Ngalu Untuk Nindi

Ini juga merupakan salah satu post di blog Nindi yang sayang untuk dibuang, saya salin kesini. Judul aslinya “Ngalu”. Langsung saja ya.

Hari Jumat yang lalu, yaitu 4 hari setelah kelahiran Nindi, pungsed (tali pusar) Nindi sudah kepus (putus). Jadi seperti tradisi sebelumnya orang tua Nindi harus Ngalu. Ngalu artinya pergi ke orang pintar untuk menanyakan siapakah leluhur yang numadi (ber-reinkarnasi) pada Nindi.

Hari Selasa tanggal 2 Maret 2010 Gung Kak dan Gung Nini memutuskan untuk Ngalu ke seorang jero mangku di banjar Gadon. Sore harinya sekitar jam 16.30 yang ikut Ngalu adalah Gung Kak, Gung Nini, Ajik dan Bu Gek Mirah. Hasil dari Ngalu itu ternyata yang numadi ke Nindi adalah nenek buyut Nindi, yaitu Gung Nini dari Gung Kak, atau Gung Kompyang-nya Ajik.

Konon, yang sebenarnya ingin numadi ke Nindi adalah Gung Kompyang-nya Nindi yaitu Nini-nya Ajik. Tetapi di alam sana ternyata Gung Kompyang tidak mendapatkan ijin (tidak kalugra). Kemudian yang ingin numadi adalah Gung Kompyang (laki-laki)-nya Ajik, tetapi beliau ingin numadi menjadi perempuan maka diajaklah istri beliau yaitu Gung Kompyang (perempuan)-nya Ajik. Jadi yang numadi sebenarnya adalah 2 orang.

Konon, Sang Dumadi yang perempuan dulu adalah seorang sadeg (orang suci), jadi sudah melakukan upacara dwi jati. Kemudian Ajik nanti diminta untuk melakukan upacara metebusan alit untuk Nindi di Bias Aud dan Pura Khayangan, menggunakan bebek putih. Untuk di Bias Aud metebusan dilakukan saat Purnama dan di Khayangan dilakukan saat Kajeng Kliwon. Kemudian setelah metebusan di Bias Aud, beberapa hari kemudiannya Nindi harus melukat lagi disana. Semua upacara metebusan ini dilakukan nanti saat Nindi sudah tanggal gigi, mungkin berumur sekitar 6 tahun.

Kemudian Gung Kak menanyakan tentang upacara ngerorasin (upacara 12 hari) yang akan dilakukan hari Jumat besok, apakah ada sesuatu hal tertentu yang harus dilakukan. Sang numadi kemudian hanya meminta agar Nindi menggunakan pakaian serba putih dari atas sampai bawah. Kemudian sebelum upacara ngerorasin di rumah, harus dilakukan dulu metebusan di peteluan agung (pertigaan), tapi Nindi tidak ikut kesana, cukup sesajen-nya saja yang dibawa.

Itulah hasil dari Ngalu untuk Nindi, apapun itu Nindi sekeluarga percaya asalkan semua demi kebaikan Nindi dan keluarga Nindi. Oya, mohon maaf ya kalau banyak istilah yang kurang di mengerti.

Tradisi Megebagan Orang Meninggal di Bali

Bali memiliki banyak keunikan, salah satunya yaitu tradisi megebagan pada saat ada orang Bali (warga) yang meninggal. Bali merupakan salah satu obyek wisata di Indonesia yang memiliki banyak tradisi dan budaya tentunya dengan nuansa Hindu Bali. Nuansa gotong royong di Bali masih sangat kental khususnya melalui organisasi adat yang disebut Banjar. Banjar merupakan sebuah organisasi sosial yang berada dibawah naungan sebuah Desa Adat. Melalui organisasi Banjar inilah warga Bali melakukan kegiatan Suka-Duka.

Salah satu kegiatan yang melibatkan warga banjar adalah ketika ada warga yang berduka yaitu meninggal dunia. Banyak prosesi dan tradisi yang mengiringinya dimana salah satunya adalah tradisi megebagan. Megebagan ini adalah kegiatan dimana warga banjar akan mendatangi rumah warga yang berduka dan ikut menunggui keluarga yang berduka di malam hari, pada umumnya dari sore hingga menjelang pagi.

Tradisi megebagan di Bali ini dilandasi oleh rasa saling menyayangi diantara warga, sekaligus menunjukkan rasa belasungkawa secara nyata bagi keluarga yang berduka. Konon, jaman dulu pada awalnya tradisi megebagan di Bali ini ada karena pada waktu ini jumlah penduduk di Bali belum sebanyak ini, dan juga kondisi belum ada listrik/lampu penerangan yang memadai sehingga ketika ada warga yang meninggal maka warga lainnya akan ikut menunggui di rumah duka. Tentu faktor utamanya bukan karena kesepian dan rasa takut, tapi keinginan untuk berusaha agar keluarga yang ditinggalkan tidak terlalu larut dalam duka dan tidak merasa sendirian.

Kini setelah kondisi di Bali jauh berbeda dimana penduduk sudah banyak dan juga lampu terang benderang 24 jam, tradisi megebagan di Bali tetap dijalankan. Hal ini dikarenakan tradisi ini masih tetap diperlukan sebagai bentuk persatuan antar warga Banjar. Walaupun pelaksanaannya di setiap banjar juga Desa Adat tidak selalu sama. Di sebuah banjar biasanya memiliki bagian lagi yang disebut Tempekan. Ada banjar yang hanya mendatangkan warga tempekan saja ketika megebagan (karena jumlahnya sudah cukup banyak) dan ada juga yang mendatangkan warga banjar. Begitu pula mengenai waktu megebagan, ada yang menyepakati adalah 3 hari saja yaitu mulai H-2 upacara penguburan / ngaben, ada juga yang lebih lama. Semuanya melalui kesepakatan antar warga banjar yang dituangkan melalui awig / perarem.

Semoga saja tradisi megebagan di Bali ini tetap ajeg dan lestari dan juga tradisi-tradisi yang sangat unik dan baik lainnya.

Tradisi Medelokan Penganten

Tradisi medelokan penganten adalah sebuah tradisi yang ada di desa adat Kerobokan dan mungkin ada juga di desa atau daerah lainnya di Bali. Tradisi medelokan penganten ini seperti namanya merupakan kegiatan medelokan (menengok / kondangan) ke rumah penganten baru. Kegiatan ini dilakukan oleh Sekeha Teruna-Teruni atau biasa disingkat menjadi STT. STT adalah sebuah organisasi kepemudaan yang kedudukannya biasanya di bawah sebuah Banjar. Banjar adalah sebuah organisasi adat yang berada di bawah sebuah Desa Adat. Desa Adat dan Banjar adalah organisasi adat di Bali yang bisa dikatakan sebagai nyawa kehidupan adat dan beragama di Bali. Jadi STT merupakan generasi penerus dan tulang punggung untuk mewujudkan slogan “ajeg bali” yang selama ini digaungkan oleh pemerintah dan masyarakat di Bali. Read More

Tradisi Memunjung di Hari Raya Galungan

Banten (sesajen) “sodan” atau lebih dikenal dengan “punjung” yang biasa dibawa dalam tradisi memunjung di masyarakat Hindu Bali.

Tulisan ini masih terkait dengan hari raya Galungan yang merupakan hari raya umat Hindu khususnya di Bali. Tadinya saya mau melanjutkan sedikit tulisan tentang Penjor Galungan, tetapi setelah blogwalking ke balebengong.net saya kemudian tertarik dengan salah satu tulisan Tradisi Memunjung. Saya pun ingin ikut menceritakan tentang tradisi tersebut yang terjadi di lingkungan saya, juga sebagai tambahan untuk tulisan itu.

Read More

Musim Hujan dan Rumah Model Bali

gambar : http://www.baliaround.com/balinese-house-architecture/

Musim hujan sudah datang, khususnya di Bali. Bahkan beberapa hari terakhir sudah terjadi sekian kali hujan deras yang menyebabkan banjir di beberapa tempat di daerah Denpasar dan sekitarnya. Tapi tunggu dulu, saya tidak sedang membicarakan masalah banjir. Masih tentang hujan, tapi kaitannya dengan rumah model atau ciri khas Bali.

Read More