Pre Launching SBM-PTNP di Poltekpar Palembang

Perjalanan dinas kali ini saya ditugaskan mengikuti acara Pre Launching SBM-PTNP (sebelumnya bernama SBMSTAPP) di Poltekpar Palembang. Saya ditugaskan menemani Ketua STP Bali dan Kabag Adak. Sebenarnya minggu sebelumnya saya juga ditugaskan untuk rapat ke Medan dalam rangkaian SBM-PTNP juga, tapi karena istri dan anak sakit jadi saya tidak bisa ikut dan digantikan teman lainnya. Tidak apalah karena urusan keluarga tetap nomor 1 bagi saya.

Oya, SBM-PTNP itu singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata. Sebelumnya bernama SBMSTAPP (Seleksi Bersama Masuk Sekolah Tinggi, Akademik dan Politeknik Pariwisata), tapi karena sekarang Akademi Pariwisata Medan sudah berubah menjadi Politeknik Pariwisata Medan, jadi kini perguruan tinggi yang ada adalah 2 Sekolah Tinggi Pariwisata (Bali dan Bandung) dan 4 Politeknik Pariwisata (Medan, Makassar, Palembang dan Lombok). Maka dirubahnya namanya menjadi SBM-PTNP.

Acara Pre Launching SBM-PTNP 2018 adalah tanggal 14 Pebruari, kami berangkat tanggal 13 Pebruari siang yaitu sehari sebelum acara menggunakan Garuda Indonesia dengan penerbangan direct dari Denpasar ke Palembang. Kami menumpang pesawat Garuda Indonesia tipe CRJ1000 NEXTGEN yang ukurannya agak kecil (seperti pertama kali saya ke Palembang tahun lalu), 1 baris hanya terdiri dari 4 seat yaitu masing-masing 2 di kiri dan kanan. Walaupun kecil tapi tetap nyaman, bahkan dari segi suara jauh lebih senyap karena mesin pesawat yang jauh di belakang.

Di penerbangan kali ini saya pertama kalinya mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan penumpang lain. Duduk di depan saya sepasang bapak dan ibu yang umurnya mungkin sekitar 60 tahun. Dari penampilannya dan gerak-geriknya saya menduga mereka berdua tumben atau jarang naik pesawat. Dari baru masuk pesawat mereka berdua ngobrol terus dengan suara yang relatif lebih keras dibanding penumpang lainnya, tapi saya tidak terlalu terganggu. Kejadian yang tidak mengenakkan terjadi sekitar 15 menit sebelum mendarat, saat pilot sudah mengumumkan pesawat akan segera mendarat dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah menyala, terdengar suara telepon, bahkan relatif keras. Saya awalnya menduga mereka lupa mematikan telepon dan akan segera mematikan teleponnya, tapi malah si ibu mengangkat telepon itu dan berbicara cukup keras, tanpa rasa bersalah! Mungkin sekitar 10 detik saja, lalu dimatikan. Penumpang di dekat mereka semua langsung memandang dengan wajah tidak senang. Selang beberapa detik kemudian telepon berbunyi lagi, kali ini si bapak yang menerima telepon dan berbicara keras-keras dengan santainya. Semua mulai geram dan hanya beberapa detik kemudian pak Byo (bos saya) yang duduk di seberangnya langsung menegurnya, dan berkata “tidak boleh menelepon di pesawat pak!” Akhirnya dia menutup teleponnya. Kami semua hanya geleng-geleng kepala saja dengan ulah penumpang itu. Saya tidak tahu pramugari mengetahui kejadian itu atau tidak. Pesawat pun mendarat dengan sempurna di Palembang. Saya masih agak geregetan.

Lanjut. Kami kemudian dijemput oleh tim Poltekpar Palembang dengan sambutan yang luar biasa bagi saya. Di pintu keluar terminal kami disuguhkan welcome drink oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Setelah menikmati minuman tersebut, kami langsung diantar ke hotel Santika Palembang, tempatnya tepat di depan/seberang TransMart Palembang. Selama di Palembang, kami selalu diantar jemput dan ditemani oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Sore itu kami langsung istirahat di hotel. Malam harinya sekitar pukul 7 kami dijemput dan diajak makan malam makanan khas Palembang, apalagi kalau bukan pempek. Rasanya tentu enak sekali.

Keesokan harinya, acara Pre Launching dilakukan di kampus Poltekpar Palembang yang baru. Tahun lalu saat saya kesana, kampus Poltekpar Palembang masih meminjam gedung rusunawa di komplek Jakabaring Sport City. Sekarang mereka sudah punya kampus yang megah dan lokasinya masih di komplek Jakabaring Sport City. Kalau tidak salah tanah seluas 2 hektar kampus adalah hibah dari Provinsi Sumetera Selatan. Acara Pre Launching berlangsung sederhana namun juga meriah dan dihadiri langsung oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan juga Gubernur Sumatera Selatan, Bapak Alex Noerdin. Dalam sambutannya, saya terkesan dengan penampilan Gubernur yang satu ini, terlihat berwibawa sekali.

Selesai acara Pre Launching, pak Gubernur kemudian meresmikan food truck milik Poltekpar Palembang. Seluruh perwakila dari masing-masing kampus kemudian mengadakan rapat singkat membahas rencana Grand Launching SBM-PTNP 2018. Rencananya akan dilaksanakan nanti di Bali pada pertengahan Maret sekaligus dalam acara Rakernas SMK Pariwisata seluruh Indonesia. Selesai rapat kami menikmati makan siang hasil praktek mahasiswa sambil berkoordinasi beberapa hal lain. Selesai acara kami diantar kembali ke hotel. Malam harinya kami diajak makan malam lagi di pinggir sungai musi. Menu utamanya adalah berbagai olahan ikan, rasanya enak dan tempatnya juga bagus dengan view jembatan Ampera di malam hari. Keren.

Keesokan harinya kami kembali ke Bali. Bapak Ketua STP Bali naik Garuda Indonesia direct ke Bali, sedangkan saya dan Kabag Adak terpaksa harus transit ke Jakarta karena tidak mendapat tiket direct. Penerbangan kami dari Palembang sempat delay lebih dari 1 jam, konon karena kondisi cuaca di Jakarta tidak bagus sehingga pesawat dari Jakarta yang ke Palembang harus delay. Setelah akhirnya berangkat dan tiba di Jakarta, kami tentu saja ketinggalan pesawat yang rencana ke Bali dan harus mundur ke flight selanjutnya. Flight selanjutnya itupun delay lebih dari 2 jam. Jadi kami terpaksa menunggu. Uniknya, karena delay saja jadi makan di Garuda Lounge, ini pertama kalinya saya masuk ke Garuda Lounge, hehe.

Penerbangan kami ke Bali akhirnya berangkat juga, dan kami mendarat di Bali sekitar pukul 10.30 malam, padahal kalau semua lancar kami seharusnya mendarat di Bali sekitar pukul 5 sore. Tidak apalah yang penting kami tiba dengan selamat. Demikianlah catatan perjalanan dinas kali ini.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.