Selamat Tahun Baru Caka 1935

March 13th, 2013 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan selamat hari raya Nyepi, selamat Tahun Baru Caka 1935, khususnya untuk anda yang beragama Hindu. Semoga hari raya Nyepi kali ini bisa membuat kita semua semakin dewasa karena pada dasarnya hari raya Nyepi disediakan sebagai kesempatan untuk introspeksi diri.

Bagaimana saya melewatkan Nyepi kali ini? Berbeda dengan tahun lalu dimana saya dan istri serta anak Nyepi di rumah mertua, kali ini saya memilih Nyepi di rumah saja. Walaupun sebenarnya istri saya kembali meminta untuk Nyepi seperti tahun lalu, tapi dengan alasan lebih enak dirumah dan tahun lalu sudah di rumah mertua, kami akhirnya memutuskan Nyepi tahun ini dirumah saja. Kami melewatkan hari suci Nyepi dengan lancar, bahkan terasa cepat sekali bagi saya dan istri. Istri saya bahkan sempat mengatakan, boleh ndak Nyepi-nya ditambah lagi sehari dua hari, hehe.

Di malam Pengerupukan, yaitu sehari sebelum Nyepi, seperti biasa saya mengajak istri dan anak menonton pawai ogoh-ogoh di depan balai banjar kami. Sebenarnya yang paling ramai tentu saja di perempatan Kerobokan karena semua ogoh-ogoh di daerah kelurahan Kerobokan akan melewati perempatan itu, tapi disana pasti sangat ramai dan penuh sesak, tidak nyaman untuk mengajak anak yang masih kecil. Jadi kami cukup menonton di depan balai banjar saja karena toh disini juga banyak ogoh-ogoh yang lewat.

Nindi, putri kami yang saat ini berumur 3 tahun awalnya sangat sumringah dan bersemangat diajak menonton. Dia tidak terlihat takut sama sekali sampai sebuah ogoh-ogoh mendadak menepi dan “diparkir” tepat di depan kami, seolah-olah ogoh-ogoh itu mendekati kami. Nindi pun ketakutan dan mulai rewel. Kami berusaha merayu namun dia sudah tidak nyaman. Karena Nindi sudah tidak nyaman dan ogoh-ogoh yang lewat juga rasanya sudah hampir semua, kamipun pulang sekitar pukul 21.00.

Esok harinya mulai pukul 06.00 Nyepi di mulai. Tapi pukul 05.00 saya sudah bangun dan ngejot lawar (makanan khas Bali) ke rumah mertua. Saya mengendarai sepeda motor ke rumah mertua yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah saya. Suasana di jalan sudah sangat sepi, hanya satu dua sepeda motor saja yang lewat, lampu-lampu di pinggir jalan sudah sebagian besar sudah dimatikan, maklum 1 jam lagi sudah mulai Nyepi. Suasananya sudah hampir seperti Nyepi malam hari. (**Mungkin ini tips buat yang ingin merasakan sensasi Nyepi tanpa harus melanggar, cobalah naik motor pukul 05.00 tepat sebelum Nyepi dimulai). Sebelum pukul 06.00 saya sudah kembali ke rumah.

Nyepi dimulai, kami sekeluarga hanya beraktivitas di rumah. Istri saya menyetrika pakaian, si kecil bermain, saya sendiri merapikan beberapa bagian kebun untuk mengisi waktu. Semua kegiatan itu bagi saya bukanlah pekerjaan karena salah satu larangan dalam Catur Brata Penyepian adalah amati karya yang artinya dilarang bekerja. Siang harinya kami tidur siang dengan nyenyak, mungkin sekitar 2 jam. Setelah bangun, saya sempat keluar rumah sampai di depan gang, menemani putri saya yang naik sepeda, tapi hanya sebentar dan kami kembali lagi pulang.

Ketika suasana sudah sore dan mulai gelap, tantangan yang sebenarnya dimulai karena kami harus gelap-gelapan. Tantangannya adalah bagaimana menemani Nindi yang masih 3 tahun. Akhirnya kami tetap sesekali menyalakan senter karena Nindi beberapa kali protes karena tidak diijinkan menyalakan lampu. Kami sekeluarga juga sempat menikmati indahnya bintang di malam itu, luar biasa, bintang tidak akan seindah itu kalau bukan karena Nyepi.

Pukul 21.00 Nindi akhirnya mau diajak tidur. Saya dan istri ikut tidur, tapi kami tetap menyalakan AC karena udara agak panas. Suara AC kami mungkin terdengar sampai ke tetangga walaupun tidak keras, ya mau gimana lagi. Saya tidak ada masalah untuk tidur, tapi sepertinya istri saya yang agak susah tidur, mungkin karena takut, hehe.

Ya begitulah pelaksanaan Nyepi saya dan keluarga kali ini. Kami belum bisa menjalankan Catur Brata Penyepian dengan sempurna, tapi setidaknya Nyepi kali ini sudah berjalan dengan aman dan damai. Di media massa saya tidak melihat ada gejolak atau kejadian berarti ketika Nyepi. Oya, untuk masalah mengakses internet, jujur saja ketika Nyepi saya tetap browsing. Jejaring sosial juga tetap saya buka walaupun tidak sampai ngetwit atau membuat status, hanya melihat-lihat saja.

Baiklah, sekali lagi, selamat tahun baru Caka 1935 bagi umat Hindu dimanapun berada.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

1 comment

  1. Jefry says:

    Hari raya nyepi menurut saya sangat mengesankan dan memiliki makna yang amat dalam sama seperti bulan ramadhan orang Islam.
    Selamat hari nyepi dan tahun baru caka 1935, mohon maaf bila terlambat mengucapkannya

Leave a Reply

CommentLuv badge