Tangkil Ke Pura Batur dan Besakih

Tempat suci untuk bersembahnya umat Hindu disebut dengan Pura. Di Bali, pura yang terbesar adalah Pura Besakih, pura ini sebenarnya bukan hanya terdiri dari satu buah pura tapi merupakan komplek dari beberapa pura. Pura ini terletak di lereng Gunung Agung di sebuah desa yang bernama desa Besakih. Untuk lebih jelas tentang pura Besakih, berikut beberapa sumber lain yang bisa anda baca :

Seperti hal pura lainnya, di pura Besakih juga biasa diadakan upacara/piodalan. Bahkan dari sumber lain yang saya baca dalam setahun setidaknya terdapat 70 upacara di komplek pura Besakih. Nah salah yang biasa banyak dikunjungi umat Hindu adalah ketika upacara “Karya Agung Betara Turun Kabeh”. Upacara ini dilakukan setiap tahun dan tahun ini puncaknya dilakukan pada tanggal 19 Maret 2011 yang lalu. Namun umat Hindu masih bisa datang untuk bersembahyang hingga tanggal 6 April 2011.

Di tahun-tahun sebelumnnya saya cukup sering datang ‘tangkil’ ke pura Besakih saat upacara “Betara Turun Kabeh”. Tentu saja beberapa hari sebelum upacara puncaknya. Saat masih SMA, saya dan teman-teman biasanya berangkat bersama-sama menggunakan beberapa mobil. Lalu saat 4 tahun kuliah di Surabaya saya hampir tidak pernah sempat ke pura Besakih. Setelah kembali ke Bali, saya kembali ‘tangkil’ ke Besakih bersama teman-teman masa SMA.

Sebelum menikah, beberapa kali juga saya ‘tangkil’ ke pura Besakih bersama keluarga mertua (saat itu masih calon mertua). Setelah menikah hingga hari ini saya belum sempat ke Pura Besakih lagi. Dan malam ini saya bersama keluarga berencana untuk ‘tangkil’ lagi ke pura Besakih. Sekaligus untuk pertama kalinya mengajak putri saya yang baru berumur 1 tahun 1 bulan untuk bersembahyang di pura Besakih.

Seperti biasa kami memilih untuk berangkat di malam hari, sekitar pukul 21.00. Sebelum menuju pura Besakih kami biasanya terlebih dahulu tangkil ke pura Batur yang terletak di desa Kalanganyar, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pura Batur ini konon memiliki kaitan erat dengan pura Besakih. Biasanya sekitar pukul 00.00 kami berada di pura Batur, setelah itu barulah perjalanan di lanjutkan ke Pura Besakih dan menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Jadi sebelum matahari terbit kami sudah tiba kembali di rumah.

Pertimbangan untuk berangkat malam hari adalah untuk menghindari kondisi yang terlalu ramai dan macet. Di samping itu perjalanan juga bisa lebih santai dan tidak panas, tapi kami malah menyiapkan kondisi karena udara yang cukup dingin khususnya di pura Batur. Dan kali ini ada satu lagi alasan saya untuk berangkat malam hari yaitu karena putri kecil saya akan ikut. Jadi saya berharap dalam perjalanan putri saya akan tidur sehingga tidak terlalu lelah yang bisa menyebabkan dia menjadi rewel.

Malam ini kami rencanya berangkat menggunakan 2 mobil. Mobil pertama saya bersama anak istri beserta keluarga mertua, mobil kedua untuk kakak saya dan anak istrinya serta orang tua saya. Dari beberapa hari yang lalu kami sudah menyusun rencana agara tidak berbenturan dengan kesibukan masing-masing dan akhirnya disepakati kami akan bersembahyang ke Besakih malam ini.

Semoga saja semua rencana berjalan lancar dan kami bisa di tujuan dengan selamat. Oya, berikut ini ‘bonus’ beberapa foto narsis saya ketika ke pura Besakih :D

Masa SMA, saya yang sendiri nyempil di bawah payung :-)
Tahun 2006, masih bersama teman-teman SMA, Gandoellywood
Tahun 2007, saya yang setengah jongkok di depan :-)
Tahun 2008, anda tahu yang mana saya bukan?

Baca Juga:

I Gusti Agung Made Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

4 thoughts on “Tangkil Ke Pura Batur dan Besakih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *