Tubuh Ibarat Ladang

Saat ini di kantor (kampus) saya memang sedang melakukan / merancang beberapa hal yang mungkin di luar pekerjan sehari-hari dan di luar job description saya. Ini semata-mata demi idealisme dan pengabdian yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain. Biarlah orang men-cap PNS itu seperti apa, tapi orang-orang yang saya ajak bekerja yang tahu.

Dan di tengah-tengahnya saya menerima sebuah nasehat dari seseorang yang saya anggap orangtua saya disini, termasuk sebagai orang yang cukup saya kagumi selama ini melihat cara kerja dan pola pikirnya yang sederhana namun realistis. Berikut ini saya copy-kan nasehat yang saya terima via email tersebut. Sekedar sharing, siapa tahu ada manfaatnya bagi orang lain.

Yth. Bapak Agung Wirautama,

Terimakasih atas pengertiannya, mari kita gunakan waktu dan kemampuan kita untuk mengabdi tanpa harus memikirkan hasilnya. Semua karma kita serahkan kpdNya bagiamana dan menjadi apa nantinya. Karena semua kehendak Yang Kuasa.

Kutipan dari buku yang pernah tiang baca, mudah-mudahan tidak ada yang terlupakan.

Tubuh kita ini diibaratkan sebagai ladang. Maka ladang itu akan menjadi apa yang kita inginkan. Jika kita merawatnya dengan baik dan menanam tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi masyarakat, maka banyak orang yang akan datang ke ladang itu, entah untuk berteduh, re-freshing (menenangkan pikiran), meminta sesuatu. Betapa mulianya ladang itu, karena orang yang membutuhkan sesuatu akan selalu teringat ladang yang nyaman, indah, teduh dan menyenangkan tersebut. Oleh karena itu setiap orang akan memuliakannya.

Ketika ladang yang kita miliki tersebut tidak dirawat, akan ditumbuhi semak belukar yang tak berguna, ditumbuhi pepohonan yang berduri, dihuni oleh bermacam satwa liar dan ganas, maka orang cenderung akan menjauhinya, bahkan akan dipakai tempat membuang sampah oleh masyarakat. Ladang seperti itukah yang kita inginkan?

Dumogi wenten pikenohnyane.

Sungguh sebuat pecut semangat yang membuat saya makin bergelora..

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

15 thoughts to “Tubuh Ibarat Ladang”

  1. Sangat setuju, bli Gung. Karena mengolah jiwa dan tubuh pun sering disebut orang sebagai KULTIVASI.

    Dan bahkan tubuh itu dianggap sebagai alam semesta kecil (mikrokosmos), yang harus kita rawat dan kita jaga demi menyeimbangkannya dengan Alam Semesta (Makrokosmos).

    Terima kasih telah mengingatkan saya, bli Gung.

  2. …semua itu akan berlaku dengan baik ketika kita berada dalam kehidupan dalam arti sebenarnya… tapi tidak dalam lingkungan PNS yang atmosfernya sangat jauh berbeda. :p

  3. sungguh tauziyah yang menarik. perumpaan tubuh ibarat ladang bisa memotivasi diri kita untuk senantiasa “menggarap” ladang itu agar bisa memberikan buah, kesuburan, manfaat buat diri kita dan orang lain :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *