Pesta Kesenian Bali, Dulu dan Kini

pulang membawa oleh-oleh kaki pegal

Hari ini mumpung hari Minggu saya dan istri ingin melepas penat, sekedar refreshing otak yang kayaknya jenuh di rumah. Mumpung saat ini Pesta Kesenian Bali (PKB) 2012 masih berlangsung, maka saya memutuskan untuk pergi ke Art Centre, tempat dimana Pesta Kesenian Bali di gelar selama kurang lebih sebulan.

Entahlah, apa karena saya yang kurang mengerti seni atau bagaimana, Pesta Kesenian Bali (PKB) beberapa tahun terakhir sepertinya tidak menarik lagi bagi saya. Berbeda dengan ketika jaman saya masih SMP-SMA dulu sekitar tahun 90an, PKB begitu diminati oleh masyarakat. Salah satu contohnya ketika itu adalah kesenian drama gong. Sebut saja nama pelawak macam Petruk-Dolar, Gangsar-Gingsir, Lodra, Luh Mongkeg dan lainnya. Tahun 90-an itu mungkin adalah tahun keemasan mereka.

Kala itu drama gong adalah salah satu pertunjukkan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat khususnya grup Petruk-Dolar dan kawan-kawan. Pada tahun-tahun itu saya adalah salah satu penonton setia, hampir setiap pergelaran PKB jaman itu saya selalu menonton drama gong Petruk-Dolar secara langsung di panggung terbuka Arda Candra, Art Centre.

Suasana menonton drama gong secara live disana kala itu benar-benar luar biasa. Penonton benar-benar tumpah ruah, ada yang sampai memanjat di atas atap bangunan, di atas kuri bahkan ada yang diatas pohon. Ini benar-benar terjadi kala itu dan rasanya sulit terulang lagi di jaman sekarang.

Lebih hebatnya lagi adalah bagaimana para pemain drama gong memerankan lakon di atas panggung. Seorang “patih agung” bahkan pernah di lempari botol plastik di atas panggung karena begitu menghayati perannya sebagai antagonis. Para penonton pun begitu terharu dengan lakon cerita drama gong misalnya ketika sang putri yang baik hati disakiti oleh ibu tirinya yang jahat.

Sekarang rasanya tidak mungkin penonton bisa seperti itu lagi. Entah, mungkin karena penonton sekarang lebih cerdas dan mengetahui itu hanya sebuah pertunjukkan atau karena otak mereka sudah lebih sering dijejali tayangan sinetron di televisi yang dianggap lebih menarik, saya tidak tahu.

Kembali tentang Pesta Kesenian Bali (PKB) jaman sekarang, saya tidak pernah mendengar lagi sesuatu yang begitu menghebohkan seperti jaman keemasan drama gong dulu. Kalau pun ada pertunjukkan wayang Cenk Blonk yang berhasil menarik hati masyarakat belakangan itu, rasanya kita sudah hampir terpuaskan dengan peredaran VCD dan juga penampilan live mereka di beberapa tempat lainnya.

Pesta Kesenian Bali (PKB) jaman sekarang, sekali lagi, entahlah, apa karena saya yang memang tidak pernah datang untuk mencoba menonton pertunjukkan seni yang digelar, atau karena saya yang bukan seniman dan tidak bisa menikmati kesenian. Atau PKB telah gagal menampilkan sebuah kesenian yang benar-benar merakyat dan bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. PKB yang kini lebih terkenal dengan pasar malam.

Dan hari ini, saya pulang dari Art Centre hanya membawa kaki yang pegal karena berjalan jauh dari parkir dan lelah berkeliling tanpa tujuan yang jelas.

Baca Juga:

I Gusti Agung Made Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

12 thoughts on “Pesta Kesenian Bali, Dulu dan Kini

  1. ekslusifitas, pak.

    kalau dulu, menonton langsung itu memberi pengalaman ekslusif.

    sekarang kan akses ke hal tersebut sudah gampang sekali, seperti yang bapak utarakan di atas.

    tapi, saya sudah dua kali bolak-balik ke TPB 2012, dan keduanya saya merasa salut buat masyarakat Bali dan acara tahunan ini.

    ps: dan dua kali pulang dalam keadaan pegel-pegel. haha

  2. Zaman memang sudah berubah, Bli. Kesenian tradisional mulai digantikan dengan yang berbau modern. Namun saya tetap menaruh simpati dan rasa hormat pada mereka yang masih melestarikannya..

    1. @giewahyudi : sebenarnya di Bali beberapa kesenian tradisional masih diminati, contohnya Wayang Kulit. Hanya saja karena sudah banyak beredar dalam keping VCD baik asli maupun bajakan, juga sering disiarkan di televisi, jadi orang sudah makin terbiasa menonton dan tidak spesial lagi.

  3. ngomong2 soal seni sekarang kota tempat saya tinggal SOLO lagi galau, banyak acara kesenian yang tahun ini terancam gagal/kurang peminat, mulai dari Solo Batik Carnival, SIEM dll :(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *