Tawuran dan Solidaritas

September 21st, 2011 by imadewira Leave a reply »

Kasus bentrok antara siswa SMA dan wartawan yang menjadi salah satu topik di media beberapa hari terakhir ini cukup menarik perhatian saya. Untuk kejadian itu saya tidak berani komentar siapa yang salah dan siapa yang benar. Mungkin satu sama lain memiliki alasan sendiri-sendiri yang bertolak belakang sehingga terjadilah bentrok tersebut.

Media di televisi juga sempat memberitakan tentang cukup seringnya bentrokan (tawuran) terjadi di sekolah tersebut dengan sekolah-sekolah lainnya. Hal ini membuat saya berpikir, bagaimana tawuran bisa terjadi sesering itu. Saya mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana saya menjalani masa SMA dulu. Saya sendiri sama sekali tidak pernah ikut tawuran, walaupun pernah sekali berada dalam suasana yang bisa dikatakan adalah tawuran.

Lalu apa sebenarnya yang menjadi penyebab adanya tawuran seperti itu? Khususnya yang melibatkan siswa ataupun mahasiswa. Karena dilihat dari segi apapun perkelahian massal atau tawuran jelas tidak baik dan melanggar hukum.

Siswa dan mahasiswa bisa dikatakan adalah mereka yang menginjak masa remaja atau peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Jika saya ingat-ingat kembali, bagaimana perasaan saya dulu ketika SMA dan kuliah. Saya bisa simpulkan bahwa ketika itu saya memiliki solidaritas yang cukup tinggi. Artinya ketika seorang teman sekolah apalagi teman sekelas atau satu geng mengalami masalah, muncul rasa “membela” yang cukup tinggi tanpa melihat bagaimana kejadian atau pun penyebabnya.

Entahlah bagaimana dengan orang lain, tapi menurut saya sifat seperti itu ikut andil dalam terjadinya tawuran-tawuran. Kita dengan mudah terbakar emosi dan akan ikut membela teman yang teraniaya, walaupun mungkin itu akibat keteledoran atau kesalahannya sendiri. Juga rasa takut dibilang pengecut kalau tidak ikut membela teman yang teraniaya.

Itu dulu, apakah sekarang saya tidak memiliki rasa solidaritas? Bukan seperti itu, tapi kalau sekarang saya akan mencoba memilih lebih bijaksana. Apalagi saat ini sudah berbeda dimana saya sudah memiliki istri dan anak yang tentu akan mengkhawatirkan keadaan saya jika terjadi sesuatu.

Saya mencoba untuk menjadi “dewasa”. Misalnya ketika melihat seorang teman saya katakan saya si A dipukul oleh orang lain, yang akan saya lakukan mungkin hanya melerai. Lalu mencoba melihat beberapa hal, misalnya apa permasalahannya, siapa si A dan lain-lain. Bahkan, kalau misalnya si A memang terkenal berandal dan suka membuat onar, ya tentu saja saya akan langsung berlalu.

Tapi umur tidak selalu dijadikan jaminan seseorang akan bisa dewasa. Begitu pula banyak faktor lain yang mungkin menjadi penyebab dan akar permasalahan tawuran-tawuran yang terjadi. Ini hanyalah opini saya pribadi yang mencoba melihat dari sudut pandang lain dan sekali lagi saya tidak bermaksud menyalahkan pihak manapun.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

7 comments

  1. DV says:

    Saya prihatin sekali melihat kejadian yang terjadi di Jakarta, Bli.. Setengahnya emosi ke pelajar, tapi setengahnya lagi juga bertanya ngapain sih wartawan usil demo ke depan sekolah segala.

    Kupikir yang harus bertindak tegas ya hukum… aku tak mau menyalahkan anak2 secara total karena membayangkan jika berada dalam usia dan posisi mereka.. gelegak emosi saya barangkali juga akan memuncak :)
    DV´s last blog post ..Agent of Change. Anda? Saya? Kita semua?

  2. Cahya says:

    Anak-anak SMA memang bisa dibilang memiliki emosi yang meluap-luap, apalagi kalau punya “tradisi” tawuran.

    Nah, beruntung saya tidak dulu sekolah di pelosok, sehingga suasananya cukup damai.
    Cahya´s last blog post ..I See The Light

  3. Wartawannya norak, pelajarnya anarkis.

    Wartawan norak karena pake demo segala di depan sekolahan. Coba kalau mereka yang salah, mereka pengen semua diselesaikan secara musyawarah di dewan pers. Sekalinya mereka jadi korban, heboh bener pake demo segala! Wartawan sekarang cuma sekumpulan orang norak yang merasa hebat dengan UU Persnya.

    Sementara pihak pelajar memang sudah anarkis duluan, terbukti dengan tradisi tawurannya. Di otak mereka sudah ndak ada jalan lain selain berkelahi. Saya jadi pengen lihat, mereka tawuran melawan FPI atau FBR. Kalau memang mereka merasa jagoan mahakam sih, seharusnya jangan pilih-pilih lawan. Tapi, kayanya mereka ndak bakal berani. :P

  4. a! says:

    makanya jangan sok sama wartawan. bisa2 langsung diserbu. pokoknya wartawan pasti benar. tidak mungkin salah. hahaha!!
    a!´s last blog post ..Ngeblog dan Hal-hal Tak Pernah Terbayangkan

  5. andree says:

    permasalahan tawuran adalah sesuatu yg biasa di indonesia apalagi anak sekolah dan mahasiswa memang adanya unsur soledaritas tatapi itu hanyalah alasan yang mereka pergunakan. Tolak ukur kita untuk pelajar yang tawuran menjadi suatu kebiasaan atau bisa di bilang kegiatan non school yang paling diminati kalangan pelajar.
    andree´s last blog post ..ProSpot Fusion HG6 – The Ultimate House Health club Fitness Equipment

Leave a Reply

CommentLuv badge