Tradisi Memunjung di Hari Raya Galungan

August 27th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Banten (sesajen) “sodan” atau lebih dikenal dengan “punjung” yang biasa dibawa dalam tradisi memunjung di masyarakat Hindu Bali.

Tulisan ini masih terkait dengan hari raya Galungan yang merupakan hari raya umat Hindu khususnya di Bali. Tadinya saya mau melanjutkan sedikit tulisan tentang Penjor Galungan, tetapi setelah blogwalking ke balebengong.net saya kemudian tertarik dengan salah satu tulisan Tradisi Memunjung. Saya pun ingin ikut menceritakan tentang tradisi tersebut yang terjadi di lingkungan saya, juga sebagai tambahan untuk tulisan itu.

Sudah menjadi hal yang wajar bahwa dalam setiap hari raya agama apa pun, selalu ada makna positif yang dapat kita ambil. Begitu juga hari raya Galungan yang memiliki makna tentang “Kemenangan Dharma melawan Adharma”, kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Mungkin terlalu tinggi jika kita berbicara hal ini, jadi mari lihat contoh nyata saja dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya ya “Tradisi Memunjung” diatas. Sesajen “punjung” atau dikenal juga dengan “sodan” biasanya dibuat untuk hari raya Galungan. Konsepnya, yang membuat punjung anak dan akan dibawa ke rumah orang tua, orang tua dimana sang anak sudah tidak serumah lagi. Misalnya oleh seorang perempuan yang sudah menikah keluar seperti istri saya. Jadi setiap hari raya Galungan istri saya akan membuat “punjung” untuk dibawa ke rumah mertua saya. Begitu juga Ibu saya akan membuat “punjung” untuk dibawa ke rumah asalnya (rumah nenek saya).

Tradisi Memunjung ini dijalankan secara terus menerus semampu kita menjalankannya. Tidak peduli orang tua atau sang anak sudah tidak ada lagi. Tradisi akan dilanjutkan dan diteruskan oleh anak cucunya. Contohnya, Ibu saya masih terus membuat dan membawa “punjung” ke rumah asal nenek saya. Padahal nenek saya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, apalagi orang tua nenek saya. Dan mungkin suatu saat nanti, ketika Ibu saya sudah tiada, maka saya dan istri akan meneruskan membawa “punjung” ke rumah asal nenek saya dan rumah asal Ibu saya. Begitu seterusnya, selama kita mampu melaksanakannya.

Apa hikmah dan makna di balik Tradisi Memunjung ini? Tentu saja silahturahmi. Saya sangat kagum dengan para leluhur yang membuat tradisi ini. Manfaat nyata yang saya rasakan dan mungkin juga orang Bali lainnya, di Bali ikatan kekeluargaan sangat dekat dan kental. Hubungan keluarga tetap terjalin meskipun sudah sekian generasi. Salah satunya berkat Tradisi Memunjung ini.

Begitulah Tradisi Memunjung ketika hari raya Galungan yang terjadi di daerah saya. Saya yakin di daerah lainnya di Bali juga terdapat tradisi serupa. Juga di daerah lain dan di agama lainnya ketika hari raya tertentu. Saya juga yakin bahwa hari raya dibuat bukan hanya sekedar eksistensi sebuah agama. Tapi ada makna di baliknya yang pasti untuk kebaikan kita semua. Dan kebetulan di Indonesia sedang merebak isu SARA, semoga saja kita semua segera sadar, bahwa apa pun agamanya, Indonesia tetap di dada. Kita semua bersaudara… Betul?

Update :

Di sebagian daerah, penyebutan sesajen ini berbeda-beda atau ada perbedaan. Hal ini saya tambahkan agar tidak terjadi ketersinggungan atau hal yang tidak kita inginkan. Di sebagian daerah penyebutan “punjung” adalah sesajen yang dibawa ke setra (kuburan) untuk leluhur yang sudah meninggal. Sedangkan yang dibawa ke rumah orang tua (dihaturkan di tempat suci di rumah orang tua) disebut dengan “soda” (dibaca sode) atau “sodan”. Ada juga yang berkaitan dengan kasta (ah, kasta lagi…) dimana bagi orang berkasta, sesajen ini disebut “sodan” sedangkan orang tidak berkasta menyebutnya “punjung”.

Apapun sebutannya, saya rasa pada dasarnya tujuan tradisi ini sama yaitu untuk menghormati leluhur dan menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan seperti yang sudah terjadi dan bertahan sekian lama di Bali. Jadi, mohon maaf jika di tulisan saya ini ada yang merasa bahwa terjadi kekeliruan dalam penyebutan istilah sesajen tersebut.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

4 comments

  1. applausr says:

    iya iya.. salut sama yang nemuin ini… dengan kita meneruskan kegiatan itu, kita akan selalu terhubung dengan saudara saudara… patut dilestarikan memang…

  2. unikgaul.com says:

    mantap gan informasinya, menambah pengetahuan. :). salam kenal gan

  3. SIge says:

    Kemungkinkan tradisi ini tersebar merata yah di Bali, hanya saja mungkin berbeda penyebutan dan mungkin juga berbeda cara memaknainya.

    Semoga tradisi ini tidak luntur dimakan jaman.

Leave a Reply

CommentLuv badge