Sistem Kasta di Bali

October 26th, 2011 by imadewira Leave a reply »

Sudah lama saya ingin membuat tulisan tentang kasta, tapi seperti biasa untuk memulainya sangat susah. Saya juga kebingungan harus mulai dari mana, ada rasa khawatir kalau nanti saya salah menjelaskan tentang kasta tersebut. Apalagi kemampuan dan wawasan saya sendiri juga masih sangat sempit.

Maka dari itu, sebelum saya mulai saya tekankan disini bahwa apa yang saya tulis disini adalah murni sebatas pengetahuan saya dan apa yang saya lihat di masyarakat, tulisan ini bersifat opini dan terbuka untuk didebat. Dan saya juga tahu masalah kasta ini, khususnya di Bali cukup sensitif. Saya sendiri termasuk keturunan yang tergolong “berkasta” walaupun tidak terlalu tinggi. Tapi mohon tulisan ini jangan dikaitkan dengan diri pribadi saya. Sekian intronya, sekarang kita mulai..

Catur Wangsa vs Catur Warna

Dalam ajaran agama Hindu (agama mayoritas di Bali), setahu saya ajaran tentang kasta (Catur Wangsa) tidaklah ada, yang ada adalah Catur Warna. Dan menurut apa yang pernah saya baca, baik di internet, koran atau pun lainnya, konon sistem kasta baru ada semenjak abad ke 14.

Sistem Catur Warna “diubah” oleh Belanda yang dulu menjajah Indonesia, tujuannya yaitu untuk memecah belah kekuatan di masyarakat, yaitu dengan semakin memperlebar jarak antara Raja dan rakyatnya, memecah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok kasta, salah satu trik adu domba.

Itu sedikit sejarah yang saya tahu. Lalu bagaimana dengan keadaan saat ini? Saat ini masalah kasta tentu saja masih menjadi pro dan kontra. Ada yang masih begitu fanatik dengan kasta namun ada juga yang bersikap biasa saja dan tidak terlalu peduli masalah kasta.

Saat ini bisa dikatakan kasta di Bali yang saya tahu terdiri dari 3 bagian yaitu :

  • Golongan 1 : Ida Bagus dan lainnya
  • Golongan 2 : Cokorda, Anak Agung, Gusti dan lainnya
  • Golongan 3 : Tidak berkasta

Kasta Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya mereka yang berkasta menggunakan bahasa Bali halus untuk berkomunikasi dengan kasta yang selevel dan level di atasnya. Sementara ketika berbicara dengan berkasta lebih rendah, yang memiliki kasta lebih tinggi kadang dianggap bisa menggunakan bahasa yang biasa atau lebih ‘kasar’.

Dalam kegiatan sosial masyarakat, mereka yang berkasta lebih tinggi juga biasanya lebih dihormati, salah satunya ditunjukkan dengan bahasa seperti yang saya katakan diatas. Apalagi mereka yang berkasta itu kebetulan secara ekonomi lebih mampu alias kaya.

Tentu tidak semua orang seperti itu, banyak juga mereka yang tidak berkasta namun tetap dihormati. Dan kembali juga kepada masing-masing orang karena pada kenyataannya tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang hormat kepada mereka yang berkasta.

Pernikahan

Dalam urusan pernikahan, kasta sangat sering menimbulkan pro dan kontra bahkan kadang menjadi masalah atau batu sandungan. Sama seperti pernikahan beda agama, di Bali pernikahan beda kasta juga biasanya dihindari. Walaupun jaman sudah semakin terbuka, tapi pernikahan beda kasta yang bermasalah kadang masih terjadi.

Di Bali umumnya pernikahan bersifat patrilineal. Jadi seorang perempuan setelah menikah dan menjadi istri akan bergabung dengan keluarga suaminya. Nah, dalam pernikahan beda kasta, seorang perempuan dari kasta yang lebih rendah sudah biasa jika dijadikan istri oleh lelaki dari kasta yang lebih tinggi. Bahkan pihak keluarga perempuan kadang ada rasa bangga.

Lalu bagaimana jika seorang perempuan berkasta menikah dengan lelaki tidak berkasta atau dengan lelaki yang kastanya lebih rendah? Ini istilahnya “nyerod” atau turun kasta. Pernikahan seperti sangat dihindari dan kalaupun terjadi biasanya dengan sistem “ngemaling” yaitu menikah dengan sembunyi-sembunyi. Karena pernikahan “nyerod” seperti ini biasanya tidak akan diijinkan oleh keluarga besar pihak perempuan.

Jadi kalau mau mengikuti “tradisi” diatas, semakin tinggi kasta perempuan maka semakin sempit pula peluang mereka untuk memilih jodoh (*ini kesimpulan pribadi saya saja, hehe). Kasus “nyerod” sangat jarang, jadi jarang ada lelaki biasa (tidak berkasta) memiliki istri yang berkasta.

Tapi anehnya, dibandingkan dengan kasus “nyerod”, masyarakat sepertinya lebih terbiasa dan bisa menerima melihat perempuan yang menikah dengan lelaki yang bukan orang Bali/Hindu. Entahlah.

Oya, sistem patrilineal ini juga menyebabkan orang Bali secara tidak langsung lebih menginginkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Ya walaupun tidak semua orang tua seperti itu.

Bagaimana jika tidak memiliki anak laki-laki? Ada juga sistem pernikahan matrilineal. Yaitu pihak lelaki yang akan bergabung dengan keluarga perempuan. Istilahnya “nyentana” atau “nyeburin”, saat ini juga cukup lumrah terjadi.

Kalau pernikahan “nyeburin” atau “nyentana” ini terjadi dalam satu tingkatan kasta yang sama, biasanya tidak akan ada masalah. Tapi bagaimana kalau beda kasta? Pernikahan “nyentana” dengan kasta berbeda sangat jarang terjadi, karena baik “naik kasta” atau pun “turun kasta” akan terlihat aneh di masyarakat.

Misalnya saja si Wayan yang “nyentana” yaitu menikah pihak perempuan yang berkasta, ini sangat sulit. Pertama, pihak keluara perempuan biasanya tidak akan menerima. Masyarakat di sekitar juga nanti bingung, apakah si Wayan akan naik kasta menjadi berkasta seperti istrinya atau tetap tidak berkasta. Lalu ketika mereka punya anak, apa kastanya? Ah, ribet.

Itu yang “naik kasta”, lalu bagaimana dengan turun kasta? Misalnya seorang lelaki berkasta menikah “nyentana” ke perempuan yang tidak berkasta. Berarti lelaki tersebut akan kehilangan kastanya. Hal ini biasanya tidak akan diijinkan oleh keluarga pihak lelaki. Jadi, berkaitan dengan kasta, pernikahan model “nyentana” akan ribet kalau terjadi dengan berbeda kasta.

Nama

Nama orang Bali pada umumnya memiliki kaitan erat dengan kasta, karena pada nama orang Bali biasanya akan terlihat apa kastanya. Imbuhan kasta ini akan terlihat di bagian awal nama. Saya sudah menulis khusus tentang keunikan nama orang Bali, silahkan simak di link di bawah ini.

http://imadewira.com/nama-orang-bali/

Nah karena ada imbuhan kasta seperti, walaupun jarang namun ada juga yang mengeluh karena nama menjadi cukup panjang. Belum lagi permasalahan yang timbul karena adanya perbedaan nama kasta antara orang tua dan anaknya.

Tidak seperti di daerah lain, di Bali umumnya seorang anak kastanya harus sama dengan orang tuanya. Jadi seorang anak tidak boleh diberi nama dengan awalan “Anak Agung” di depannya kalau orang tuanya bukan dari kasta tersebut. Saya sendiri pernah berpikir, bagaimana semisal ada orang berkasta yang memiliki anak lalu pada nama anaknya tidak dicantumkan kastanya, apakah boleh? Entahlah.

Saya pernah mendengar kabar, entah benar atau tidak bahwa urusan nama kasta pada anak dan orang tua nantinya akan berkaitan dengan hak waris. Seperti yang dialami orang tua saya dulu, maklum saat itu belum tertib administrasi. Karena nama kasta ayah saya tidak sama dengan kakek saya, maka menimbulkan sedikit masalah.

Kesimpulan

Baiklah, cukup sekian tulisan saya mengenai kasta khususnya di Bali. Sekali lagi saya tidak bermaksud pro atau pun kontra tentang sistem kasta ini. Tulisan ini hanya sebuah bahan renungan dan pertimbangan. Apabila ada dirasa salah atau keliru, mohon dituliskan dalam kolom komentar di bawah.

Saya sendiri tidak mengatakan bahwa sistem kasta ini buruk dan harus ditinggalkan. Karena sejarah sudah berjalan dan kasta sudah begitu lekat dengan orang Bali. Namun saya juga tidak suka bila terlalu fanatik dengan kasta, misalnya masalah bahasa dan berbagai hal yang kesannya membeda-bedakan masyarakat dari golongan kasta. Kita sebaiknya jangan menilai seseorang dari apa kastanya.

Semoga saja ke depannya orang Bali khususnya yang beragama Hindu bisa lebih bijak menyikapi permasalahan yang berkaitan dengan kasta. Hal-hal yang dirasakan tidak enak dan merugikan sebaiknya memang ditinggalkan saja. Namun hal-hal positifnya tetap patut dipertahankan, apalagi untuk memfilter berbagai pengaruh dari luar sehingga ke depannya Bali yang kita cintai tetap “ajeg” serta damai dan lestari selamanya.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

53 comments

  1. sunariyasa says:

    bagus sekali pak….teruslah menulis tentang budaya bali bali agar masyarakat bisa lebih thu tentang apa yg ayg yg sesungguhnya terjadi dan apa yg melatar belakanginya,trimks

  2. agussupria says:

    betul sekali mudah-mudahan akan lebih bijak menyikapinya

  3. a! says:

    sori komennya agak OOT. kebetulan banget minggu lalu baru dari sana. tenryata di Toraja juga ada kasta seperti juga di Bali. dan, seperti juga di bali, sistem kasta ini tak berlaku dalam kehidupan sehari-hari. dia hanya berlaku saat upacara adat.

    sebagai adat atau kekayaan budaya, biarkan saja dia tetap ada. toh, dalam kehidupan sosial sehari2 tak terlalu berlaku lagi. gitu kali ya. :)
    a!´s last blog post ..Blogger, Dari Komunitas Menuju Komoditas

  4. PanDe Baik says:

    akan banyak komentar nih.
    Pertama, tulisannya keren. setelah lama menanti topik lain dari motoGP, akhirnya tumpah jua. mungkin untuk blog saya, butuh waktu lama juga biar bisa membelot dari tulisan gadget. :p
    Kedua, soal Catur Wangsa/Warna bagi saya sah”saja orang mau menyebut diri mereka itu adalah Brahmana atau golongan lain. tapi yang perlu diingat bahwa kapan sebenarnya mereka bisa disebut Brahmana, kapan yang lainnya. Ini secara pribadi loh ya.
    Brahmana adalah saat mereka yang berasal dari keluarga/identitas apapun, melakukan diksa atau menyucikan diri untuk menjadi seorang sulinggih/tokoh agama yang dituakan atau menjadi panutan. Selama seorang Ida Bagus katakanlah, belum menjadi seperti itu, tetaplah ia seorang sudra yang kedudukannya sama dengan yang lain. apalagi jika sampai ybs melakukan tindak kejahatan, apakah pantas disebut sebagai Brahmana ?
    hehehe…

  5. PanDe Baik says:

    Ketiga, soal Bahasa. Bagi saya pribadi saat ini (menikah dan memiliki 2 keluarga), bahasa bali halus adalah wajib diketahui dan dipelajari oleh orang yang berasal dari identitas tak jelas sekalipun. Karena ini akan dibutuhkan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, disegani atau bahkan belum kenal dengan baik.
    Penggunaan bahasa bali halus, bisa jadi sebagai perwujudan rasa hormat kita kepada mereka. Akan berbeda ketika orang yang kita hadapi sudah tau luar dalam, barangkali akan lain masalahnya. Bahasa bisa sedikit diturunkan menjadi madya atau sor sesuai kesepakatan. :)

  6. PanDe Baik says:

    Keempat terkait pernikahan. Ini akan kembali kepada latar belakang keluarga baik pihak laki-laki maupun perempuannya.
    pengalaman di lingkungan kami, ada yang mendapati lawan bicara yang masih fanatik, namun ada juga yang sudah berpikiran moderat.
    Saya pribadi mengalaminya lantaran keluarga Istri tergolong berasal dari keluarga ‘Arya’. Namun lantaran penyampaian maksud kami yang dapat diterima oleh keluarganya dengan baik, tidak ada istilah nyerod atau ngemaling saat proses pernikahan berlangsung. intinya adalah sama”saling menghormati ‘keluarga satu dengan lainnya’.
    Kelima soal Pemberian Nama. Nah ini dia yang menarik.
    Ada satu entah tradisi atau mungkin karena latah bahwa mereka yang menyandang nama I Gusti yang berdomisili di Denpasar dan Tabanan, ketika memiliki putra/putri memberi nama Anak Agung. Bahkan dalam memanggilnya pun ada embel”Gung”.
    Ada juga dengan mereka yang kemudian digugat terkait klaim ‘I Gusti’ padahal nama sebenarnya adalah ‘I Gusi’. Ini bukan salah ketik loh. Karena kabarnya Gusti akan turun derajat menjadi Gusi ketika mengambil Istri dari soroh lainnya. Entah benar atau tidak mohon dikoreksi.
    Namun ada juga yang tidak mempermasalahkan seperti Raja baru kita kemarin, yang malah bertanya balik ‘mengapa harus dilarang untuk menggunakan nama”gelar tersebut ? atau mengapa dilarang untuk menggunakan istilah kediaman ‘puri, jero’ ?
    :p

  7. PanDe Baik says:

    Keenam, terakhir… janji deh yang terakhir. ;p
    Soal Fanatisme.
    Bagi saya itu perlu, namun untuk kepentingan tertentu.
    Kepentingan untuk mengetahui siapa kita sebenarnya dimasa lalu, atau siapa leluhur sebelumnya, kemana melangkah selanjutnya karena ini berkaitan dengan keyakinan.
    trus ada juga terkait kebutuhan. Jika saya seorang ‘nak pande, minimal harus tau dengan apa itu Dharma kepandean, bhisama atau barangkali hal-hal penting yang kelak dibutuhkan oleh seorang ‘semeton pande dimanapun mereka berada.
    istilahnya menempatkan diri agar tak keluar dari jalur. tidak mungkin kan jika saya mengklaim diri sebagai seorang raja Bali atau Majapahit sementara secara history tidak pernah ada ? hehehe…
    dan fanatisme itu akan indah apabila kita berhasil mengontrol dan menjalankannya dengan kekinian. ini pula yang sedang kami lakukan secara bersama-sama di tingkat generasi muda pande. hehehe…

    enam poin komentar sudah lebih dari cukup kan Wir ?

    • imadewira says:

      Sangat cukup bli, kalau komentar bli Pande dikumpulin, akan bisa menjadi sebuah tulisan menarik juga yang menjadi pembanding tulisan saya ini. Ayo bli, posting di blognya bli ya..?

  8. .gungws says:

    woheee…disapuu sama bli Pande! setuju,bli :D
    tulisan asyik :) baru aja saya mau nulis tentang ini juga, seminggu terakhir kebetulan ikut Aji kunjungan ke puri-jeroan2 dirumah..

    komentar dikit tentang nama, kata Aji saya, perbedaan nama utk golongan ksatria antar kabupaten cuma akal2an belanda, intinya semuanya sama, dari gusti, anak agung, dewa agung, cokorda. sama.

    jaman juga udah berubah ke ujung jari, udah lewat masanya kalau masih fanatik ngawag sama nama.
    sisanya..setujuh bgt sama bli pande

    *play lagu DialogDiniHari – Aku adalah Kamu* :)
    .gungws´s last blog post ..festival vertikal

  9. Arif Chasan says:

    loh, di bali ada kasta juga ya? *sumpah baru tau
    Arif Chasan´s last blog post ..The Dark Knight

  10. anget anget says:

    menurut saya dalam suatu kebudayaan atau kehidupan yang bertingkat, tingkat yang paling ataslah yang paling menyenangkan. yang bawah yang paling menderita/minimal tidak mempunyai hak yang istimewa seperti yang diatas. Tapi kehidupan terus berputar dan jaman sekarang yang paling kayalah yang akan menang karena sekarang jaman materi.
    anget anget´s last blog post ..LAGU ALAMAT PALSU AYU TING TING SUDAH DIGANTI JUDULNYA

  11. giewahyudi says:

    Ini salah satu kekayaan budaya yang kita miliki..
    Senang rasanya ada yang masih peduli dengan kekayaan budaya ini..

  12. zulham says:

    Informasi menarik dan tulisan yang mudah dipahami.
    zulham´s last blog post ..Nikmatnya Kuliah Sambil Kerja

  13. abu abu says:

    kasta itu budaya india (hindu) yg dibawa ke indonesia jadi bukan bikinan belanda. klo belanda memperuncing dengan adu doma iya kali.

    di india kasta malah lebih ribet. di era modern tentu hal yg ribet akan ditinggalkan keculai yg menguntungkan (materi).

    salam bli

  14. guli says:

    Kasta ada di Bali sekitar abad 15, dibuat oleh Dhanghyang Nirarta dan disahkan dengan awig-awig oleh Dalem Waturenggong. Sebelumnya tidak ada kasta yang kaku baik di India maupun di Bali. contohnya : Ken Arok (abad ke 12),seorang tanpa kasta/penyamun, menjadi raja di Singosari. Damar Wulan,pengangon kuda bisa menjadi Raja (ksatrya) di Majapahit. Kebo Iwo, rakyat biasa, menjadi Ksatrya Bali. Zaman Mahabarata juga tidak ada kasta yang kaku, contohnya: Bambang Ekalaya, rakyat biasa bisa menjadi Ksatrya. Anak kusir kereta (Radeya), anak gembala sapi berkulit hitam bukan ras Arya(Kreshna/govinda/gopala), anak Babu/pembantu rumah tangga /sudra (Narada) bisa menjadi Brahmana. Bahkan Narada bisa menjadi penghulu di sorga dengan sebutan Betara Narada. Bagawan Wiyasa ( di Jawa disebut Abiyoso ) yang dianggap “Nabi” oleh umat Hindu, berkulit hitam,bibir tebal, hidung lebar, bukan ras Arya, bisa menjadi Brahmana. Setyawati, anak nelayan, bisa menjadi permaisuri Raja Sentanu. Dizaman modern seorang Budak (Untung Surapati) bisa menjadi Kesatrya. Kasta di India mulai dibuat oleh penjajah Arab ( Islam) dan Eropa (Kristen) mulai sekitar abad ke 7-17, dan disahkan dengan awig-awig oleh pemerintah kolonial portugis dan Inggris. Orang Arab dan Kristen ingin menerapkan Perbudakan seperti diperintahkan oleh kitab sucinya(Baca Immamat,keluaran,timotius,dan banyak ayat-ayat perbudakan lainnya. An Nissaa,Al Mu’minuum). sedangkan Catur Warna yang diterjemahkan menjadi empat Kasta sebenarnya salah besar, tidak sesuai dengan ajaran Bagawan Gita. Catur Warna kalau kita teliti dalam seloka-seloka BG IV.13.BG.XIV.6-8/11-13.BG.XVIII.42-44, maupun Yayur Weda XXX.5, lebih tepat disebut EMPAT TIPE KEPRIBADIAN MANUSIA, Empat tipe kepribadian manusia ini merupakan empat tipe karakteristik pola pikiran dan pola perilaku yang relatif mantap dengan kecenderungan dan perangai yang sebagian besar dibentuk oleh interaksi dinamis triguna karma (BG IV.13). Empat Tipe Kepribadian ini mengarahkan orang untuk memilih profesinya yang sesuai dengankepribadiannya. Jadi umat Hindu telah digiring kedalam pola pemikiran non Hindu dan menerapkan pola kemasyarakatan yang tidak Hinduistik yaitu pola perbudakan.

  15. guli says:

    Kasta yang dilekatkan kepada Agama Hindu menghebat semenjak dipublikasikannya karya karya ilmuwan Indolog (Max Muller dkk), Padahal Max Muller bukan sarjana Ilmiah Murni, Max Muller sarjana yang mendapat pesanan untuk menyesatkan Umat Hindu, menurut http://www.Encyclopedia of authentic Hinduism.org surat max muller tgl 25 Agustus 1856 dan 16 Desember 1868 mengungkapkan fakta bahwa Max Muller ingin membawa kekristenan di India sehingga agama Hindu Hancur. Jadi sangat masuk akal kalau sampai sekarang buku-buku Muller terus dipakai acuan oleh penulis-penulis yang membawa misi penyesatan Hindu, terutama tentang Kastanya. Meski sudah dikoreksi berkali-kali oleh penulis-penulis Hindu terpelajar. Tetapi karena ini masalah misi, ya tetap yang dibuat bahkan dibuat-buat keliru. Cuma masalahnya kok kita umat Hindu menerima begitu saja teori-teori yang menyesatkan tersebut. Kenapa umat Hindu tidak teliti mencermati sloka-sloka Weda. Yang merupakan sumber Ilmu Pengetahuan. Catur Warna bisa disandingkan dengan teori Psikodinamisnya Sigmund Freud, Atau teorinya CG.Yung, Yinnger, Atau Hipocrates ataupun Allport dan Cattel. Teori Invasi Ras Arya dan Empat Kasta dalam Agama Hindu oleh Max Muller telah Runtuh karena tidak melihat Bagawan Abiyoso dan Sri Krisna yang berkulit Hitam sebagai tokoh-tokoh yang ikut andil menulis/mengkodifikasi Weda

    • dari pada mencari kambing hitam, lebih baik pelajari dulu sistem kasta india yang sudah ada dari zaman brahmana jauh sebelum era kolonialisasi inggris

      • anymonius says:

        @guli
        bangsa eropa bukan pencipta hukum kasta di india, bali ataupun daerah penganut penganut hindu lainnya tapi mereka cuma yang menemukan, mempelajari berdasar bukti nyata bukan sekedar berdasar dongeng atau legenda dan menyebarkan penemuan mereka kepada dunia luas tentang keberadaan sistem kasta yang sudah ada turun temurun berabad di india yang kemungkinan diciptakan oleh bangsa indo arya dari asia tengah lewat penaklukannya di india, anda jngan trgesa gesa menyalahkan mereka perlu kita ketahui di masa penjajahannya inggris, belanda, perancis tidak sefanatik bangsa spanyol atau portugal ataupun bangsa arab dalam menyiarkan agama mereka.

  16. rahmat says:

    saya tidak setuju jk ada yg menyebut islam memiliki misi penyesatan bagi umat hindu, dan tak ada yang menyebutkan bahwa manusia itu dinilai dari derajatnya di hadapan manusia itu sendiri, derajat manusia erbeda di hadapan TUHAN NYA ketika perbuatannya tersebut sesuai amal dan perbuatan dan menjalankan perintah TUHANNYA dg sebaik-baiknya. Jika orang arab ataupun eropa memiliki perilaku demikian itu tidak menggambarkan kitab sucinya, itu merupakan kebudayaan mereka sendiri, yang terpisah dari agamanya, islam di indonesia dg di arab melihat kebudayaan/kebiasaannya berbeda, kristen di indonesia dan di eropa jg berbeda karena dipengaruhi budayanya masing-masing. Hindu di Bali dan di India sendiri juga berbeda karena budaya/adat-istiadat yang berbeda diantara ke 2 nya.

    • kastaisme adalah budaya asli india yang sudah ada turun temurun ratusan tahun sebelum masehi sejak ditaklukannya bangsa asli india oleh bangsa nomad asia tengah dan sejak saat itu kastaisme menjadi bagian kehidupan pemerintahan dan sosial politik masyarakat india kuno bahkan yang lebih parah lagi kastaisme masuk dalah ranah agama hiduisme itulah mengapa hanya daerah penganut agama hindu saja spt india dan bali yang mengenal sistem kasta dalam pelaksanaan agamanya, sedangkan daerah lain kastaisme hanya mengatur urusan pemerintahan bukan agama spt di daerah kerajaan spt kerajaan arab, jepang, inggris dll dimana raja memang menjabat turun temurun untuk mengatur ketertiban kerajaan, sedangkan siapa saja dapat menjadi ulama, pendeta ataupun bhiksu asalkan memiliki kemampuan di bidangnya karena sesungguhnya Tuhan tidak membeda-bedakan manusia menurut kastanya

  17. charlie says:

    aq pernah dekat ma seorang ida ayu, sampe skrg jd abu2, coz kataX gk bisa di lanjutn hubunganX, tp baik dy maupn saya msh srng telponan ma dy…

  18. De' Oka says:

    Saya menyimpulkan penulis artikel ini kontra dg sistem kasta tapi gak mau terang-terangan.
    Terus terang kalau menurut saya, pro terhadap sistem kasta berarti anti terhadap Pancasila dan identik dengan pro penjajahan.
    Saya sendiri orang Bali, sebagai wujud anti kasta maka anak-anak kami tidak ada yang menggunakan titel yang mencerminkan kasta. Biarlah saya sendiri yg menjadi korban sistem kasta STOP KASTA !!!
    De’ Oka´s last blog post ..Three Interpretation of The Word "Krs’n’a"

    • imadewira says:

      @De; Oka : Mohon maaf, sekali lagi seperti yang saya tuliskan di paragraf2 terakhir, saya tidak pro atau pun kontra, artinya saya tidak menyarankan untuk menghapuskan kasta atau pun mempertahankannya. Biarkan mengalir dan waktu yang akan menjawab. Yang saya sarankan, sebaiknya kita lebih bijak yaitu tidak memandang dan menilai orang dari kasta atau pun namanya.

      Apabila anda memutuskan untuk tidak menggunakan “titel” kasta pada nama anak-anak anda, itu pilihan anda dan sah-sah saja anda lakukan.

    • Yoga says:

      @De Oka: Jani yang metakon nah…Apa arti Bhineka tunggal ika, tanhana dharma mangrwa……..Kau mengatakan bahwa sistem Wangsa berarti anti terhadap Pancasila, apa dasarnya?
      Coba jelaskan!!!!!!

    • pak de oka, menurut pendapat saya pribadi di bali pada masa kini sudah hampir tidak ada lagi yang namanya korban kasta, karena semua wangsa sudah memperoleh kesempatan yang hampir sama baik itu dalam ranah sosial masyarakat, ekonomi maupun agama walaupun masih ada sedikit pembedaan didalamnya.
      bagi saya pribadi cara pandang meterialisme yang cenderung memandang materi sebagai hal yang paling utama dan mengukur kebahagian hanya dari sudut material saja bahkan ada yang sampai mengira dapat membeli anugrah tuhan dengan baten, sajen dan upakara yang mahal adalah penyakit berbahaya di bali sekarang ini, kita terlalu disibukan mengejar hal2 material untuk mendapat pengakuan dan status lebih dari komunitas kita serta melupakan hal2 spiritual dan keagamaan yang sesungguhnya. memang materi sangatlah penting untuk hidup tapi hidup bkanlah semata-mata hanya untuk materi saja, suksma

  19. Rose says:

    Hi,
    seru banget obrolannya… kebetulan nemu tulisan ini pas aku lg searching2 nama2 Bali… Kalau boleh,aku mau minta bantuan dong.. Aku lg ngedesain karakter utk animasiku yg baru, seorang putri titisan dewi di Bali, dan si putri ini adalah seorang pendeta wanita.. dr bbrp yang aku baca, kayaknya yang paling deket sih Ida Ayu Ngurah, tp koq kayaknya populer banget yah? aku pengen yang agak unik dan langka.. tapi arah2 artinya ke sana.. mohon bantuannya dung.. makasi banyak yahh..

  20. Kok saya baru baca tulisan ini ya? Hehe.

    Kasta itu begitu identik dengan Bali, juga Hindu. Ada juga yang bilang, penerapan kasta di Bali adalah bentuk dari keterbelakangan budaya yang pada saat ini sudah menempatkan manusia sebagai makhluk yang sederajat ndak ada beda.

    Tapi, sistem kasta ternyata juga berlaku dimana-mana walaupun ndak disebutkan secara detail seperti di Bali. Mari kita lihat Inggris. Di sana pun masih ada golongan bangsawan, yaitu anggota keluarga kerajaan. Pun mungkin di negeri timur tengah sana. Keluarga raja di sana pasti mendapat perlakuan yang berbeda dari golongan lainnya. Itu artinya mereka menerapkan kasta juga kan?

    Ndak perlu jauh-jauh, di Jakarta juga sebenarnya masih ada pembedaan perlakuan berdasarkan kasta (golongan). Misalnya, seorang ustad, pasti akan dianggap lebih terhormat di lingkungannya, karena dia dianggap seorang agamawan (kalau di Bali mungkin dia masuk kasta Brahmana).

    Begitu juga seorang pejabat negara. Di kehidupan sehari-harinya pastilah dia mendapat keistimewaan bahkan kalau dibandingkan dengan Ketua RT-nya. Pejabat negara kalau di sistem kasta Bali akan masuk sebagai kasta Ksatria.

    Jadi, begitulah,, *saya tadi ngomong apa ya..??

    • imadewira says:

      @Agung Pushandaka :
      Hmmm.. Tapi semua contoh yang anda sebutkan tadi kayaknya kurang pas jika dibandingkan dengan Kasta di Bali sekarang ini. Di Bali, sistem kastanya kan berdasarkan keturunan. Ustad, Pejabat dan lainnya kan bukan keturunan.

      • @agung pushandaka
        iya saya setuju dengan pak made, raja2 di kerajaan di eropa, jepang memang diangkat turun temurun dan mendapat penghormatan lebih dari rakyat jelata karena sesuai kapasitas dan sebagai fungsinya sebagai kepala negara, sedangkan untuk kepala pemerintahan dilaksanakan secara adi dalam pemilihan umum dan tidak ada pembedaan derajat masing2 individu dihadapan tuhan mereka, jika raja mereka mati pada intinya upacaranya sama dengan rakyat jelata cuma kemegahannya saja yang berbeda. trus semua orang bisa menjadi pendeta, uskup, pastor jika mereka memiliki kemampuan dan kemauan tidak harus berasal dari wangsa tertentu saja. tp ada hal yang berbeda di kerajaan2 di arab karena raja memerintah secara absolut dan meraka sangt meninggikan garis keturunan separti di israel, saudi dan sebagian besar india utara

  21. Nisa says:

    Tulisannya bagus.. :) memberikan wawasan lebih luas buat saya. terima kasih..

  22. krisna says:

    maaf saya mau tanya kawitan saya dalem tarukan pacar saya bergelar desak,,,berarti desak nyerod menjadi jaba ya??thanks mohon di balas

  23. Jefry says:

    Soal sistem kasta yang ada di Bali semoga tidak menjadikan sebuah polemik dan permasalahan untuk kedepannya. Semoga semua tradisi dan budaya Bali bisa tetap terjaga dan lestari…
    Jefry´s last blog post ..Standar dan Kriteria Kualitas Air Bersih

  24. wayan buda says:

    oSa
    memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, baik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….
    namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
    sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
    karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
    karena dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
    dalam hidup wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
    dalam kesaharian wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
    dan setelah mati wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
    di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.
    dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tinggi tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
    dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
    dan dalam perbuatan seharusnya semua wengsa tinggi dan keturunannya tidak tercela, bermata pencarian benar, jauh dari adharma, mulia, semuanya tanpa kecuali bisa menjadi contoh masyarakat
    dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,
    alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
    karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga.
    oSSo

  25. pipit says:

    klo temenku namanya I Dewa Putu Yuda, itu termasuk kasta apa ya?

  26. Balinese says:

    memang kasta sudah tidak berfungsi lagi tapi FEODALISME yang merajalela para feodal merasa paling hebat !!miris

  27. JegegBali says:

    Bagaiaman menurut teman2 jika karena pihak laki2 dan perempuan saling mencintai….tapi permasalahan disini si perempuan itu ingin mencari sentana tapi sie pria ksatria dan perempuan sudra(tapi sebenrnya nyineb wangsa)

  28. sinta says:

    saya tidak mengerti dengan aturan yang ada ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
    ketika teman saya (dewa Ayu) menikah dengan laki-laki biasa (nyerod) dari keluarga langsung mengcam dia tidak boleh sembahyang dirumahnya padahal dia keturunan anak kandung di rumah itu sedangkan dirumah itu ada iparnya(Istri Kakaknya, memang sudah diupacarai) yang terlahir dari kalangan biasa dengan leluasa bisa sembahyang dimrajan.
    1. pertanyaan saya kenapa teman saya yang nyerod tidak boleh sembahyang dimrajannya padahal dia benar” keturunan dari keluarga tersebut?
    2.kenapa iparnya yg notabene dari kalangan biasa bukan trah disana bisa leluasa sembahyang di mrajannya?
    3. kenapa wanita sudra yang telah menikah dengan laki-laki kasta ksatria atau yg lain tidak boleh sembahyang ke mrajan aslinya? 4. kenapa ketika orang tua atau kerabat dari wanita sudra ini meninggal wanita tidak boleh nyumbah? sedangkan itu dikatakan hutang anak pada orang tuanya?

  29. Fajar says:

    terima kasih banyak atas informasinya ya Bli ^_^ sangat bermanfaat . . .

  30. Budi says:

    Jgn lg berfikir yg sumpek brow! Karena alasan yg ga masuk akal banyak saudara orang bali pindah agama lain. Kebodohan yg ditanam oleh belanda dipelihara. Gitu aja kok repot.

  31. Budi says:

    Kepada teman2: yg masih fanatik! Itu kepangkatan jaman dahulu! Jgn dibawa sampe sekarang sobat! Icang jabe totokan tp cang merintah anak mekaste diperusahaan,ape artinya nto

Leave a Reply

CommentLuv badge