Malam Pertama Nindi di Rumah

Ini adalah salinan salah satu post di blog nindi.imadewira.com, judul aslinya “Malam Pertama”. Saya salin disini karena sayang kalau dibuang. Tulisan aslinya saya hapus dan juga beberapa post lainnya yang mungkin tidak terlalu penting walau sebenarnya semua berkesan. Oke, ini dia post aslinya.

Nindi tiba di rumah, 23 Februari 2010.
Hari pertama Nindi tiba di rumah adalah hari Selasa tanggal 23 Februari 2010, yaitu sehari setelah Nindi lahir. Nindi bisa pulang cepat karena kondisi Nindi dan Ibu sehat dan normal, mungkin berkat Nindi lahir dengan metode Waterbirth. Jadi tanggal 23 Februari 2010 adalah malam pertama untuk Nindi tidur di kamar bersama Ibu dan Ajik.

Nindi sekarang sekamar dengan Ibu dan Ajik, karena Nindi masih kecil sekali, kan tidak mungkin Nindi tinggal sendirian di kamar. Ibu dan Ajik tentu kurang tidur belakangan ini, dan belum bisa istirahat dengan nyaman. Jadi di malam pertama ketika tamu-tamu yang nengok Nindi sudah pulang, Ibu dan Ajik pun ngantuk berat. Mereka berusaha menidurkan Nindi, sementara Nindi belum ingin bobo. Maklumlah, Nindi baru berumur beberapa hari dan jam biologis Nindi tentu beda dengan orang dewasa.

Tengah malam sekitar pukul 01.00, Ibu dan Ajik akhirnya menyerah. Ajik membangunkan Gung Kak (kakek) dan Gung Nini (nenek) yang tidur di saren delod (rumah bagian selatan). Gung Kak dan Gung Nini pun akhirnya yang ngempu Nindi di kamar. Nindi pun tertidur di pangkuan Gung Kak, Nindi pun sempat diajak ke saren delod sambil nonton sepakbola oleh Gung Kak. Sementara Ibu dan Ajik tertidur pulas.

Begitulah, sepertinya Ibu dan Ajik masih butuh adaptasi untuk dan menyesuaikan diri dengan kehadiran Nindi. Tapi kata Ibu dan Ajik, mereka sama sekali tidak masalah dengan itu, kehadiran Nindi di tengah mereka akan menghapus semua beban dan membuat Ibu dan Ajik bahagia.

Bramasta Disapih

Proses sapih (berhenti menyusu) Bramasta ternyata sangat jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Saya teringat dulu waktu proses sapih kakaknya, Nindi, cukup sulit dan bahkan sempat gagal.

Waktu Nindi dulu, pertama kali mencoba, malam sebelum tidur Nindi nangis dan ngamuk minta susu ibunya. Kami sebenarnya sudah berusaha tenang dan siap, kami bahkan sudah mengisi dan mengoleskan daun samiroto di susu ibunya, lalu Nindi mencobanya dan tentu rasanya sangat pahit, gara-gara itu juga dia semakin menangis dan ngamuk. Yang pertama menyerah adalah nininya, ibu saya, karena tidak tega melihat cucunya menangis dan sedih. Malam itupun kami gagal dan istri saya membersihkan susunya dengan sabun untuk menghilangkan rasa pahit, lalu Nindi kembali menyusu.

Beberapa hari kemudian, kami memutuskan untuk menginap di rumah mertua dan fokus pada proses sapih Nindi. Nindi tentu nangis lagi, tapi kami lebih tenang dan mencoba memberinya air minum. Dengan sabar akhirnya malam itu Nindi berhasil kami tidurkan tanpa susu dan berlanjut di hari-hari selanjutnya.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, kami membayangkan proses sapih Bramasta akan jauh lebih sulit, mengingat karakternya yang jauh lebih keras dari kakaknya. Bramasta kalau minta sesuatu dan tidak dia dapatkan, dia biasanya cenderung berontak dan teriak. Agak khawatir membayangkan bagaimana dia akan ngamuk kalau disapih. Tapi ternyata prosesnya cukup mudah, bahkan jauh lebih mudah dibanding kakaknya Nindi dulu.

Hari pertama kami coba menghentikan Bramasta menyusu ternyata langsung berhasil, dia hanya terlihat sedikit sedih saja, tapi langsung bisa tidur Begitu pula di hari-hari selanjutnya. Kami sempat tidak percaya kok bisa semudah itu. Ah, ternyata setiap anak memang sangat unik.

*btw, ini sebenarnya draft tulisan yang hampir setahun lalu, saat Bramasta berumur sekitar 2 tahun saat dia baru disapih.

Nindi Ikut Porjar Renang

Beberapa waktu yang lalu untuk pertama kalinya Nindi mengikuti Porjar khususnya di cabang renang. Keikutsertaan Nindi ini sebenarnya tidak kami rencanakan karena dulu pada awal mengikutkan Nindi les renang tujuan kami hanya sekedar agar Nindi bisa renang sehingga lebih leluasa kalau kebetulan ada kesempatan bermain di kolam renang. Selain itu kami juga yakin nanti saat SMP kemampuan renang akan diperlukan, jadi agar tidak malu nantinya.

Setelah sekitar setahun lebih ikut les renang, itupun tidak rutin, Nindi sepertinya sudah tidak cocok lagi di level pemula. Walau mungkin sebenarnya perkembangan Nindi tidak secepat anak-anak lainnya tapi untuk di level pemula dia sudah tidak cocok. Jadi pelatihnya menyarankan Nindi ikut di kelas intermediet, tetapi kami terkendala dengan waktu. Jadwal latihan kelas tersebut adalah hari Senin, Rabu, Jumat pukul 4 sore dan Sabtu, Minggu pukul 10 pagi, dimana setiap anak diharapkan latihan minimal 4 kali seminggu. Sedangkan Nindi dari Senin-Jumat sekolah siang sampai sore sehingga tidak memungkinkan ikut kelas tersebut. Memang sih latihan renang kelas tersebut sebenarnya ditujukan untuk persiapan lomba dan mencari prestasi di cabang renang.

Awal Januari kemarin atas saran pelatihnya, apakah Nindi tidak coba diikutkan Porjar dari sekolahnya. Setelah kami cari info di sekolahnya ternyata memang ada Porjar dan Nindi pun kami daftarkan, apalagi kebetulan ternyata dari sekolahnya sama sekali tidak ada atlet renang di tahun ini. Jadi Nindi satu-satunya peserta cabang renang di sekolahnya.

Nindi kemudian ikut seleksi di tingkat gugus bersama dengan 8 orang anak dari sekolah lainnya. Nindi ikut di nomor 50 meter gaya bebas dan nomor 50 meter gaya dada. Jadwal seleksinya agak mendadak kami terima sehingga Nindi tidak sempat banyak latihan di tempat les renangnya. Nindi bahkan belum bisa melompat. Prediksi pelatihnya, Nindi mungkin tidak akan lolos mengingat catatan waktunya masih jauh dari ideal, untuk gaya bebas 50 meter catatan waktu Nindi di tempat latihan adalah 1 menit 15 detik. Tapi tidak apalah, yang kami cari hanya pengalaman dan sekedar penggembira saja.

Saat seleksi kami cukup gugup mengingat ini pengalaman pertama dan persiapan yang sangat minim. Hasilnya Nindi tidak lolos di nomor 50 m bebas, catatan waktunya hanya 1 menit 14 detik, sedangkan dari 4 anak lainnya catatan waktu yang terbaik sekitar 37 detik, tentu jauh sekali. Sedangkan di nomor 50 m gaya dada, karena Nindi sendiri maka otomatis dia lolos. Wah, kami merasa cukup senang, Nindi juga sangat antusias walau sebenarnya dia lolos karena tidak ada lawan.

Seleksi selanjutnya adalah di tingkat kecamatan Kuta Utara. Kali ini Nindi sudah lebih siap karena sudah berlatih di club tempat lesnya. Nindi bahkan beberapa kali mendapat dispensasi di sekolah untuk ikut latihan, dia juga untuk pertama kalinya mendapat uang saku/konsumsi sebesar 9 x 5 ribu rupiah.

Skip, langsung saja ke tahap seleksi. Pelaksanaan seleksinya kini jauh lebih ramai dan lebih menegangkan. Ada sekitar 30 anak yang ikut di berbagai nomor, Nindi hanya ikut di nomor 50 m gaya dada. Pelatihnya Nindi pun ikut hadir karena ada juga beberapa anak dari clubnya yang ikut disini, termasuk salah satu temannya yang kelas 5 SD ikut di nomor 50 m dada. Hasilnya, kami cukup bangga karena target kami yang penting finish. Nindi akhirnya finish dengan waktu sekitar 1 menit 8 detik. Dari 5 anak yang terjun tahap pertama, Nindi finish nomor 4 dan tidak terlalu jauh ketinggalan, jadi kami cukup senang dengan hasilnya dan sesuai prediksi.

Selanjutnya, mungkin Nindi akan break dulu renang karena ternyata cukup banyak menyita waktu karena Nindi juga ada kegiatan lainnya seperti sekolah, les keyboard, les Kumon dan juga dance. Ke depan kami akan lihat situasi, harapan saya tahun depan Nindi bisa ikut Porjar lagi, sedangkan untuk lomba bersama club renangnya mungkin tidak usah dulu. Sekian.

Akhir Tahun 2018, Melali Kemana Ya?

Tidak terasa akhir tahun 2018 sudah dekat, melali kemana ya? Hari ini kita sudah masuk ke bulan Desember, bulan terakhir di tahun 2018. Akhir tahun biasanya kami menyempatkan diri melali (jalan-jalan) bersama keluarga khususnya istri dan anak-anak. Entah hanya jalan-jalan ke luar wilayah atau sekaligus menginap di hotel atau villa. Tapi entah bagaimana dengan tahun ini, kami belum punya rencana.

Read More

Bramasta 2 Tahun

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 2 tahun. Pada tanggal 29 Juni 2018 yang lalu kami merayakan ulang tahun Bramasta dengan sederhana saja sekaligus arisan keluarga. Bramasta tentu saja antusias saat merayakan ulang tahunnya, begitu pula kakaknya Nindi yang sudah ikut mempersiapkan acara kecil ini dari beberapa hari sebelumnya dengan memilihkan kue yang dibeli online.

Read More