Makna Hari Raya Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag

Hari raya tumpek Wariga biasa disebut juga tumpek uduh, tumpek bubuh (bubur), tumpek pengatag / pengarah. Makna hari raya tumpek wariga ini sangat erat kaitannya dengan hari raya Galungan. Sebelum membahas makna hari raya tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag, perlu diketahui bahwa hari raya tumpek ini jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, Wuku Wariga. Tumpek merupakan hari raya yang berdasarkan wuku (1 wuku = 7 hari, jadi seminggu dimulai dari hari Minggu). Tumpek Wariga dilaksanakan tepat 25 hari sebelum hari raya Galungan (yang juga berdasarkan Wuku), dimana hari raya Tumpek Wariga ini memiliki makna dan kaitan yang erat dengan hari raya Galungan.

Makna hari raya Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag adalah sebagai ungkapan terima kasih umat manusia terhadap alam khususnya berbagai tanaman dan tumbuhan yang telah memberikan limpahan kenikmatan kehidupan. Umat Hindu di Bali sejak dulu sangat menghargai dan mencintai alam, dan kecintaan pada alam ini dituangkan dalam berbagai bentuk termasuk dalam hari raya Tumpek Wariga.

Dalam pelaksanaannya, Tumpek Wariga / Uduh / Bubuh / Pengatag ini, umat Hindu di Bali akan membuat upacara dan sesajen khusus dan melakukan persembahyangan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Sangkara yang memelihara semua tanaman / pepohonan yang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Salah satu ciri khas dari sesajen ini biasanya disertai dengan Bubuh (bubur), makanya sering disebut Tumpek Bubuh. Ada doa / kalimat unik yang biasanya diucapkan di tanaman / pepohonan (biasanya pohon buah) yaitu kurang lebih seperti ini : “Kaki-kaki, buin selae (25) dina Galunganne, mebuah ja apang nged”. Artinya kurang lebih, Kakek, 25 hari lagi Galungan, berbuahlah yang banyak.

Pada intinya, makna hari Raya Tumpek Wariga, umat manusia kembali mengingat dan mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah menciptakan lingkungan termasuk tanaman dan tumbuhan.