Rekor Baru, Nusa Dua – Kerobokan = 4 Jam

Jarak dari kampus STP Nusa Dua Bali ke rumah saya di Kerobokan (jln. Raya Canggu) adalah 27 km. Dalam kondisi normal di pagi hari saya butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai di kampus. Sore harinya dalam kondisi normal biasanya saya butuh waktu sekitar 1 jam karena kondisi jalan lebih padat. Itu waktu sehari-hari ketika saya menggunakan sepeda motor. Kalaupun terkadang menggunakan mobil ya mungkin bertambah 30 lebih lama dari biasanya di sore hari, tapi pagi hari sama saja karena kondisi jalan biasanya lancar.

Tetapi kejadian hari Senin yang lalu mungkin perlu saya catat sebagai sebuah rekor yaitu saya membutuhkan waktu 4 jam untuk sampai dirumah. Setara dengan pulang-pergi (PP) Denpasar – Singaraja! Ceritanya berawal dari kondisi cuaca belakangan yang terus hujan tanpa henti, kalaupun reda tapi tetap mendung lalu gerimis lagi. Di hari Minggu pagi saya sempat bersepeda sejauh 34 km yaitu pulang-pergi menuju Taman Ayun, Mengwi. Lalu dalam perjalanan pulang saya kehujanan dan basah kuyup sampai dirumah. Untungnya daya tahan tubuh masih bagus sehingga saya tetap fit dan tidak sampai sakit.

Sampai hari Senin pagi cuaca belum membaik, masih terus gerimis dan kadang hujan. Pikir saya, dengan kondisi begitu kalau kehujanan naik motor ke kampus mungkin kurang bagus untuk kesehatan saya. Jadi saya memutuskan untuk mengendarai mobil. Mobil ini biasanya digunakan oleh istri saya, dan kali ini gantian istri saya yang naik motor karena kantornya tidak sejauh saya. Sebenarnya saya sudah menduga bahwa pulangnya saya akan butuh waktu lebih lama, ya paling parah mungkin 2 jam.

Saya sempat berencana untuk permisi untuk pulang lebih awal, tetapi karena banyak kegiatan penting jadinya saya tidak bisa permisi. Saya pun sebenarnya sudah mendahului 30 menit lebih awal untuk berangkat pulang, maksud saya untuk menghindari macet. Pukul 15.30 saya bergegas pulang, cuaca hujan cukup deras. Dari Nusa Dua saya tidak melalui jalan tol karena selain selisih jarak yang tidak terlalu jauh, melewati jalan by pass Ngurah Rai di Kedonganan sampai Tuban biasanya sudah sangat lancar.

Tetapi pikiran saya meleset, di by pass Ngurah Rai mulai dari Kedonganan sudah padat merayap. Kendaraan melaju sangat pelan. Saya pikir macet hanya sampai di persimpangan Benoa Square, tetapi ke arah utara macetnya makin parah. Pusat macet paling parah terjadi di Bundaran Tuban, kondisi hujan, kendaraan menumpuk membuat lalu lintas hampir tidak bergerak. Butuh kesabaran tingkat tinggi untuk melewatinya.

Lolos di bundaran Tuban, ke arah utara juga macet, saya sempat takut macetnya sampai di Simpang Dewa Ruci (simpang siur). Dan ternyata penyebab semua kemacetan ini karena adanya banjir (genangan air cukup tinggi) di depan SPBU Tuban. Ke arah utara setelah itu ternyata lancar jaya. Saya senang dan berpikir sudah selamat dari kemacetan serta bisa segera sampai di rumah.

Masuk ke jalan Sunset Road, di persimpangan jalan Imam Bonjol saya belok kanan melalui jalan Imam Bonjol, karena di Sunset Road biasanya macet cukup panjang di Simpang Dewi Sri dan Simpang jalan Kunti. Di jalan Imam Bonjol saya terkena macet, tapi disini sudah biasa macet sampai di persimpangan di depan. Saya lalu belok kiri di daerah Abian Timbul lalu menuju ke jln. Marlboro (Teuku Umar Barat). Sampai di ujung Marlboro sebelum Lapas Denpasar saya belok kanan mencari jalan pintas lewat banjar Pengubengan tembus ke jl. Raya Semer.

Tapi rencana saya gagal lagi, di jalan pintas di daerah Pengubengan tepat di dekat Rumah Makan Taulan ternyata macet parah, katanya ada pohon tumbang yang menghalangi jalan. Banyak yang putar balik mencari jalan lain. Saya pun terpaksa putar arah juga menuju jalan Kesambi. Dan celaka lagi, disana macet super parah, kendaraan harus berhenti 5-10 menit untuk kembali bergerak beberapa meter saja ke depan. Penyebabnya adalah di persimpangan di jln. Gunung Sanghyang. Setelah bisa melewati itu, akhirnya saya bisa sampai dirumah sekitar pukul 19.30. Untungnya di jalan raya Canggu di depan rumah saya jam segitu sudah tidak macet.

Jadi, total saya butuh waktu 4 jam untuk bisa sampai di rumah. Rekor Baru bagi saya. Keesokan harinya saya kembali naik motor saja, kapok sudah.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

One thought to “Rekor Baru, Nusa Dua – Kerobokan = 4 Jam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *