Pengertian dan Penggunaan Sor Singgih Basa (Bahasa) Bali

Pada artikel ini saya akan mencoba menuliskan pengertian dan penggunaan Sor Singgih Basa (Bahasa) Bali, apa maksudnya, seperti apa contohnya. Sebagai orang Bali, walaupun bukan ahli dalam Basa (Bahasa) Bali, saya akan mencoba memberikan pengertian dan penggunaan tentang Sor Singgih Basa Bali secara sederhana sehingga semoga bisa lebih mudah dimengerti. Selain itu tentunya penjelasan saya disini adalah sebatas pengetahuan saya saja dan kehidupan sehari-hari di Bali. Jadi jika ada kekeliruan, silahkan sampaikan di form komentar di akhir tulisan ini.

Kembali tentang pengertian Sor Singgih Basa Bali, kalau menurut beberapa artikel, Basa Bali dapat digolongkan menjadi beberapa soroh (bagian). Ada yang membagi menjadi 2 bagian, ada yang 3 bagian, 4 bagian dan 5 bagian. Tapi untuk mempersingkat dan mensederhanakan, secara umum saya akan membagi Basa Bali menjadi 2 saja yaitu : Basa Kasar dan Basa Alus. Seperti namanya, basa kasar adalah bahasa kasar, basa alus adalah bahasa halus. Penggunaannya mungkin tidak terlepas dari adanya Catur Wangsa walau tidak sepenuhnya. Tapi yang jelas bahasa halus digunakan untuk orang yang dihormati atau belum dikenal, sedangkan bahasa kasar bisa digunakan untuk teman yang sudah sangat akrab atau sesuai situasi dan kondisi.

Kembali terkait pengertian dan penggunaan Sor Singgih Basa Bali, yang dimaksud disini adalah dalam Basa Alus itu ada sor singgih atau disebut Alus Sor dan Alus Singgih. Sebenarnya ada lagi Alus Madia dan Alus Mider, tapi tidak usah dibahas agar simpel. Nah, Alus Sor (bawah) adalah kata bahasa halus yang digunakan untuk merendahkan diri, sedangkan Alus Singgih adalah kata bahasa halus yang digunakan untuk meninggikan/menghormati lawan bicara.

Contoh penggunaan Sor Singgih Basa Bali, misalnya kata “makan”, Basa Bali alus sor untuk makan adalah “nunas”, sedangkan alus singgih untuk makan adalah “ngajeng” / “ngerayunang”. Contoh penggunaannya adalah ketika kita bicara dengan seorang sulinggih, kalimatnya adalah “Ratu Peranda sampun ngerayunang, tiang durung nunas” (Ratu Peranda sudah makan, saya belum makan). Tapi kata nunas tidak selalu digunakan, tergantung situasi dan kondisi juga, misalnya yang bicara dari wangsa brahmana juga, maka mungkin bisa digunakan kata ngajeng.

Ah, ternyata agak sulit juga menjelaskan pengertian dan penggunaan sor singgih basa Bali, mungkin karena semuanya sebenarnya kembali soal rasa.

Daftar Kota Pilihan Untuk Liburan Keluarga

Pada salah satu tulisan di blog saya ini sebelumnya saya sudah pernah menuliskan di blog ini tentang keinginan saya untuk liburan keluarga ke Yogyakarta. Kenapa ingin liburan keluarga ke Yogyakarta? Ya, Yogyakarta memang menjadi salah satu kota tujuan saya untuk liburan bersama keluarga. Selain itu, kota lainnya yang ingin saya tuju jika nanti jadi liburan mungkin kota Surabaya, kota Malang atau kota Bandung. Mengapa kota-kota itu yang ingin saya tuju jika liburan bersama keluarga? Saya akan coba jelaskan di tulisan blog ini.

Tapi sebelum mengungkapkan alasan saya ingin libur ke kota-kota tersebut, ada satu kota yang juga ingin saya kunjungi bersama keluarga, yaitu tentu saja Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Diantara sekian kali tugas perjalanan dinas saya, kota Jakarta adalah yang paling sering saya tuju, maklum saja karena instansi pusat tempat saya bekerja ada di Jakarta, selain itu beberapa pertemuan juga lebih sering diadakan di Jakarta. Jakarta memang menggiurkan dengan segala keramaiannya, Jakarta memang memukau dengan segala kemegahannya, maka dari itulah saya ingin mengajak keluarga khususnya anak-anak biar pernah mengunjungi Jakarta. Semoga suatu saat nanti bias terwujud dimana saya bersama istri dan anak-anak bias jalan-jalan ke Jakarta.

Pertama kali ke Yogyakarta waktu itu

Tapi sementara ini di benak saya tetap saja kota Yogyakarta di urutan pertama yang ingin kami tuju, mengapa? Karena yang saya bayangkan selain Bali, Yogyakarta kayaknya paling asik untuk liburan bersama keluarga. Saya ingin mengajak anak-anak dan juga istri mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang sudah sangat terkenal itu, apalagi saya sendiri juga belum pernah mengunjungi kedua candi tersebut meskipun sudah pernah sekali ke Yogyakarta, waktu itu saya mendapat tugas dinas dan sayang sekali saya sakit sehingga tidak sempat meluangkan waktu ke Borobudur dan Prambanan. Istri saya dulu sudah pernah ke Borobudur dan Prambanan, jadi di keluarga kecil kami baru istri saya saja yang pernah kesana.

Kota selanjutnya yang ingin saya tuju kalua liburan keluarga adalah kota Surabaya, mengapa? Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di post sebelumnya, kota Surabaya adalah kota special bagi saya dan istri karena di kota Surabaya inilah kami berdua dulu kuliah, walaupun beda kampus. Kami sama-sama berangkat di tahun yang sama, dan berangkatnya juga naik bus yang sama. Oya, ngomong-ngomong tentang transportasi, saya juga belum pernah naik kereta api, semoga nanti kalua liburan bisa sekaligus merasakan naik kereta api atau naik argo parahyangan demi perjalanan nyaman dan sejenisnya bersama istri dan anak-anak.

Kembali tentang Surabaya, kami (saya dan istri) ingin memperkenalkan kepada anak-anak kepada kota Surabaya, kota dimana saya dan istri dulu menghabiskan masa pacaran sambal kuliah hingga akhirnya lulus, kerja lalu menikah, hehe. Sekitar 2 tahun lalu memang kami sudah pernah ke Surabaya, saat itu dalam rangka Wisuda adik ipar saya di kampus Universitas Surabaya (Ubaya), tapi rasanya saya belum sempat mengajak anak-anak keliling untuk melihat-lihat beberapa tempat yang spesial bagi saya dan istri. Ya, semoga saja nanti terwujud.

Nah, selain itu, masih ada kota Malang dan Bandung, dua kota ini masuk ke dalam daftar keinginan saya karena sepertinya asik juga untuk liburan, saya tidak punya alasan khusus, tapi yang jelas saya ingin liburan ke kota yang ramah dan cukup nyaman untuk mengajak anak-anak, maksud saya yang obyek wisatanya tidak terlalu jauh dan juga akses transportasi yang mudah dan nyaman.

Edu Trip Mahasiswa Prodi Manajemen Bisnis Perjalan STP Bali

Edu Trip ini merupakan bentuk dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Bisnis Perjalan (MBP) Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali. Tugas saya dalam perjalanan dinas ini adalah sebagai dosen pendamping bersama dengan beberapa dosen lainnya di Prodi MBP. Ini adalah pertama kalinya saya ikut mendampingi mahasiswa dalam kegiatan PKL. Ada lumayan banyak informasi dan pengalaman baru yang saya dapatkan.

Kegiatan Edu Trip atau PKL mahasiswa ini berlangsung selama 4 hari 3 malam dimana selama 4 hari ini mahasiswa prodi MBP STP Bali mengunjungi beberapa tempat yang menurut saya sangat penting dan bermanfaat bagi mereka dan juga saya sendiri sebagai salah satu dosen (pengajar) di prodi ini. Adapun beberapa tempat yang dikunjungi yaitu : Garuda Operation Control Center (OCC), Aerofood ACS, Garuda Indonesia Training Center (GITC), Holidays Garuda Indonesia, dan terakhir ke objek wisata Kota Tua di Jakarta.

Kegiatan Edu Trip atau Praktek Kerja Lapangan diatas tentu saja tidak hanya berupa kunjungan sederhana seperti itu, tetapi mahasiswa telah dipersiapkan dengan berbagai tugas yang berkaitan dengan lokasi yang dikunjungi, dalam hal ini adalah dosen yang mengajar matakuliah yang terkait.

Setelah ikut mendampingi mahasiswa dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini, saya merasakan/melihat bahwa kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat bagi mahasiswa karena dengan begini mereka bisa melihat langsung bagaimana dunia industri yang sebenarnya, tidak hanya teori di kampus saja.

Oya, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 4 s/d 7 September 2019 di Jakarta.