Perubahan Perilaku di Jejaring Sosial

October 23rd, 2012 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

ilustrasi dari : http://www.mnn.com/green-tech/computers/stories/facebook-makes-people-more-social

Jaman sekarang siapa sih yang tidak punya akun di jejaring sosial. Menurut saya mungkin 99% pengguna internet pasti memiliki akun di jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter yang merupakan dua jejaring sosial paling digemari saat ini. Walaupun mereka tidak aktif disana tapi setidaknya saya yakin pengguna internet itu pernah mencoba membuat akun di jejaring sosial.

Saya tidak tahu dan tidak punya data berapa banyak pengguna internet di Indonesia saat ini. Tapi saya yakin jumlah pengguna atau pengakses layanan di internet jumlahnya saat ini jauh lebih banyak dibanding dengan sekitar 5 tahun lalu. Mungkin jumlah pengguna internet saat ini sampai dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya booming jejaring sosial beberapa tahun belakangan ini.

Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? Saya melihat secara kasat mata saja, mulai dari lingkungan di sekitar saya. Sekitar 10 tahun lalu, jumlah pemilik komputer PC / desktop saja masih sangat jarang, apalagi perangkat mobile seperti laptop. Pada waktu itu rasanya internet diakses hanya dengan perangkat komputer / laptop saja. Sedangkan mengakses internet dari ponsel saat itu rasanya mustahil, kalau pun bisa biayanya super mahal.

Lalu sekitar 5 tahun lalu di lingkungan saya mungkin orang sudah biasa memiliki komputer, hampir setiap rumah khususnya yang memiliki anak yang sudah SMA atau kuliah atau yang bekerja di kantoran mungkin sudah punya komputer. Yang memiliki laptop pun sudah mulai banyak. Tapi mengakses internet belumlah terlalu menjadi kegiatan favorit di masyarakat. Maklumlah di internet belum ada sesuatu yang menarik bagi masyarakat kecuali chatting. Jadi yang mengakses internet masih kalangan tertentu saja seperti orang-orang yang memang di bidang IT atau memiliki ketertarikan dengan IT dan internet.

Lalu muncullah Facebook. Walaupun sebelumnya sudah ada jejaring sosial macam Friendster (FS) yang booming di sekitar tahun 2002-an, tapi di lingkungan tetap saja yang memiliki akun FS masih sangat jarang. Dan ketika Facebook mulai “menggantikan” FS saya pun ikut bergabung di awal-awal 2009. Begitu juga beberapa teman di FS semua seperti hijrah ke Facebook.

Nah di tahun 2009 bahkan sampai 2010 di lingkungan saya masih tetap yang memiliki akun di Facebook masih terbatas. Terbatas pada mereka yang memiliki perangkat komputer dan atau memiliki akses ke internet baik pribadi maupun akses internet di kantor. Perilaku di jejaring sosial ketika itulah yang menurut saya sangat berbeda dengan sekarang, khususnya bagi saya sendiri.

Karena jumlah “friend” yang masih terbatas ketika itu, maka saya waktu itu masih merasa cukup bebas. Karena apapun yang saya lakukan di jejaring sosial ketika itu tidak terlalu di ketahui oleh orang di sekitar lingkungan saya. Maksud saya lingkungan di rumah dan tetangga. Perilaku ini termasuk ketika saya mengeluh, mengomel atau bahkan menyindir orang-orang yang saya kenal di dunia nyata namun saya tahu mereka belum “tersambung” ke jejaring sosial.

Lalu sekarang? Kita semua tahu, pengguna atau pengakses internet bukan lagi terbatas pada mereka yang memiliki komputer. Adanya jejaring sosial menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk mengakses internet. Tujuan bergabung di jejaring sosial mungkin bermacam-macam. Untuk sekedar eksis atau narsis, untuk mengisi waktu, untuk memperluas pertemanan, untuk mengetahui informasi dan gossip terbaru di lingkungan tetangga dan berbagai alasan lainnya.

Ditambah lagi dengan berbagi kemudahan untuk mengakses internet saat ini. Adanya “ponsel pintar” dan tarif akses internet yang relatif jauh lebih dari beberapa tahun lalu membuat masyarakat makin rajin mengakses internet, khususnya mengakses jejaring sosial. Jadi sekarang bertambah luas dan banyak sudah “friend” di jejaring sosial saya.

Jumlah friend yang bertambah banyak dengan berbagai macam perilaku juga. Ada yang membuat kegiatan berjejaring sosial makin seru dan ada yang sebaliknya membuat jejaring sosial makin tidak nyaman. Ini memang resiko, banyak orang maka makin bermacam pula tingkah polahnya. Dan bagi saya pribadi, tentu perilaku saya dulu khususnya perilaku yang kurang baik harus saya kurangi / hilangkan. Tidak apa-apa karena memang begitulah seharusnya.

Walaupun jejaring sosial hanyalah dunia maya namun perilaku juga harus tetap kita jaga. Tidak semua hal di dunia nyata bisa kita “tuangkan” ke dunia nyata. Contohnya ketika kita sedang berselisih paham dengan orang terdekat seperti suami-istri, orang tua atau pun tetangga. Kalau menurut saya sih sebisa mungkin jangan sampai di “obral” semuanya. Rasanya kok seperti bertengkar di muka umum. Tapi saya katakan sebisa mungkin, saya sendiri hanya berusaha tapi mungkin sesekali tidak tahan juga.

Itu hanya satu contoh perilaku di jejaring sosial yang saya ubah beberapa tahun belakangan yang berbeda dengan di awal-awal bergabung di jejaring sosial Facebook. Mungkin ini “kebijakan” masing-masing ya dimana setiap orang punya pemikiran dan cara pandang sendiri tentang bagaimana mereka berperilaku di jejaring sosial, apa saja dan sejauh mana mereka membuka diri di jejaring sosial. Akhirnya semua kembali kepada diri masing-masing karena toh resiko juga akan ditanggung sendiri-sendiri.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

12 comments

  1. Isnuansa says:

    Sebisa mungkin sih nggak posting urusan prifat ya.. Apalagi emosi. :)

  2. Darin says:

    Mungkin ini yang dinamakan third-wave dalam bidang komunikasi ya mas. Kalau saya sih melihatnya dari sisi positif saja, yaitu menambah jaringan dan pertemanan, khususnya di Facebook.

    Sisi positif lain yaitu kita dapat mengakses kata2 motivasi dgn mem-follow para motivator misalnya.

  3. honeylizious says:

    Iya dulu saya suka banget update starus fb, bhkn dlm hitungan jam, sekarang aja agak jaim

  4. Zizy Damanik says:

    Karena saya sudah main di dunia online semak lama, saya agak berhati2 dengan informasi pribadi. Account FB saya memang di-locked hanya untuk closest friend yang memang saya kenal benar. Saya agak ragu menggunakan nama asli di internet karena takut ada yg menyalahgunakan. Buktinya kemarin itu sempat ada yg bikin fake account FB saya.
    Memang kita sendiri harus bisa menjaga diri, di dunia nyata dan juga maya.

    • imadewira says:

      @Zizy Damanik : wah, pernah dapet pengalaman ndak enak gitu ya mbak? Ya kita mesti tetap waspada aja karena kita tidak pernah tahu akan seperti apa perkembangan internet ke depan.

  5. SIge says:

    Hi bro..

    Bnayak tuh yang mencak mencak, maki maki trus ada jg yang curhat di socmed…lucu aja bcana..kebyakan sih ababill
    SIge´s last blog post ..Lawarku membawa cerita

    • imadewira says:

      @SIge : ya begitulah perilaku orang di jejaring sosial saat ini. Saya dulu kayaknya juga pernah begitu, sekarang pun kalau ndak ditahan mungkin akan ikut bergaya ababil juga, haha

  6. DV says:

    Pedoman saya bersosial media itu begini: Facebook untuk yang biasa-biasa, Twitter untuk nyampah, dan blog adalah segala-galanya :)

    Tapi itu semua adalah diluar urusan privat.
    DV´s last blog post ..Masa lalu tentang perasaan, masa depan tentang pemikiran. Benarkah?

Leave a Reply

CommentLuv badge