Tentang Nasionalisme

November 21st, 2011 by imadewira Leave a reply »

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri sebuah pelatihan. Jujur saja saya sendiri bingung itu sebuah pelatihan, seminar atau apa karena isinya hanya ceramah dari dua orang narasumber atau pembicara. Saya tidak akan ceritakan lebih detail tentang acaranya, yang jelas topiknya tentang kepemudaan. Dan saya hadir disana mewakili karang taruna dari kelurahan saya.

Pembicara pertama dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali. Dia menyampaikan materi tentang pemuda, mulai dari UU Kepemudaan dan lain sebagainya. Sambil mendengarkan materi yang mirip ceramah itu saya mencoba konsentrasi dengan membuat catatan-catatan kecil. Hingga ada hal menarik yang disampaikan oleh pembicara yaitu masalah nasionalisme.

Dia mengatakan salah satu masalah dalam generasi muda saat ini adalah merosotnya rasa nasionalisme. Oke, ini saya setuju. Tapi saya terperangah ketika dia memberikan contoh. Pembicara hanya memberikan satu contoh saja. Dia mencontohkan rasa nasionalisme adalah ketika memberikan penghormatan kepada bendera Merah Putih saat upacara bendera. Menurutnya saat ini banyak pemuda yang hormat sambil “kaskas-keskes” (menggaruk-garuk badan), ada juga yang sambil menerima telepon.

Walah, saya kaget, apakah tidak ada contoh lain yang lebih masuk akal? Menurut saya apa yang disampaikan pembicara ini keliru dan kurang pas. Pertama, rasanya saya tidak pernah melihat orang upacara ketika hormat bendera sambil menerima telepon. Kedua, kalaupun agak menggaruk badan rasanya itu manusiawi dan tidak pernah saya melihat yang parah. Ketiga, kalau nasionalisme hanya diukur dengan cara hormat bendera saat upacara bendera, itu benar-benar jauh panggang dari api, pemikiran yang sempit.

Okelah itu hanya salah satu contoh, tapi saya sangat berharap pembicara memberikan contoh lain yang lebih konkret. Misalnya bagaimana pemuda membeli sebuah produk, apakah memilih produk dalam negeri atau barang impor. Atau bagaimana reaksi pemuda ketika negaranya dilecehkan oleh orang luar negeri. Atau contoh kecil saja, apakah sehari-hari pemuda sudah taat berlalu-lintas, menurut itu juga bagian dari nasionalisme. Apalagi kalau bisa menghindari perilaku korupsi, itu sangat nasionalis!

Bukan bermaksud menggurui, tapi saya merasa pembicara keliru memberikan contoh bagaimana seharusnya pemuda menunjukkan nasionalisme. Apalagi peserta yang hadir disana adalah perwakilan karang taruna dari berbagai kelurahan serta para ketua pemuda dari berbagai banjar (banjar = setingkat RT/RW). Bisa jadi pola pikir ini akan menyebar kepada para pemuda lainnya.

Di akhir sesi sebenarnya saya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan, diantaranya “menurut bapak bagaimana seharusnya pemuda menunjukkan nasionalisme? Menurut bapak apa pengertian nasionalisme?”. Tapi sayang seribu sayang, pembicara sama sekali tidak memberikan kesempatan tanya jawab.

Ya, jadilah saya hanya curhat disini..

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

7 comments

  1. Si pembicara mempersempit makna nasionalisme. Tapi mungkin itu triknya untuk menghemat topik karena keterbatasan waktu. Sebab kalau nasionalisme dibahas dari berbagai sudut pandang, mungkin ndak akan cukup waktu sehari-dua hari.

    Saya setuju dengan pendapat anda, Bli.

  2. Kristian says:

    Ya mungkin aja pembicaranya hanya ingin mempersempit bahasan aja dengan contoh sesederhana mungkin. tapi kalau ngga salah ada juga tuh yang anak SD waktu upacara ngga hormat bendera. Tapi secara umum saya setuju dengan pandangan anda, bahwa makna nasionalisme itu tidak bisa dipersempit ataupun disamakan dengan sikap ketika hormat bendera saja
    Kristian´s last blog post ..Football Manager 2012: Milan Badelj – Good Prospect Player

  3. Cahya says:

    Saya rasa contohnya tidak keliru, tapi mungkin itu adalah sebuah contoh ekstrem yang tampak menyempit :).

    Tapi ketika kita sudah mulai mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan bersama. Maka saya rasa itu saja sudah merupakan cermin bahwa kita kehilangan rasa nasionalisme kita ;).
    Cahya´s last blog post ..The Way You Pink Me

  4. giewahyudi says:

    Wah saya sih biasanya kalau ada bendera, misalnya di depan hotel, langsung hormat grak! :)
    giewahyudi´s last blog post ..Mari Menyumbang untuk Melestarikan Wikipedia

  5. Agus Lenyot says:

    Nasionalisme kita memang lebih banyak bergerak di tataran gagasan dan hal-hal artifisial ketimbang tindakan konkret :)
    Agus Lenyot´s last blog post ..Kekalahan ini Begitu Mahal Harganya

  6. myjayvyn says:

    saya kira pembicaranya.. mungkin kurang persiapan.. malas memberikan contoh tandanya dia kurang nasionalisme.. :)

Leave a Reply

CommentLuv badge