Rare Angon Bukan Preman Kampung

Layang-layang atau layangan tidak bisa dilepaskan dari tradisi di Bali. Bermain layangan sudah menjadi salah satu hiburan bagi orang Bali, bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa. Karena layangan lebih mengarah pada sebuah hiburan, permainan makanya lebih identik dengan anak-anak.

Di Bali, istilah Rare Angon adalah istilah yang identik dengan mereka yang gemar bermain layangan. Ya walaupun sebenarnya istilah Rare Angon ini memiliki arti tersendiri. Rare artinya anak-anak, dan Angon (ngangon) artinya menggembala. Jadi secara harafiah bisa diartikan sebagai seorang anak gembala. Rare Angon juga sangat erat kaitan dengan kepercayaan orang Bali khususnya yang beragama Hindu dan sangat dihormati, bisa dikatakan “dewanya anak-anak”.

Beberapa hari terakhir di sebuah tempat di Denpasar yaitu di pesisir pantai Padang Galak, diadakan sebuah lomba layang-layang. Lomba ini sendiri sudah ada sejak lama dan bisa dikatakan lomba yang paling terkenal dan wajib diikuti oleh semua “rare angon”. Layang-layang di lombakan biasanya layangan tradisional yaitu “bebean”, “janggan” dan “pecuk”.

Ukuran layang-layang tersebut dan cukup besar, lebarnya berkisar antara 4 sampai 6 meter bahkan ada yang lebih besar. Setiap sekeha (kelompok/tim) akan membawa layangan mereka menuju lokasi lomba yang cukup jauh dan tentunya melewati jalan-jalan utama sehingga tak jarang terjadi macet karena mereka tentu berjalan dengan pelan walaupun layang-layang diangkut dengan kendaraan truk.

Sebenarnya macet yang disebabkan rombongan “rare angon” tersebut bukanlah masalah besar karena tidak terjadi setiap hari. Saya rasa masyarakat juga maklum karena seperti halnya tradisi/budaya lainnya di Bali juga seringkali sedikit membuat macet, seperti Ngaben, Melasti dan lain-lain. Jadi sekali lagi kalau terjadi sedikit kemacetan, masyarakat masih maklum.

Yang jadi masalah adalah tingkah laku beberapa oknum “rare angon” yang sangat arogan ketika konvoi membawa layangan ke tempat lomba. Sikap mereka tak jarang mengintimidasi misalnya dengan suara motor yang di gas keras-keras, berkata kasar atau dan lainnya. Mereka juga kadang tak segan mendamprat pengguna jalan yang mungkin dianggap menghalangi jalan mereka.

Tapi, saya yakin mereka itu hanyalah oknum, hanyalah sebagian kecil dari peserta lomba layang-layang yang berkonvoi di jalan. Namun ulah mereka telah mencoreng nama “rare angon”, yang tak jarang membuat masyarakat meng-generalisir bahwa semua “rare angon” arogan.

Masalah ini mungkin sepele, tapi kalau tidak disikapi lama-kelamaan citra “rare angon” akan semakin jelek, apalagi saat-saat musim layang-layang seperti ini. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Menurut saya ini tanggung jawab kita semua, khususnya semua “rare angon”. Mungkin juga perlu ketegasan dari pemimpin atau ketua sekeha layang-layang untuk mengarahkan anggota agar selalu sopan dan menghormati semua pengguna jalan. Karena.. Rare Angon Bukan Preman Kampung!!

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

18 thoughts on “Rare Angon Bukan Preman Kampung

  1. Lebih baik dirapikan dan dibuat lebih tertib, karena layangan sebaiknya menjadi penyampai cita-cita kita sampai ke langit dan bukan malah menjadi penyulut keributan di darat..

  2. Wah istilah yang unik.. kupikir semula kamu typo dari Lare Angon jadi Rare Angon.. soalnya di Jawa, Lare Angon adalah nama jenis ular, Bli.

  3. Bermain layangan tidak perlu ramai-ramai menurut saya, toh di kampung atau sawah sendiri kan bisa. Kalau tidak ada tempat di sekitar rumah sendiri, ya boleh-lah pergi ke tempat umum untuk “nyelang genah“, ya tapi tetap mesti sopan dong. Namanya juga meminjam.

  4. Klo di tempat saya pernah ada kejadian orang naik motor kena benang layangan yang tajam di tengah jalan. hiiii…

    dulu sih kita mainnya di sawah, cuman sekarang pada jadi bangunan permanen. so kita mau main dimana??

    1. Kalau di Bali sih belum pernah saya dengar atau orang kena tali layangan. Tapi kalau rumah/pura(tempat suci) tertimpa layangan besar sih ada. Biasanya kalau sampai merusak bangunan suci seperti pura, akan agak ribet jadinya karena biasanya akan perlu diadakan upacara tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *