Bramasta Disapih

Proses sapih (berhenti menyusu) Bramasta ternyata sangat jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Saya teringat dulu waktu proses sapih kakaknya, Nindi, cukup sulit dan bahkan sempat gagal.

Waktu Nindi dulu, pertama kali mencoba, malam sebelum tidur Nindi nangis dan ngamuk minta susu ibunya. Kami sebenarnya sudah berusaha tenang dan siap, kami bahkan sudah mengisi dan mengoleskan daun samiroto di susu ibunya, lalu Nindi mencobanya dan tentu rasanya sangat pahit, gara-gara itu juga dia semakin menangis dan ngamuk. Yang pertama menyerah adalah nininya, ibu saya, karena tidak tega melihat cucunya menangis dan sedih. Malam itupun kami gagal dan istri saya membersihkan susunya dengan sabun untuk menghilangkan rasa pahit, lalu Nindi kembali menyusu.

Beberapa hari kemudian, kami memutuskan untuk menginap di rumah mertua dan fokus pada proses sapih Nindi. Nindi tentu nangis lagi, tapi kami lebih tenang dan mencoba memberinya air minum. Dengan sabar akhirnya malam itu Nindi berhasil kami tidurkan tanpa susu dan berlanjut di hari-hari selanjutnya.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, kami membayangkan proses sapih Bramasta akan jauh lebih sulit, mengingat karakternya yang jauh lebih keras dari kakaknya. Bramasta kalau minta sesuatu dan tidak dia dapatkan, dia biasanya cenderung berontak dan teriak. Agak khawatir membayangkan bagaimana dia akan ngamuk kalau disapih. Tapi ternyata prosesnya cukup mudah, bahkan jauh lebih mudah dibanding kakaknya Nindi dulu.

Hari pertama kami coba menghentikan Bramasta menyusu ternyata langsung berhasil, dia hanya terlihat sedikit sedih saja, tapi langsung bisa tidur Begitu pula di hari-hari selanjutnya. Kami sempat tidak percaya kok bisa semudah itu. Ah, ternyata setiap anak memang sangat unik.

*btw, ini sebenarnya draft tulisan yang hampir setahun lalu, saat Bramasta berumur sekitar 2 tahun saat dia baru disapih.

Bramasta 2 Tahun

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 2 tahun. Pada tanggal 29 Juni 2018 yang lalu kami merayakan ulang tahun Bramasta dengan sederhana saja sekaligus arisan keluarga. Bramasta tentu saja antusias saat merayakan ulang tahunnya, begitu pula kakaknya Nindi yang sudah ikut mempersiapkan acara kecil ini dari beberapa hari sebelumnya dengan memilihkan kue yang dibeli online.

Read More

Pekan Yang Melelahkan

Dua pekan terakhir benar-benar melelahkan bagi kami baik secara fisik maupun pikiran. Berawal dari dua minggu yang lalu, di hari Minggu sore Bramasta diimuninasi, kebetulan ini imunisasi yang menyebabkan panas. Selama dua hari Bramasta badannya panas, walau sudah kami tahu sejak awal dan juga minum obat, tetap saja pikiran tidak tenang. Apalagi ibunya, tentu lebih repot khususnya di malam hari karena Bramasta tidak bisa tidur nyenyak.

Read More

Ulang Tahun Pertama Bramasta

Saya baru sadar ternyata saya belum menuliskan cerita ulang tahun anak kedua kami, Bramasta. Baiklah kali ini akan saya tuliskan walau mungkin hanya sederhana.

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 1 tahun pada tanggal 29 Juni 2017 yang lalu. Rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat. Sedikit terasa berbeda dengan ketika kakaknya Bramasta, Nindi, dulu berumur 1 tahun. Mungkin ini karena dulu Nindi masih sendiri sehingga saya dan istri benar-benar berdua fokus kepada Nindi saja. Kalau sekarang kami berdua harus berbagi, jadi mungkin tidak bisa sepenuhnya waktu kami untuk Bramasta. Tapi bukan berarti rasa sayang dan perhatian harus berkurang, tentu keduanya sama-sama sangat kami sayangi dengan segenap jiwa dan raga. Semua orangtua pasti begitu menyayangi anak-anaknya. Read More

Pertama Kali Nindi dan Bramasta ke Surabaya

Bulan Maret lalu yaitu tepatnya tanggal 23 – 26 Maret 2017 untuk pertama kalinya Nindi (umur 7 tahun) dan Bramasta (umur 9 bulan) ke Surabaya. Ini merupakan perjalanan pertama kalinya Nindi dan Bramasta ke luar pulau Bali sekaligus pertama kalinya mereka naik pesawat. Kedatangan kami ke Surabaya ini dalam rangka wisuda S2 adik ipar saya, Ajung. Kami berangkat berenam yaitu saya, istri saya, Nindi, Bramasta, adik ipar dan ibu mertua. Read More