Sekali Lagi Ujian Terhadap Kejujuran

June 18th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Tulisan berikut ini merupakan tulisan copas dari note facebook seorang senior saya di kampus STP Nusa Dua Bali, I Putu Tonsen. Saya publish disini, tentunya dengan ijin pemiliknya.

SEKALI LAGI UJIAN TERHADAP KEJUJURAN

Catatan lepas, 18 Juni 2012

Plot drama dunia pendidikan kembali ke episode yang selalu menghadirkan kegalauan perasaan. Banyak pihak yang terdampak oleh episode ini. Ya, episode mengenai pertarungan antara kejujuran dan ketidakjujuran. Episode yang membawa campur aduk perasaan dari banyak karakter yang terlibat dalam drama ini.

Memang tidak mudah menghadirkan bukti. Memang tidak mudah menunjuk siapa sutradara di balik episode ini. Inilah drama produk Indonesia asli yang tiada banding. Karya-karya drama William Shakespeare pun kalah oleh sutradara yang drama asli Indonesia  ini. Cuma satu yang kita thu tentang drama ini. Pengarang ataupun sutradaranya invisible.

Kali ini episode tersebut berdampak kepada saya. Tahun ini, salah satu anak saya menjadi peserta ujian nasional tingkat SD. Saya dari sejak awal sudah akan tahu bahwa ini akan terjadi. Di sebuah SD di sebuah kabupaten di Bali –barangkali juga di tempat lain—PERAN ibu-ibu orang tua siswa sangat besar dalam proses pendidikan. Indikatornya adalah betapa intensifnya para tua mengawal proses pembelajaran dengan cara hadir berkumpul di halaman sekolah menunggui sang anak yang sedang belajar. Sesekali mereka ikut masuk ke dalam ruang kelas MEMBANTU para guru.  Mulai dari mendektekan pelajaran, kemudian menerjemahkan instruksi soal sehingga sang anak dapat menjawab soal latihan, Bila perlu agar sang anak tidak kelihatan bego, dengan gemes sang ibu membuatkan jawaban.  Malah ada juga menyeret siswa yang lain supaya pindah tempat duduk demi sang anak.

Guru yang sedang bertugas saat itupun hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang ibu –ibu jaman sekarang lain dengan ibu-ibu jama dahulu. Sekarang ini para ibu sudah lebih berpendidikan, sudah lebih mapan secara ekonomi, pergaulannya juga jauh lebih luas dan yang paling penting sudah sadar akan pentingnya pendidikan sampai-sampai mereka rela menginvestasikan waktunya dengan hadir di halam sekolah saban hari demi memantau proses pendidikan sang anak.

Sebetulnya Kepala sekolah telah berusaha untuk menjaga kemandirian sekolah dalam proses pendidikan. Sang Kepala Sekolah sendiri sampai gemes juga melihat tingkah polah para ibu ini. Memang beberapa kali sang Kepala Sekolah memasang himbauan tertulis agar para ibu tidak berkumpul di halam sekolah dan mempercayakan pendidikan sang anak kepada para guru dan pihak sekolah. Tapi pada akhirnya himbauan kepala sekolah itupun hanya berlalu begitu saja. Gone with the wind!

Saya yang melihat dari jauh hanya bergumam dalam hati: “Kalau nggak percaya sama guru dan sekolah, kenapa nggak bikin sekolah aja di rumah. Didik sendiri anak di rumah!”

Pada akhir semester atau akhir tahun, yang biasanya terjadi saat pembagian rapor adalah diskusi seru para ibu tentang anaknya. Banyak hal lucu yang muncul diskusi ini. Ada yang membanggakan anaknya yang mendapat ranking bagus di kelasnya. Ada juga yang hanya mesem-mesem sambil ngedumel dalam hati “mentang-mentang punya duit, ranking pun kau beli.”

Sementara satu kelompok ibu-ibu lain yang masih berusaha untuk bergerak dijalur normal berdiskusi juga dengan rekannya Mereka masih berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh untuk ikut superaktif dalam membantu sang anak.

“Percuma saja melakukan semua tindakan bodoh itu. Pada akhirnya kemampuan riil di lapangan yang akan menentukan apakah anak kita bisa hidup bersaing dalam pendidikan selanjutnya dan dalam melakukan pekerjaan.”

Saya hanya manggut-manggut saja dan dapat membenarkan teori ibu ini.

Seorang ibu yang lain pun menimpali: “Benar lho bu, Untuk apa juga nilai anak kita harus dipaksakan untuk dapat rangking 1 di kelas dan nilainya ditulis dengan ntinta emas, tapi tidak tahu apa-apa”

“Benar-benar,” seorang ibu yang duduk di pojok itupun akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. Lihat saja itu. Si Ade, sampai menjelang kenaikan kelas belum lancar membaca. Anak saya sering membantu dia membaca. Eh, tahunya di kelas dapat rangking 4. Anak saya rangkingnya Cuma 16. Aku jadi ingat kalau dia pernah bilang bahwa dia sangat concern dengan rangking anak.  Katanya, topik obrolan para ibu di lingkungan perumahannya biasanya masalah rangking. Rupanya dia tidak ingin anaknya tidak dapat ranking di kelas. Dan ku dengar bisik-bisik bahwa dia kakanya si Ade juga dulu begitu. Rangkingnya selalu bagus setiap kali kenaikan kelas. Ini aku dengar sendiri dari orang orang tua siswa yang lain.”

Rupanya pengaturan nilai dan rangking kelas menunjukkan perannya saat anak saya mau lanjutkan ke SMP. Oleh guru kelasnya saya diberitahu bahwa anak saya diikutkan tes TPA di sebuah SMP yang cukup bagus dan merupakan sekolah dengan standfar internasional.

“Pak, ini si Dwi saya daftarkan untuk ikut TPA. Dia sebenarnya bagus di kelas. Di atas rata-rata. Mudah-mudahan tembus di SMP X”

“Ya, Pak. Terima kasih. Tolong dikawal prosesnya. Mudah-mudahan tes TPA itu murni pelaksanaanya dan murni juga hasilnya”

Waktupun berjalan terus. Saat saya mengirim anak saya untuk les pelajaran buat persiapan tes TPA, seorang ibu teman anak saya mencoba untuk mengajak saya untuk mengumpulkan dana duntuk diberikan kepada seseorang yang bisa membantu agar bisa diterima di SMP berstandar internasional itu. Besar cukup gede juga, setara dengan sewa kontrak rumah selama setahun di kawasan Nusa Dua. Dengan halus saya pun menolak ajakan simpatik itu. Saya sempat kesulitan juga mencari alasan dan juga menyampaikan alasan saya agar tidak menyinggung ibu itu. Saya memang terbiasa diajar untuk tidak boleh  secara langsung melukai perasaan seseorang yang saya tidak sependapat dengannya. (Belakangan ajaran ini ternyata lebih sering mendatangkan duka). Rupanya ibu yang sangat agresif mengajak saya untuk mau ikut menggalang jengkel terhadap penolakan saya. Dia terus mengatakan bahwa saya ini kurang perhatian sama anak. Kurang peduli sama anak sendiri. Tidak punya perasaan.

Wah kok saya tiba-tiba menjadi sasaran tudingan tidak karuan.

“Begini,  bu. Saya tidak mau melakukan itu demi anak anak saya. Saya tidak mau anak saya melalui proses hidupnya dengan cara gampang. Saya tidak mau anak saya hanya bisa mengandalkan campur tangan orang tuanya untuk memudahkan segala urusannya nanti. Saya tidak mau anak saya tidak memahami bahwa bapaknya tidak selamanya bisa membantunya. Saya hanya mau anak saya tahu bahwa dia harus bisa menjadi dirinya sendiri dan mampu mengatasi hidunpnya sendiri. Ibu mesti tahu bahwa kita tidak bisa melindungi anaknya kita selamanya. Kita pasti menjadi tua dan mati lebih dulu daripada anak kita.  Itu saja. Saya malah mau mengajarkan kepada anak saya bahwa hidup itu tidak gampang. Itulah sebabnya fakta bahwa dunia ini keras dan hidup itu sulit tidak perlu disembunyikan. Dan kita hanya perlu belajar untuk mencari cara yang tepat untuk menunjukkkannya.”

Ibu itu akhirnya terdiam. Saya tidak tahu apakah dia terdiam karena memikirkan kata-kata saya ataukah karena tidak punya jawaban lebih lanjut lanjut mengajak saya berkonspirasi.

Benar bahwa anak saya akhirnya mempunyai nilai ujian nasional yang cukup tinggi. Saya tidak gembira dan juga tidak sedih. Karena sebagai orang yang mengetahui dunia pendidikan saya paham sekali bahwa tingkat kesulitan soal-soal ujian nasional berada jauh di atas kemampuan kogintif siswa SD. Memang benar-bahwa sekolah sudah mempersiapkan para siswa untuk menghadapi ujian. Dan ini membuat saya prihatin. Sebagian besar waktu yang ada dipakai untuk mempelajari jenis-jenis soal ujian naional yang diperkirakan muncul serta mempelajari tekni atau strategi menjawab soal. Ada hal lain lebih mendasar yang malah menjadi tidak diajarkan: pemahaman konsep-konsep dasar serta penanaman sikap kritis dan kemauan belajar. Kemampuan menjawab jenis soal yang diajarkan tanpa pemahaman konsep dasar akan membuat siswa terhenti begitu soalnya diganti perspektifnya. Ini sangat saya sadari, karena saat-saat saya punya waktu berdiskusi dengan anak di rumah, saya dapat merasakan bahwa anak saya ternyata kurang memiliki pemahaman mendasar tentang konsep-konsep. Dan lebih penting lagi, tidak ada penanaman kemampuan berpikir kritis dan bertanya. Padahal –paling tidak menurut pendapat saya sendiri- kemampuan bertanya merupakan dasar dari proses inqury (proses pencarian).

Akhirnya………… anak sayapun tidak bisa menembus tembok SMP favorit yang diinginkannya. Saya yang sejak awal sudah memperkirakan hal ini tidak terkejut. Saya hanya perlu sedikit stamina untuk memenangkan gejolak perasaan yang sedang dialami anak saya dan juga istri saya yang sangat ingin anaknya bisa diterima di SMP RSBI tersebut.

“Anakku, kamu memang tidak berhasil masuk di SMP yang kamu inginkan itu. Tapi hidup tidak berakhir hari ini. Kamu bisa menjadi lebih baik di tempat lain. Ingat kita menjadi baik atau buruk ditentukan oleh diri kita sendiri. Banyak sekolah atau perguruan tinggi keren yang ternyata menjadi tempat pendidikan calon-calon pembunuh dan koruptor. Tidak ada yang perlu disesali.”

“Bapak tahu kamu kecewa, Bapak juga tahu kamu lebih bagus dari yang kamu duga. Bapak hanya ingin kamu menunjukkannya. Tidak sekarang …… tapi nanti. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa lebih baik dari yang kamu duga”

“Terus berjuang anakku”

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

6 comments

  1. applausr says:

    ini yang sering menjadi masalah ini dunia pendidikan kita.. ranking dan ranking…. sudah tidak jaman sebenarnya menggunakan ranking sebagai alat ukur kepandaian anak.

    Bagaimana menilai anak yang pinter basket dengan soal soal yang isinya menanyakan ukuran lapangan sepak bola..

    itu tidak valid. so biarkan anak tumbuh dan besar dengan baik tanpa didikte oleh kompetisi atau embel embel sekolah favorit.

    maaf kalau kepanjangan… hehehehe
    applausr´s last blog post ..Sebuah Perjuangan

  2. Sistem pendidikannya juga sih bli, yang membuat nilai yang tertulis di buku raport atau ijazah menjadi lebih penting daripada pengetahuan yang didapat oleh siswanya. Makanya sekolah ndak menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak dan saat ujian mereka ketakutan seperti mau disembelih.
    Agung Pushandaka´s last blog post ..Kecewa Soegija

  3. giewahyudi says:

    Sewaktu SD dulu, saya juara satu terus, tapi itu melenakan. Rangking hanya sekedar angka-angka. Buktinya teman-teman yang rangkingnya di bawah saya malah bisa lebih sukses dibanding saya..
    Pendidikan tidak boleh hanya berdasarkan rangking..
    giewahyudi´s last blog post ..Mencari Solusi Keuangan dengan Citibank Ready Credit

  4. Rahel says:

    Semangat bro, pendidikan di Indonesia memang boleh dibilang sedikit kejam dan penuh dengan kemunafikan. Tapi saya yakin tidak semua orang tua seperti orang tua yang Anda tulis di atas. Semoga Anak Anda tetap semangat meskipun tidak masuk sekolah favorit yg dia dambakan. Salam
    Rahel´s last blog post ..Alamat Lengkap Hotel di Purwakarta dan Cikampek

  5. elva trisye says:

    jika kita bicara mengenai pendidikan , itu sangatlah penting akan sangat berbeda orang mempunyai ilmu pendidikan tinggi dengan yang tidak , benar bukan …? khusunya dari sudut pandang dan pola pikir , akan tetapi ada tetapi nya .. pendidikan juga gak akan bisa berkembang baik jika yang mempunyai ilmu hanya bisa di terima saja tanpa di kembangkan contohnya ibu rumah tangga yang lulusan sarjana akhirnya hanya memesak , mengurus anak dll ..
    oke kesimpulann nya pendidikan untuk anak2 kita sangat lah penting pacu mereka jadi pintar , coba kita lihat mana ada orang yang bodoh akan sukses keculi mmg aslinya dia turunan konglomerat yang gak mau sekolah akhirnya di topang uang orangtuanya .. itupun belum tentu berhasil karena tetap juga bodoh dan tetap butuh sumber daya manusia yang pintar .. good luck …..

Leave a Reply

CommentLuv badge