Ibu Nindi Kena Cacar

Lanjutan cerita dari blog Nindi, tentang istri saya yang akhirnya kena cacar. Salah satu momen berat di awal-awal kelahiran Nindi.

Apa yang dikhawatirkan oleh Ajik dan Ibu pada malam hari setelah Nindi pulang dari dokter terjadi juga. Ibu kena cacar air! Besoknya, hari minggu sekitar jam 9 setelah Ajik pulang dari gotong royong, Ajik mengantar Ibu ke dokter di depan balai banjar. Dokter pun memastikan bahwa ibu kena cacar air, dari kecil Ibu memang belum pernah kena cacar.

Ibu dan Ajik tentu sedih, karena itu berarti Ibu tidak bisa menyusui dan menggendong Nindi, agar Nindi jangan sampai tertular. Kesedihan Ibu dan Ajik bertambah lagi karena semalam sebelumnya Nindi muntah sampai 3 kali, sekitar jam 3 pagi Nindi baru bisa tidur. Nindi juga belum bisa BAB (buang air besar) dari malam sebelumnya.

Hari minggu sore Nindi pun terpaksa diajak ke dokter lagi oleh Ibu dan Ajik serta Nini. Karena hari minggu, Ajik mengajak Nindi ke dokter Widia yang di jalan Nangka Utara. Ajik tahu dokter ini dari Gung Wa ajiknya Bli Gus Yoga. Kalau Bli Gus Yoga dan Bli Gus Krisna sakit, ajiknya selalu mengajak mereka ke dokter anak ini.

Di dokter anak ini Nindi diperiksa dan diberi obat mual serta vitamin (kata ibu yang tahu tentang obat). Pulang dari dokter anak, Ajik maunya sekalian mengajak Ibu ke dokter spesialis kulit untuk memeriksakan cacar pada kulit Ibu. Tetapi tidak ada satu pun dokter kulit yang buka praktek, akhirnya Nindi, Ibu dan Ajik pun pulang.

Malam harinya Ibu terpaksa tidur di bawah. Nindi tidur ditemani Ajik dan Nini (Nini di rumah). Sekitar jam 1 malam Nindi akhirnya bisa BAB, tapi setelah itu Nindi sempat muntah sekali lagi. Andaikan Nindi sudah bisa bicara, Nindi pasti bilang sama Ibu, “Ibu, cepet sembuh ya. Ibu sabar dulu deh, relakan dulu Ibu tidak bisa gendong Nindi, itu demi Nindi. Yang penting Ibu cepet sembuh biar Ibu bisa memberi Nindi ASI lagi, Nindi sayang Ibu”.

Nindi Imunasi dan Tindik Kuping

Post ini merupakan post lama di blog Nindi yang berjudul Imunisasi dan Tindik Kuping. Di akhir post ada cerita tentang istri saya yang terkena cacar, awal mula salah satu cobaan berat kami hingga sampai Nindi opname.

Hari sabtu tanggal 6 Maret 2010, Nindi diajak ke dokter anak lagi oleh Ibu dan Ajik. Hari itu waktunya Nindi imunisasi BCG, imunisasi yang wajib untuk Nindi. Sekitar jam 6 Nindi berangkat, diantar oleh Ajik, Ibu, Nini Dangin dan Bu Gek Ajung. Tiba di dokter anak, Nindi harus nunggu sebentar karena sudah ada beberapa orang bayi lainnya yang duluan tiba disana. Oya, disana Nindi juga ketemu dengan Gek Aya, anaknya Ji Rah De dan Bu Gek Eka dari jero sikaja.

Akhirnya tiba giliran Nindi untuk masuk dan di imunisasi. Lengan kanan Nindi disuntik oleh dokter di bagian kulitnya, waktu itu Nindi lagi tidur pulas dan Nindi jadi menangis sebentar karena sakit. Selesai di imunisasi, dokter menanyakan pada Ajik apakah Nindi mau ditindik hari itu. Ajik dan Ibu lalu memutuskan agar Nindi ditindik setelah tahu imunisasi BCG itu tidak menyebabkan panas pada badan Nindi.

Kuping Nindi lalu ditindik kedua-duanya oleh dokter, Nindi pun menangis lalu tapi cuma sebentar. Setelah itu Nini Dangin ternyata juga ikut tindik kuping, jadilah Nindi dan Nini barengan tindik kuping di dokter anak. Setelah itu Nindi sekeluarga pulang dengan tindik baru di kuping. Ajik dan Ibu senang dan melihat Nindi sedikit berbeda karena ada tindik di kuping Nindi, mungkin Ibu dan Ajik sekarang merasa dan melihat Nindi lebih feminim.

Oya, sampai di rumah, malemnya Ibu sepertinya mengalami cacar air. Di kulitnya tumbuh beberapa bentol seperti cacar air. Ibu lalu mengatakan hal itu pada Ajik. Ajik pun ikut khawatir tapi berusaha tetap tenang, besok paginya Ajik rencananya akan mengajak Ibu ke dokter untuk memastikan apakah Ibu kena cacar atau tidak.

Ngalu Untuk Nindi

Ini juga merupakan salah satu post di blog Nindi yang sayang untuk dibuang, saya salin kesini. Judul aslinya “Ngalu”. Langsung saja ya.

Hari Jumat yang lalu, yaitu 4 hari setelah kelahiran Nindi, pungsed (tali pusar) Nindi sudah kepus (putus). Jadi seperti tradisi sebelumnya orang tua Nindi harus Ngalu. Ngalu artinya pergi ke orang pintar untuk menanyakan siapakah leluhur yang numadi (ber-reinkarnasi) pada Nindi.

Hari Selasa tanggal 2 Maret 2010 Gung Kak dan Gung Nini memutuskan untuk Ngalu ke seorang jero mangku di banjar Gadon. Sore harinya sekitar jam 16.30 yang ikut Ngalu adalah Gung Kak, Gung Nini, Ajik dan Bu Gek Mirah. Hasil dari Ngalu itu ternyata yang numadi ke Nindi adalah nenek buyut Nindi, yaitu Gung Nini dari Gung Kak, atau Gung Kompyang-nya Ajik.

Konon, yang sebenarnya ingin numadi ke Nindi adalah Gung Kompyang-nya Nindi yaitu Nini-nya Ajik. Tetapi di alam sana ternyata Gung Kompyang tidak mendapatkan ijin (tidak kalugra). Kemudian yang ingin numadi adalah Gung Kompyang (laki-laki)-nya Ajik, tetapi beliau ingin numadi menjadi perempuan maka diajaklah istri beliau yaitu Gung Kompyang (perempuan)-nya Ajik. Jadi yang numadi sebenarnya adalah 2 orang.

Konon, Sang Dumadi yang perempuan dulu adalah seorang sadeg (orang suci), jadi sudah melakukan upacara dwi jati. Kemudian Ajik nanti diminta untuk melakukan upacara metebusan alit untuk Nindi di Bias Aud dan Pura Khayangan, menggunakan bebek putih. Untuk di Bias Aud metebusan dilakukan saat Purnama dan di Khayangan dilakukan saat Kajeng Kliwon. Kemudian setelah metebusan di Bias Aud, beberapa hari kemudiannya Nindi harus melukat lagi disana. Semua upacara metebusan ini dilakukan nanti saat Nindi sudah tanggal gigi, mungkin berumur sekitar 6 tahun.

Kemudian Gung Kak menanyakan tentang upacara ngerorasin (upacara 12 hari) yang akan dilakukan hari Jumat besok, apakah ada sesuatu hal tertentu yang harus dilakukan. Sang numadi kemudian hanya meminta agar Nindi menggunakan pakaian serba putih dari atas sampai bawah. Kemudian sebelum upacara ngerorasin di rumah, harus dilakukan dulu metebusan di peteluan agung (pertigaan), tapi Nindi tidak ikut kesana, cukup sesajen-nya saja yang dibawa.

Itulah hasil dari Ngalu untuk Nindi, apapun itu Nindi sekeluarga percaya asalkan semua demi kebaikan Nindi dan keluarga Nindi. Oya, mohon maaf ya kalau banyak istilah yang kurang di mengerti.

Malam Pertama Nindi di Rumah

Ini adalah salinan salah satu post di blog nindi.imadewira.com, judul aslinya “Malam Pertama”. Saya salin disini karena sayang kalau dibuang. Tulisan aslinya saya hapus dan juga beberapa post lainnya yang mungkin tidak terlalu penting walau sebenarnya semua berkesan. Oke, ini dia post aslinya.

Nindi tiba di rumah, 23 Februari 2010.
Hari pertama Nindi tiba di rumah adalah hari Selasa tanggal 23 Februari 2010, yaitu sehari setelah Nindi lahir. Nindi bisa pulang cepat karena kondisi Nindi dan Ibu sehat dan normal, mungkin berkat Nindi lahir dengan metode Waterbirth. Jadi tanggal 23 Februari 2010 adalah malam pertama untuk Nindi tidur di kamar bersama Ibu dan Ajik.

Nindi sekarang sekamar dengan Ibu dan Ajik, karena Nindi masih kecil sekali, kan tidak mungkin Nindi tinggal sendirian di kamar. Ibu dan Ajik tentu kurang tidur belakangan ini, dan belum bisa istirahat dengan nyaman. Jadi di malam pertama ketika tamu-tamu yang nengok Nindi sudah pulang, Ibu dan Ajik pun ngantuk berat. Mereka berusaha menidurkan Nindi, sementara Nindi belum ingin bobo. Maklumlah, Nindi baru berumur beberapa hari dan jam biologis Nindi tentu beda dengan orang dewasa.

Tengah malam sekitar pukul 01.00, Ibu dan Ajik akhirnya menyerah. Ajik membangunkan Gung Kak (kakek) dan Gung Nini (nenek) yang tidur di saren delod (rumah bagian selatan). Gung Kak dan Gung Nini pun akhirnya yang ngempu Nindi di kamar. Nindi pun tertidur di pangkuan Gung Kak, Nindi pun sempat diajak ke saren delod sambil nonton sepakbola oleh Gung Kak. Sementara Ibu dan Ajik tertidur pulas.

Begitulah, sepertinya Ibu dan Ajik masih butuh adaptasi untuk dan menyesuaikan diri dengan kehadiran Nindi. Tapi kata Ibu dan Ajik, mereka sama sekali tidak masalah dengan itu, kehadiran Nindi di tengah mereka akan menghapus semua beban dan membuat Ibu dan Ajik bahagia.

Bramasta Disapih

Proses sapih (berhenti menyusu) Bramasta ternyata sangat jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Saya teringat dulu waktu proses sapih kakaknya, Nindi, cukup sulit dan bahkan sempat gagal.

Waktu Nindi dulu, pertama kali mencoba, malam sebelum tidur Nindi nangis dan ngamuk minta susu ibunya. Kami sebenarnya sudah berusaha tenang dan siap, kami bahkan sudah mengisi dan mengoleskan daun samiroto di susu ibunya, lalu Nindi mencobanya dan tentu rasanya sangat pahit, gara-gara itu juga dia semakin menangis dan ngamuk. Yang pertama menyerah adalah nininya, ibu saya, karena tidak tega melihat cucunya menangis dan sedih. Malam itupun kami gagal dan istri saya membersihkan susunya dengan sabun untuk menghilangkan rasa pahit, lalu Nindi kembali menyusu.

Beberapa hari kemudian, kami memutuskan untuk menginap di rumah mertua dan fokus pada proses sapih Nindi. Nindi tentu nangis lagi, tapi kami lebih tenang dan mencoba memberinya air minum. Dengan sabar akhirnya malam itu Nindi berhasil kami tidurkan tanpa susu dan berlanjut di hari-hari selanjutnya.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, kami membayangkan proses sapih Bramasta akan jauh lebih sulit, mengingat karakternya yang jauh lebih keras dari kakaknya. Bramasta kalau minta sesuatu dan tidak dia dapatkan, dia biasanya cenderung berontak dan teriak. Agak khawatir membayangkan bagaimana dia akan ngamuk kalau disapih. Tapi ternyata prosesnya cukup mudah, bahkan jauh lebih mudah dibanding kakaknya Nindi dulu.

Hari pertama kami coba menghentikan Bramasta menyusu ternyata langsung berhasil, dia hanya terlihat sedikit sedih saja, tapi langsung bisa tidur Begitu pula di hari-hari selanjutnya. Kami sempat tidak percaya kok bisa semudah itu. Ah, ternyata setiap anak memang sangat unik.

*btw, ini sebenarnya draft tulisan yang hampir setahun lalu, saat Bramasta berumur sekitar 2 tahun saat dia baru disapih.