya di pinggir/atas sungai Musi pas sebelah jembatan Ampera yang merupakan ikon kota Palembang.

Keesokan harinya hari Selasa kami mulai rapat, tapi sebelum ke kampus Poltekpar Palembang, kami sempat diajak menuju Museum Sriwijaya yang sekaligus merupakan situs Karanganyar. Di dalam museum kami melihat banyak benda-benda bersejarah khususnya yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya, baik yang asli maupun yang duplikat. Yang saya lihat peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berhasil ditemukan sangat erat kaitannya dengan Hindu-Buddha. Tapi sayangnya, konon hingga saat ini lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya belum ditemukan. Hal ini konon disebabkan karena sebagian besar bangunan Kerajaan Sriwijaya terbuat dari kayu.

Selanjutnya kami menuju kampus dan rapat dimulai. Secara umum rapat berjalan lancar dan dapat kami ikuti dengan baik. Sekitar pukul 17.30 waktu setempat rapat pun selesai dan kami kembali ke hotel masing-masing untuk beristirahat. Keesokan harinya yaitu hari Rabu, rapat dilanjutkan mulai pukul 9 hingga pukul 12 dan diakhiri dengan makan siang. Setelah beristirahat dan masih ada beberapa obrolan di luar rapat, pukul 14 kamipun pamitan untuk kembali ke hotel masing-masing. Kami sempat mampir untuk membeli beberapa oleh-oleh, tentunya yang wajib adalah Pempek.

Malam hari sebelum sebelum berangkat pulang keesokan harinya, kami di traktir lagi makan malam oleh Direktur Poltekpar Palembang, menunya sate yang konon paling enak di Palembang yaitu Sate Soepardi di jalan Rajawali. Pilihan daging satenya ada 2 yaitu ayam atau kambing. Selain rasanya yang enak, uniknya ukuran daging sate tusuknya besar-besar. Saya sendiri hanya bisa menghabiskan 8 tusuk sate dan itupun perut rasanya sangat penuh. Benar-benar makan besar.

Selesai makan malam, kami diantar oleh sopir yang kebetulan orang Bali, namanya pak Gede Budiono, tapi dia lahir dan besar di Palembang. Dan kebetulan sekali ayahnya seorang “pemangku” di Pura Agung Sriwijaya. Dan kebetulan sekali kemarin di Pura Agung Sriwijaya ada upacara besar yang katanya pertama kali diadakan di luar Bali yaitu karya Panca Wali Krama.

Pak Gede menawarkan kepada kami berdua untuk tangkil ke pura yang juga kebetulan tempatnya cuma 1 km di belakang hotel Novotel di tempat kami menginap. Tentu saja kami iyakan, kapan lagi ada kesempatan tangkil kesana. Kami tiba di pura sekitar pukul 10 malam, suasana tidak begitu ramai, hanya ada beberapa umat yang mekemit dan para “pemangku”.

Dalam suasana hujan rintik-rintik, kami matur sembah walau dengan pakaian celana panjang, kami dipinjamkan selendang. Selesai matur sembah, kami ngobrol dengan beberapa orang yang ada di pura. Tidak terasa kami berada di pulau Sumatera, rasanya seperti di Bali. Kami juga ketemu dengan beberapa mahasiswa yang salah satunya kebetulan Ketua KMHDI Sumatera Selatan. Jadi ingat masa kuliah di Surabaya ketika aktif di UKKH kampus.

Selesai di pura, kami pun diantar kembali ke hotel. Sebelum istirahat tidur kami berkemas karena besoknya pukul 7 kami sudah check out dan berangkat ke bandara. Dalam penerbangan kembali ke Bali kami menggunakan pesawat Garuda Indonesia tipe yang sama yaitu CRJ1000. Kami juga melihat beberapa orang berpakaian adat Hindu Bali dalam satu penerbangan dengan kami. Ketika perjalanan ke Palembang bahkan kami satu pesawat dengan rombongan Pedanda yang mungkin akan muput karya Panca Wali Krama di pura Agung Sriwijaya.

Penerbangan kami menuju Bali lancar dan sesuai jadwal, kamipun tiba di Bali dengan selamat.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *