Soal Keluhan Pengguna Jalan Akibat Layang-Layang

July 30th, 2013 by imadewira Leave a reply »

Sebenarnya sekitar 2 tahun lalu saya sudah pernah menuliskan curahan hati dan pendapat saya tentang apa yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu ramainya keluhan soal rombongan peserta lomba layang-layang yang membawa layangan mereka ke lokasi lomba. Keluhannya pun sama yaitu soal macet yang diakibatkan dan juga perilaku tidak santun (arogan) beberapa oknum dalam rombongan yang membawa layang-layang itu. Pro dan kontra pun seperti bermunculan, ada yang menyalahkan lomba layang-layang, ada yang membela dan seterusnya.

Kejadian dan keluhan yang terus berulang, sepertinya belum ada pihak yang mengambil hikmah dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah / aparat seperti menganggap angin lalu keluhan masyarakat (pengguna jalan), toh hanya beberapa hari saja, mungkin begitu pikiran mereka. Kalau pun mau bertindak, aparat mungkin bingung mau berbuat apa, karena sepertinya tidak mungkin aparat menindak atau menilang peserta lomba layang-layang itu walaupun jelas-jelas mereka melanggar lalu lintas.

Panitia lomba pun sepertinya belum mengambil langkah khusus untuk meminimalkan keluhan masyarakat. Padahal bisa saja panitia berbuat sesuatu, misalnya dengan membuat aturan bahwa layang-layang sudah harus tiba di lokasi lomba paling lambat pukul 06.00 pagi. Jadi peserta bisa membawa layangan mereka dini hari sehingga mungkin bisa meminimalkan “gesekan” dengan pengguna jalan yang lain. Ide ini tentu saja sekedar ide, belum tentu berhasil tetapi mungkin perlu dipertimbangkan. Atau kalau mau lebih repot lagi, panitia bisa memasukkan faktor etika dan sopan santun peserta ketika di jalan raya dalam penilaian dan penentuan pemenang lomba.

Dari pihak peserta lomba juga seharusnya bisa berbuat sesuatu. Para pemimpin rombongan peserta atau mereka yang dituakan harus bisa memberikan panutan yang baik kepada anggotanya agar bisa berprilaku santun di jalan raya. Mereka juga harus berani menegur langsung anggota mereka sendiri yang berbuat arogan. Ini harus dilakukan oleh “orang dalam” sehingga tidak memicu perselisihan seperti ricuh yang terjadi beberapa waktu lalu. Ini juga dilakukan untuk memperbaiki citra “rare angon” hanya karena ulah beberapa orang.

Saya yakin semua orang sebenarnya suka dengan layang-layang, walaupun mereka tidak secara langsung bermain layang-layang. Apalagi orang Bali yang laki-laki, sebagian besar pada masa kecilnya mungkin juga suka bermain layang-layang. Bahkan tidak jarang yang sudah dewasa dan tua pun masih suka bermain layang-layang. Tidak ada yang salah dengan bermain layang-layang, dan tidak pernah ada larangan bermain layang-layang selama tidak membahayakan orang lain dan juga diri sendiri.

Jadi rasanya terlalu lebar kalau kita sampai membawa-bawa soal budaya dan warisan leluhur di Bali, karena semua pasti sudah mengakui itu. Keluhan yang disampaikan para pengguna jalan sebenarnya hanya sederhana yaitu sikap arogan oknum tertentu ketika berada dalam rombongan yang membawa layang-layang, itu saja. Bukan soal macet atau layang-layang, sama sekali bukan itu.

Sikap arogan dan selalu terlihat menantang itu sebenarnya sama sekali tidak perlu kalau hanya ingin lewat membawa layangan. Saya yakin pengguna jalan cukup maklum jika ada sedikit macet disebabkan karena ada layang-layang yang mau lewat dan dibawa ke lokasi lomba. Bahkan tidak jarang yang malah asik menonton layang-layang yang lewat, seperti sebuah atraksi yang menarik. Tanpa diintimidasi pun pengguna jalan akan mau minggir atau berhenti sebentar karena ada layangan yang mau lewat. Alangkah indahnya kalau semua sama-sama saling mengerti.

Semoga saja semua pihak mau berbenah demi kedamaian bersama. Jadi, yuk melayangan lagi..

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

6 comments

  1. dilema menyaksikan truna truni yang ada di sini. Jika dibiarkan, juga semakin menjadi -jadi. aparat pun terkesan tutup muka dan telinga.

  2. KREASI says:

    sejak kapan ya kira-kira kelakuan “mereka” seperti itu? apa ada yang mengamati?
    KREASI´s last blog post ..BBM untuk Android Menampakkan diri

  3. SIge says:

    Atiban cepok bror…haha
    SIge´s last blog post ..‘Kone’ ulian ‘pipis’

  4. Zizy Damanik says:

    Yang seperti ini sama sebenarnya dengan di Jakarta. Ketika yang merasa punya Jakarta petantang petenteng…
    Memang tak boleh dibiarkan, karena ini menyangkut ketertiban bersama.
    Zizy Damanik´s last blog post ..Finally Punya! Si Cantik Samsung NX2000

Leave a Reply

CommentLuv badge