Mengikuti Outbound STP Bali 2019

Kegiatan Outbound di STP Bali adalah kegiatan yang rutin tiap tahun dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini. Tapi saya sendiri agak jarang ikut, hehe. Saya pernah ikut sekali saja waktu outbound ke kebun raya Bedugul, itupun bawa kendaraan sendiri. Sementara outbound ke Jawa Timur naik bus saya tidak ikut, begitu pula ke Yogyakarta naik pesawat tahun lalu juga saya tidak ikut.

Outbound STP Bali tahun 2019 ini ke Jakarta dan Bogor saya memutuskan untuk ikut. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah acara ke Pura / Parahyangan Gunung Salak, karena saya belum pernah tangkil kesana, saya pikir ini kesempatan bagus. Jadi ketika pendaftaran dibuka saya langsung mendaftar. Acara Outbound ini direncanakan selama 3 hari 2 malam. Dibagi menjadi 2 gelombang, saya ikut gelombang pertama yaitu tanggal 23-25 Juni 2019.

Yang agak mengganjal sebelum berangkat ini adalah kondisi kesehatan saya. Sudah sejak sebulan lebih saya flu, batuk sampai telinga bindeng. Saya bahkan sudah flu sebelum tugas ke Makassar 5 hari 4 malam sebulan yang lalu. Pulang dari Makassar masih flu juga dan batuk berdahak. Yang membuat tidak nyaman adalah telinga saya bindeng, mampet. Bahkan dalam perjalanan pulang dari Makassar itu, di pesawat telinga saya sempat sampai terasa sakit sekali karena mampet, sampai terasa pusing. Itu juga yang membuat saya khawatir kalau mau naik pesawat lagi.

Saya lalu ke dokter THT, dikasi obat dan agak mendingan tapi belum hilang juga flu dan bindeng di telinga. Lalu coba ke dokter THT lain, dikasi obat lagi, sempat agak membaik tapi belum sembuh juga, hingga sekitar seminggu sebelum berangkat saya coba lagi ke dokter THT yang lain lagi, dikasi obat lagi dan diyakinkan akan sembuh dan bisa naik pesawat. Semua saya ikuti. Hingga akhirnya beberapa hari sebelum berangkat kondisi saya terus membaik walau belum benar-benar hilang flu. Tapi setidaknya telinga bindeng sudah agak membaik namun masih terasa aneh, rasanya kadang seperti abis mendengar suara ledakan yang terngiang di telinga, agak susah menjelaskannya.

Hari minggu tanggal 23 waktu berangkat pun tiba, flu saya sudah hampir hilang, telinga juga tidak mampet tapi rasanya belum benar-benar plong, masih seperti akan mampet. Saya pun berangkat ke Jakarta bersama rombongan kloter 1 gelombang 1. Di pesawat telinga saya mulai mampet lagi, tapi saya tetap tenang karena tidak sakit. Tapi menjelang mendarat telinga kanan yang mampet rasanya mulai sakit, saya mulai agak resah, untung saja kami segera mendarat, hanya sekitar 10 menit saya merasa sakit.

Dari Bandara kami naik bus dan diajak wisata ke Kota Tua, telinga kanan saya masih mampet. Saya tetap bisa enjoy karena tidak sakit walau tetap rasanya aneh. Sekitar 1 jam di Kota Tua, kami diajak ke tempat makan. Menunya lumayan enak. Selesai makan kami menuju ke TMII tapi agak lama di perjalanan karena macet. Tiba di TMII pun tidak banyak yang bisa kami lakukan karena sangat padat sekali, kami hanya bisa diam di bus yang terjebak macet di dalam TMII. Hingga waktu mulai sore dan kami langsung keluar dari TMII menuju ke tempat makan malam. Menu makan malam juga enak. Selesai makan malam kami langsung ke hotel di Ibis Style Mangga Dua.

Hari kedua Outbound STP Bali 2019 kami menuju ke Pura Gunung Salak. Dari hotel kami berangkat menggunakan bus sekitar pukul 08.00 WIB, sebelumnya kami sudah sarapan di hotel. Kami langsung memakai pakaian sembahyang dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 2 jam. Perjalanan ke Bogor sangat lancar dan kami tiba sedikit lebih awal. Acara yang awalnya direncanakan Darma Wecana ditukar dengan sembahyang dulu, baru kemudian Darma Wecana yang dibawakan oleh Bapak Wayan Suastika. Kami sempat berfoto bersama mengabadikan momen berharga itu.

Selesai sembahyang, peserta Outbound langsung berganti pakaian dengan seragam outbound yang sudah dibagikan panitia sebelum berangkat ke Jakarta. Kami lalu menikmati makan siang dulu di wantilan pura dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor, istana presiden. Perjalanan kembali ke kebun raya Bogor juga lumayan lancar. Kami lalu berkeliling di kebun raya Bogor dan tidak lupa berfoto bersama. Sekitar 1,5 jam disana, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, langsung menuju tempat makan malam.

Selesai makan malam kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Kondisi fisik saya sendiri lumayan fit, telinga sempat beberapa kali agak mampet di perjalanan tapi tidak terlalu mengganggu, saya bersyukur akhirnya bisa tangkil ke Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak. Oya kita tidak menyebut tempat suci di Gunung Salak itu dengan Pura, tetapi Parahyangan yang dalam bahasa Sunda berarti tempat suci.

Hari ketiga, hari terakhir kegiatan Outbound STP Bali 2019, pukul 08.30 waktu setempat kami check out dari hotel. Tentunya sebelumnya sarapan dulu di hotel. Dari hotel kami langsung diajak Ancol. Perjalanan ke Ancol tidak lama karena jaraknya sangat dekat dari hotel. Di Ancol kami sempat berfoto bersama lagi sebelum peserta Outbound diberikan acara bebas. Ada yang Sea World, ada yang ke Dufan dan lainnya, saya sendiri hanya jalan ke Pasar Seni dan berdiam di dekat parkir bus bersama beberapa teman lainnya.

Pukul 11 waktu Jakarta kami berkumpul dan diajak makan siang, tempatnya masih di wilayah Ancol. Selesai makan siang, kami langsung menuju ITC Mangga Dua untuk belanja oleh-oleh. Di Mangga Dua cukup lama yaitu sampai pukul 15.30. Dari sana kami langsung diajak makan malam lebih awal yang lokasinya tidak jauh dari bandara. Selesai makan kami menuju bandara dan tiba pukul 17.30 dimana jadwal boarding kami yang kloter pertama adalah pukul 18.50, jadi waktunya masih banyak. Dalam perjalanan pulang di pesawat, telinga saya mampet dan sakit lagi, seperti dalam perjalanan ke Jakarta yaitu sekitar 15 menit sebelum mendarat.

Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak

Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak adalah sebuah tempat suci agama Hindu yang berlokasi di Taman Sari, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Tempat suci ini adalah sebuah pura tetapi oleh pengelola tidak disebut dengan kata Pura melainkan Parahyangan yang dalam bahasa Sunda berarti tempat suci, jadi maknanya sama tetapi beda penyebutan saja.

Nama lengkap tempat ini adalah Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak tapi bisa disingkat dengan Parahyangan Gunung Salak. Oleh umat Hindu di Bali mungkin tidak sedikit yang menyebut dengan Pura Gunung Salak. Jika dicari di Google Map mungkin tidak akan ditemukan Pura Gunung Salak, karena yang ada adalah Parahyangan Gunung Salak.

Untuk umat Hindu yang ingin tangkil ke Parahyangan Gunung Salak, khususnya yang dari luar daerah seperti dari Bali, bisa menggunakan pesawat udara menuju Jakarta. Dari Jakarta menuju Bogor menggunakan kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dalam kondisi lancar. Akses jalan menuju Parahyangan Gunung Salak khususnya setelah tiba di Bogor sudah bagus, jalan beton/aspal namun tidak terlalu lebar, jadi jika menggunakan bus besar harus agak pelan saat berpapasan.

Parahyangan Agung Jagadkarta Gunung Salak ini terletak di lereng Gunung Salak, Bogor. Jalan menuju kesana tentu saja terus menanjak namun tidak terlalu curam. Kondisi cuaca juga biasanya bagus, agak dingin namun tidak terlalu ekstrem, jika cerah kita masih bisa tanpa jaket.

Menurut informasi dari Bapak Wayan Suastika dalam Darma Wecana yang disampaikannya, Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak ini mulai dirintis tahun 1985. Karya Ngenteg Linggih telah dilaksanakan pada tahun 2005 yang lalu. Sedangkan Pujawali di Parahyangan Gunung Salak adalah pada Purnamaning Ketiga, yaitu sekitar bulan September.

Pengelola Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak ada 2 yaitu : Pengelola dan Pengempon. Pengelolanya adalah Yayasan Giri Taman Sari yang dipimpin oleh Letjen Wayan Medio. Sedangkan Pengempon sehari-hari dipimpin oleh Prof. Nengah Suratijaya. Parahyangan Gunung Salak diemong oleh 21 banjar dari 3 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat. Setiap pujawali akan dilaksanakan oleh salah satu banjar dan dibantu oleh seluruh banjar lainnya. Di tahun 2019 yaitu bulan September, pujawali akan dilaksanakan oleh Banjar Bekasi.

Suasana di Parahyangan Gunung Salak sangat tenang, agung dan tentram. Pengelola Parahyangan juga sangat memperhatikan kesucian tempat ini. Sebagai contoh, umat yang ingin sembahyang diminta meletakkan alas kaki di tempat yang sudah disediakan di depan area wantilan. Jadi selama di areal Parahyangan kita tidak menggunakan alas kaki. Handphone dan alat komunikasi juga wajib dinonaktifkan selama berada di Utamaning Mandala, khususnya suara agar tidak mengganggu keheningan saat sembahyang.

Demikianlah informasi mengenai Parahyangan Agung Jagadkarta Taman Sari Gunung Salak, mohom koreksi jika ada yang kurang tepat. Semoga bermanfaat.

Workshop dan Asistensi Pelaporan PDDIKTI 2017 di Bogor

Baru beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke Bogor dalam rangka Bimtek Pranata Komputer, eh sekarang ke Bogor lagi. Kali ini dalam acara Workshop dan Asistensi Pelaporan PDDIKTI, acara ini hampir tiap tahun diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Kebetulan di STP Nusa Dua Bali saya sebagai ketua Tim Pengelola PDDIKTI, jadi saya ditunjuk berangkat menemani Bapak Tonsen (atasan saya).

Read More

Bimtek Prakom dan Statistisi di Bogor

Perjalanan dinas (perjadin) saya kali ini adalah mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Jabatan Fungsional Pranata Komputer dan Statistisi di Lingkungan Kementerian Pariwisata yang dilaksanakan di Hotel Citra Cikopo, Bogor, pada tanggal 10 – 12 Agustus 2017. Ini pertama kalinya saya menjalani perjalan dinas sendirian dari berangkat sampai pulang. Dulu waktu ke Jakarta saya pernah sendirian waktu pulangnya saja. Dan ini juga pertama kalinya saya ke Bogor.

Read More