Tradisi Megebagan Orang Meninggal di Bali

Bali memiliki banyak keunikan, salah satunya yaitu tradisi megebagan pada saat ada orang Bali (warga) yang meninggal. Bali merupakan salah satu obyek wisata di Indonesia yang memiliki banyak tradisi dan budaya tentunya dengan nuansa Hindu Bali. Nuansa gotong royong di Bali masih sangat kental khususnya melalui organisasi adat yang disebut Banjar. Banjar merupakan sebuah organisasi sosial yang berada dibawah naungan sebuah Desa Adat. Melalui organisasi Banjar inilah warga Bali melakukan kegiatan Suka-Duka.

Salah satu kegiatan yang melibatkan warga banjar adalah ketika ada warga yang berduka yaitu meninggal dunia. Banyak prosesi dan tradisi yang mengiringinya dimana salah satunya adalah tradisi megebagan. Megebagan ini adalah kegiatan dimana warga banjar akan mendatangi rumah warga yang berduka dan ikut menunggui keluarga yang berduka di malam hari, pada umumnya dari sore hingga menjelang pagi.

Tradisi megebagan di Bali ini dilandasi oleh rasa saling menyayangi diantara warga, sekaligus menunjukkan rasa belasungkawa secara nyata bagi keluarga yang berduka. Konon, jaman dulu pada awalnya tradisi megebagan di Bali ini ada karena pada waktu ini jumlah penduduk di Bali belum sebanyak ini, dan juga kondisi belum ada listrik/lampu penerangan yang memadai sehingga ketika ada warga yang meninggal maka warga lainnya akan ikut menunggui di rumah duka. Tentu faktor utamanya bukan karena kesepian dan rasa takut, tapi keinginan untuk berusaha agar keluarga yang ditinggalkan tidak terlalu larut dalam duka dan tidak merasa sendirian.

Kini setelah kondisi di Bali jauh berbeda dimana penduduk sudah banyak dan juga lampu terang benderang 24 jam, tradisi megebagan di Bali tetap dijalankan. Hal ini dikarenakan tradisi ini masih tetap diperlukan sebagai bentuk persatuan antar warga Banjar. Walaupun pelaksanaannya di setiap banjar juga Desa Adat tidak selalu sama. Di sebuah banjar biasanya memiliki bagian lagi yang disebut Tempekan. Ada banjar yang hanya mendatangkan warga tempekan saja ketika megebagan (karena jumlahnya sudah cukup banyak) dan ada juga yang mendatangkan warga banjar. Begitu pula mengenai waktu megebagan, ada yang menyepakati adalah 3 hari saja yaitu mulai H-2 upacara penguburan / ngaben, ada juga yang lebih lama. Semuanya melalui kesepakatan antar warga banjar yang dituangkan melalui awig / perarem.

Semoga saja tradisi megebagan di Bali ini tetap ajeg dan lestari dan juga tradisi-tradisi yang sangat unik dan baik lainnya.

Tradisi Medelokan Penganten

Tradisi medelokan penganten adalah sebuah tradisi yang ada di desa adat Kerobokan dan mungkin ada juga di desa atau daerah lainnya di Bali. Tradisi medelokan penganten ini seperti namanya merupakan kegiatan medelokan (menengok / kondangan) ke rumah penganten baru. Kegiatan ini dilakukan oleh Sekeha Teruna-Teruni atau biasa disingkat menjadi STT. STT adalah sebuah organisasi kepemudaan yang kedudukannya biasanya di bawah sebuah Banjar. Banjar adalah sebuah organisasi adat yang berada di bawah sebuah Desa Adat. Desa Adat dan Banjar adalah organisasi adat di Bali yang bisa dikatakan sebagai nyawa kehidupan adat dan beragama di Bali. Jadi STT merupakan generasi penerus dan tulang punggung untuk mewujudkan slogan “ajeg bali” yang selama ini digaungkan oleh pemerintah dan masyarakat di Bali. Read More

Upacara Tigang Sasih Bramasta, Antara Suka dan Duka

Upacara tigang sasih atau tiga bulanan Bramasta semestinya menjadi acara yang penuh sukacita bagi kami, tapi hidup ini tak selalu suka saja, kadang ada dukanya. Upacara yang sudah kami siapkan dengan sangat matang menjadi sedikit berubah karena saya dan istri harus masuk rumah sakit dan opname selama 6 hari, mulai Senin hingga Sabtu dimana upacara tigang sasih Bramasta jatuh pada hari Rabu.

Read More

Berobat ke Balian, Percaya Tak Percaya

Bagi orang Bali khususnya yang beragama Hindu, keberadaan Balian yaitu semacam dukun/paranormal/orang pintar, sudah menjadi hal lumrah dan biasa. Hal ini disebabkan oleh kentalnya budaya dan agama Hindu yang memang berkaitan erat dengan dunia spiritual. Salah satu cirinya adalah tidak sedikit Pemangku yaitu orang suci dalam agama Hindu di Bali yang juga menjalankan kegiatan atau pekerjaan pengobatan selayaknya seorang Balian.

Read More

Rentetan Hari Raya di Bali

Bila ada orang luar Bali dan baru tinggal di Bali sekitar sebulan terakhir ini mungkin akan merasa sedikit heran dengan apa yang dilakukan orang Bali. Rasanya setiap hari selalu sibuk menyiapkan diri untuk hari raya. Memang benar, bulan Maret ini umat Hindu di Bali disibukkan dengan berbagai rentetan hari raya. Apalagi pada dasarnya umat Hindu khususnya di Bali memiliki sangat banyak hari raya / hari suci, walaupun hanya sebagian yang terkenal sampai keluar Bali.

Read More