Rumah Saya Adalah Kubu

October 2nd, 2012 by imadewira Leave a reply »

Kubu adalah kata yang digunakan oleh keluarga saya untuk menyebut “rumah” kami.

Penyebutan “rumah” dalam bahasa Bali terdapat beberapa kata yang saya ketahui. Biasanya ini erat kaitannya dengan “kasta” (ah, kasta lagi..) dan status sosial seseorang atau pemilik rumah. Terdapat beberapa kata diantaranya : Puri, Jero, Umah, Gria, Umah, Pondok, Kubu dan lainnya, semuanya memiliki makna yang sama yaitu : Rumah / tempat tinggal.

Kaitannya dengan kasta atau status seseorang misalnya Puri. Puri maknanya juga rumah, tapi ini biasanya digunakan untuk kalangan kerajaan jaman dulu dan masih bertahan sampai sekarang. Puri adalah “rumah”-nya raja. Jadi untuk kerajaan-kerajaan yang masih ada di Bali tetap menggunakan istilah Puri untuk “rumah”. Sebut saja seperti Puri Pemecutan di Denpasar, Puri Karangasem, Puri Ubud dan masih banyak yang lainnya.

Contoh lainnya adalah Gria yang merupakan tempat tinggal Pedanda atau dari golongan Brahmana. Jadi untuk orang yang berkasta Ida Bagus maka rumahnya akan disebut Gria. Sedangkan Jero adalah untuk kasta Ksatria, kalau tidak salah ini semacam rumah para patih atau “cabang” dari Puri. Sedangkan orang biasa atau bahasa Bali yang paling umum untuk rumah adalah “umah”.

Ribet? Ya begitulah kenyataannya. Tapi bagi orang Bali mungkin sudah terbiasa dan tidak ada masalah. Nah, saya sendiri walaupun dari keturunan masih tergolong Ksatria namun menggunakan istilah Kubu untuk menyebut rumah kami. Kubu bisa dikatakan memiliki makna yang setara dengan “pondok” atau bangunan (mirip) rumah yang berada jauh dari pemukiman atau keramaian. Semacam rumah yang terletak di pinggir sungai atau di tengah sawah.

Karena memang begitulah rumah (kakek) saya dulu. Terletak di sebuah areal “tegalan” (semacam ladang) dengan pohon-pohon besar yang rimbun, di pinggir sungai dan kelilingi sawah. Di antara keluarga besar biasa disebut Kubu. Karena letaknya berada di barat maka biasa di sebut Kubu Kawan (kawan=barat). Hingga sekarang, di antara keluarga besar saya masih biasa menyebut Kubu untuk rumah. Letaknya memang sudah pindah yang sebelumnya di barat sungai menjadi di timur sungai, berdampingan dengan rumah penduduk lainnya. Sedangkan bekas kubu saya dulu kita sudah menjadi sebuah villa mewah karena tanahnya dijual.

Tetangga saya dulunya menyebut rumah kakek saya dulu dengan Jero Dauh Tukad (dauh=barat, tukad=barat). Saat ini tetangga masih selalu menyebut Jero untuk rumah saya sebagai tanda mereka tetap mengganggap kasta keluarga saya. Saya sendiri biasa saja dengan sebutan itu, saya (kami) tidak pernah menyuruh dan juga tidak melarang sebutan itu. Teman-teman masa kecil dulu menyebut rumah saya dengan “umah” pun saya biasa saja, toh maknanya sama bukan?

Dan berikut saya tambahkan beberapa foto di tanah bekas rumah kakek saya dulu.

Foto tahun 2002. Bangunan suci, satu-satunya yang tersisa di tanah leluhur saya dulu.

Masih foto tahun 2002. Saat itu tanah ini masih digali sebagai tambang batu padas oleh keluarga saya.

Foto tahun 2012. Sejak beberapa tahun belakangan, tanah itu sudah berubah pemilik. Kini menjadi sebuah villa yang hampir tak pernah sepi oleh tamu bule.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

4 comments

  1. DV says:

    Suka sedih liat modernisasi gila2an di Bali, tapi konon katanya di Bali Timur masih sangat asri dan asli, Bli?

    Tulis dong di sini…

    • Agus Lenyot says:

      Yang paling sering mengatakan ‘Kubu’ untuk menyebut rumah mereka adalah orang-orang Bukit Jimbaran. Kakek saya di Munggu juga sering menyebut rumahnya dengan Kubu.

      Padahal Kubu sendiri asosiasinya adalah rumah yang jelek, karena terletak di ladang. Tapi Kubu orang Bukit (Badung khususnya) bisa rumah mewah style Bali tingkat banyak. Hahahaha.
      Agus Lenyot´s last blog post ..Pendidikan dan Cita-Cita Sederhana

    • imadewira says:

      @DV : dari segi bangunan, lalu lintas dan lingkungan, di Bali Selatan termasuk di daerah saya memang sudah semakin padat. Ciri khas bangunan Bali pun sudah makin hilang, daerah Bali selatan makin seperti internasional. Kalau di Timur dan Utara setahu saya masih cukup asri dan asli.

Leave a Reply

CommentLuv badge