Yogyakarta, Sepakbola dan Flu

Tak terasa sudah bulan Desember, dan ternyata saya masih agak kesulitan mengatur waktu untuk ngeblog. Banyak ide yang ada namun agak sulit menuangkan dalam bentuk tulisan. Di berita masih ramai soal kota Yogyakarta, di internet maupun di televisi sedang ramai membicarakan masalah Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Saya sendiri kurang mengerti jadi lebih baik no comment saja.

Berita olahraga masih banyak membicarakan kemenangan telak 5-0 Barcelona atas musuh bebuyutannya, Real Madrid. Memang cukup menghebohkan bagaimana Real Madrid yang merupakan tim bertabur bintang di bawah asuhan The Special One bisa kalah telak seperti itu. Ya itulah sepakbola, hal yang impossible terkadang bisa saja terjadi.

Ah, kok jadi ngelantur soal sepakbola..

Tulisan ini memang tidak saya rencanakan. Saya mencoba menulis apa saja yang sedang terlintas di pikiran saya. Menulis langsung tanpa membaca ulang dan tanpa rencana. Kita lihat seperti apa hasilnya nanti. Mood menulis saya mungkin sedang naik turun, ditambah dengan beberapa kesibukan jadilah tulisan yang tidak jelas seperti ini.

Kondisi kesehatan saya juga sepertinya agak tidak baik. Dari kemarin seperti ada gejala flu, tadi malam ketika tidur hidung saya mulai mampet. Dan tadi pagi saya sudah mulai flu, semoga saja tidak semakin parah. Tenggorokan saya juga sepertinya sedikit radang, kemungkinan gara-gara kemarin saya makan mie instan.

Baiklah, cukup sampai disini dulu daripada tulisan ini semakin ngelantur tidak jelas..

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

13 thoughts on “Yogyakarta, Sepakbola dan Flu

  1. Wah, saya juga nonton pembantaian 5-0 itu, walau dari skor 2-0. Tapi rasanya itu bukan keajaiban, memang permainan Barcelona bagus sekali. Jadi gol-nya juga bukan kebetulan deh rasanya.

    1. @Cahya,
      saya juga nonton ketika skor sudah 4-0, secara kasat mata memang terlihat sekali Barca penguasaan bola jauh lebih banyak, mereka jarang kehilangan bola. Kalau Madrid, sering salah umpan dan kehilangan bola.

  2. hahaha, anda sudah mempraktikkan saran yang dulu pernah saya tulis di blog saya. tapi mungkin anda gak menuliskan ini berdasarkan saran saya tersebut ya. saran itu adalah: tuliskan apa saja yang ada di kepalamu, bahkan ketika sedang tidak ada ide utk menulis, kondisi itu pun dapat dijadikan topik. hehehe.

    kunjungan balik nih. eh blogger Bali berarti seperjuangan sama Pushandaka dong ya :D

    1. @indobrad,
      benar, bahkan menurut saya kehabisan ide pun bisa dijadikan ide.

      Pushandaka? ya saya tau blognya dan cukup rajin berkunjung kesana, tapi belum pernah ketemu langsung.

  3. Saya juga sempat flu minggu ini. Kecapekan karena harus menempuh banyak tahapan ujian cpns di Jakarta. Makanya blog saya sempat terkatung-katung cukup lama. Tapi sekarang sudah mendingan.

    Mengenai Jogja, sebenarnya masalahnya simple saja. Kedua pemimpin, SBY dan Sri Sultan, memang sempat berkomentar secara ndak konsisten. Sejak awalnya, DIY memang dipimpin oleh Sultan secara otomatis sebagai Gubernur. Tapi pada tahun 2007, Sri Sultan sempat berkomentar, ndak mau lagi jadi Gubernur. Mungkin waktu itu karena beliau digadang-gadang jadi capres untuk pemilu 2009.

    Nah, komentar itu disambut antusias oleh SBY sebagai pimpinan Demokrat. Sebab, kalau Sri Sultan selalu otomatis menjadi Gubernur, maka kader Demokrat ndak punya kesempatan jadi Gubernur donk? Sementara Sri Sultan adalah kader senior Golkar. Jadi mungkin, SBY menilai DIY sudah ndak demokratis dan cenderung monarkis. Sebenarnya, pidato SBY kemarin tentang monarki vs demokrasi ndak salah, tapi momennya ndak pas.

    1. Maaf ada yang tertinggal..

      Komentar saya di atas adalah murni pengamatan saya pribadi. Silahkan kalau ada pembaca yang lebih mengerti, untuk memberikan kritik atau tambahan pengetahuan kepada saya. :)

      1. @imadewira,

        Karena momennya yang kurang pas boss. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Rakyat Jogja baru kena bencana, mereka pasti pengennya SBY membantu mengganti segala kerugian, minimal mengganti ternak mereka yang mati sia-sia. Tapi SBY malah mengurusi pemilihan Gubernur. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *