Tas Untuk Sampah Upakara, Ndak Salah Tuh?

November 5th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Canang merupakan salah satu sarana upacara dalam agama Hindu khususnya di Bali.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah iklan di radio yang isinya himbauan tentang kebersihan lingkungan. Dalam iklan tersebut ada percakapan antara dua orang yang ceritanya adalah pasangan suami istri yang akan berangkat bersembahyang ke pura. Kalau tidak salah dua orang ini diperankan oleh Bli Gede Tomat dan Mbok Luh Camplung, dua seniman yang sudah terkenal di Bali. Saya tidak ingat persis kalimat dalam percakapan itu, tapi yang jelas isinya himbauan tentang kebersihan lingkungan dalam mendukung program Gubernur Bali.

Yang agak aneh menurut saya adalah himbauan tersebut adalah agar orang yang bersembahyang ke pura diharapkan membawa tas yang nantinya dipergunakan untuk tempat sampah sisa upakara seperti canang dan lainnnya. Saya tidak tahu tas apa maksudnya, tapi melihat kenyataan mungkin maksudnya tas kresek / tas plastik. Kalau iya, tentu sangat aneh bukan? Mau menjaga kebersihan lingkungan tetapi setiap orang diharapkan membawa tas plastik untuk sampah sisa upakara. Kalau setiap orang mau membawa tas plastik, penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan akan semakin banyak.

Saya mengerti maksud iklan itu baik, karena selama ini sebagian orang yang sembahyang di pura biasa meninggalkan begitu saja sisa sarana sembahyang seperti canang, dupa dan lainnya. Sehingga areal pura khususnya di halaman tempat sembahyang menjadi kotor, apalagi kalau diiringi cuaca hujan maka pemandangan akan kurang sedap. Tapi menurut saya, solusinya tidak perlu setiap orang membawa tas plastik untuk memungut sampah masing-masing. Canang sisa sembahyang itu cukup dipungut dengan tangan dan dibawa ke tempat sampah yang sudah disediakan di pura. Ini lebih baik karena tidak perlu menggunakan tas plastik untuk tempat sampah. Apalagi sampah sisa upakara seperti canang merupakan sampah organik.

Yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah bukan tempat sampahnya, tapi kebiasaan yang perlu dirubah. Dan saya yakin ini bisa kalau ada kemauan dan kesadaran setiap orang untuk menjaga kebersihan. Saya melihat contoh nyata di Pura Segara Kenjeran di Surabaya. Empat tahun selama kuliah saya biasa bersembahyang disana. Karena sudah menjadi kebiasaan, areal pura disana tetap bersih karena setiap selesai sembahyang setiap orang langsung memungut dan membawa sisa sarana sembahyang seperti canang, bunga, dupa dan lainnya untuk dibawa dan dibuang di tempat sampah yang sudah disediakan.

Kebiasaan baik itu perlu ditiru dan saya melihat di Bali sudah banyak orang yang mau melakukannya. Tidak perlu malu meniru kebiasaan baik itu. Kita mulai saja dari lingkungan terkecil di rumah, lalu di pura keluarga dan yang lebih besar lagi. Maka ketika kita bersembahyang di pura-pura besar seperti Pura Besakih dan lainnya, kebiasaan itu akan bisa terbawa otomatis. Kalau sudah bisa begitu kita sendiri yang akan menikmati keheningan pikiran saat bersembahyang. Secara nyata kita juga sudah ikut menjaga kebersihan dan kesucian pura, karena kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

2 comments

  1. DV says:

    Ah menarik! Niat yang baik memang perlu diimbangi dengan implementasi yang baik dari awal hingga akhir ya, Bli!

    Membaca posting ini, aku jadi kangen Bali!
    DV´s last blog post ..Masa lalu tentang perasaan, masa depan tentang pemikiran. Benarkah?

Leave a Reply

CommentLuv badge