Perjalanan Dinas, Dapat Berapa?

September 17th, 2013 by imadewira Leave a reply »

Tugas dinas ke Akademi Pariwisata Medan beberapa waktu yang lalu itu merupakan kali ke 6 saya ditugaskan ke luar daerah. Lima yang sebelumnya adalah ke Jakarta dan baru kali ini di luar Jakarta yaitu di pulau Sumatera. Ngomong-ngomong tentang perjalanan dinas, satu hal yang menarik untuk dibahas adalah soal “uang saku” yang didapat oleh mereka yang mendapatkan tugas dinas tersebut.

Saya beberapa kali mendengar tentang uang yang didapat dari hasil perjalanan dinas seperti ini. Khususnya perjalanan dinas jaman dulu ketika segala sesuatu tidak seketat sekarang. Konon katanya kalau dulu perjalanan dinas merupakan salah satu celah untuk mencari pemasukan tambahan yang bisa dilakukan oleh mereka yang bekerja sebagai PNS. Seseorang yang ditugaskan melakukan perjalanan dinas bisa dengan cukup mudah memalsukan berbagai dokumen seperti tiket transportasi dan biaya penginapan.

Tiket transportasi, sekali lagi ini konon, bisa saja kita menggunakan transportasi darat seperti bus tetapi dalam laporan tercatat menggunakan pesawat sehingga selisih biaya bisa masuk kantong. Biaya penginapan, modusnya juga sama, bisa saja menginap di hotel kelas melati namun dilaporkan menginap di hotel berbintang dengan tarif yang lebih tinggi sehingga selisihnya bisa masuk kantong juga. Untuk biaya penginapan, tentunya yang masuk kantong akan menjadi semakin banyak jika menginapnya semakin lama, tergantung lamanya tugas.

Itu dulu, tapi yang saya rasakan tidaklah demikian. Sebanyak 6 kali melakukan perjalanan dinas tersebut, saya selalu menggunakan pesawat udara. Tiket pesawat pun tidak saya beli sendiri namun sudah diurus oleh pegawai yang di bagian keuangan sehingga kami yang berangkat tidak repot lagi memikirkan tiket pesawat. Saya pun hampir selalu menggunakan Garuda Indonesia karena memang kami berhak menggunakannya, saya tidak tahu aturan detailnya. Tapi saya pikir kalau boleh Garuda Indonesia kenapa harus mencari yang lain.

Soal penginapan, saya tidak tahu pastinya tetapi ada tarif maksimal untuk masing-masing golongan. Misalnya saya yang saat itu III/b diperbolehkan menggunakan penginapan dengan biaya maksimal 425 ribu per hari (itu kalau tidak salah). Tapi kalau bisa sekamar berdua dengan teman tarif itu berbeda, tentunya lebih tinggi. Saya tidak tahu pastinya karena selama ini saya belum pernah mengurus langsung soal penginapan. Yang jelas kita tidak bisa berbohong soal tarif penginapan ini karena bagian keuangan di kantor tentunya meminta bukti pembayaran di hotel sebagai laporan. Bukti pembayaran ini tentu saja tidak bisa di mark-up oleh pihak penginapan, ini yang saya tahu.

Nah, kalau tiket pesawat dan biaya penginapan kita tidak dapat apa-apa, lalu apa enaknya melakukan tugas/perjalanan dinas? Yang namanya tugas tentu saja harus dilaksanakan, tetapi tentu saja akan terasa berat kalau tidak tidak mendapat apa-apa sama sekali. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan uang tetapi tidak harus korupsi. Menurut pengalaman saya, setiap orang yang melakukan perjalanan dinas itu selain dibiayai tiket pesawat dan penginapan, kita juga mendapat dua hal yaitu “Uang Saku” dan “Uang Transport”.

Uang saku disini adalah uang yang boleh digunakan untuk apa saja. Kita juga tidak perlu menyetorkan bukti apapun untuk penggunaan uang tersebut. Enak sekali? Tentu saja, selama melakukan tugas kita tentu juga harus membeli makan, minum dan lainnya. Untuk itulah uang saku itu diberikan. Besarnya berapa? Ini tergantung tempat tugas, misalkan di Jakarta, kemarin saya mendapat 530 ribu per hari, jadi misal 3 hari disana berarti kita mendapat Rp. 1.590.000,-. Beda lagi kalau di Medan, dimana uang sakunya adalah 350 ribu per hari, jadi kalau 3 hari kita mendapat Rp. 1.050.000,-.

Uang transport, sesuai namanya ya digunakan untuk biaya transportasi selama di tempat tugas. Transportasi disini adalah transportasi yang tidak memperoleh bukti seperti becak, taxi, ojek dan lainnya. Untuk uang transport ini pun kita tidak harus menyetorkan bukti apapun ke kantor setelah melakukan perjalanan dinas. Jadi sebenarnya bisa saja digunakan untuk keperluan lainnya. Besarnya berapa? Tergantung tempat tugas juga, kalau di Jakarta saya mendapat Rp. 450.000,- tapi tidak dikalikan hari. Jadi jumlah itu sama entah tugas sehari, dua hari ataupun lebih. Kalau di Medan, besarnya adalah Rp. 350.000,-

Nah, jadi dari Uang Saku dan Uang Transport itulah kita bisa mendapatkan pemasukan yang “halal” alias bukan korupsi. Jumlahnya tentu saja tidak seberapa karena semuanya sudah diperkirakan oleh yang membuat aturan. Tergantung dari kita bagaimana caranya mengirit uang tersebut. Misalnya untuk makanan, kalau Breakfast biasanya sudah include di Hotel tempat menginap, sedangkan makan siang dan makan malam cukuplah di kaki lima. Syukur-syukur kalau di tempat tugas diberikan makan siang, jadi bisa makin irit.

Untuk transportasi juga bisa ngirit, misalnya saya dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang letaknya cukup dekat dengan Stasiun Gambir bisa menggunakan Bus Damri dengan tarif 25 ribu, bolak-balik berarti 50 ribu. Ditambah ongkos ojek tidak sampai 20 ribu, jadi lumayan mengirit. Jadi sekali lagi, berapa sisa Uang Saku untuk kita ya tergantung bagaimana kita menyiasati uang tersebut. Juga tergantung kemana saja acara kita selama di tempat tugas.

Bagi saya yang memang sejak awal tidak pernah merasakan bagaimana “bermain” dengan hal diatas, jumlah yang murni dan halal diatas sudah lebih dari cukup. Ya katakanlah untuk tugas selama 2 atau 3 hari setidaknya sisa bersih ada 500 ribu – 1 juta, jumlah ini sangat lumayan dibanding dengan berdiam diri di kantor. Belum lagi ditambah pengalaman yang bisa diperoleh selama bertugas, semuanya harus disyukuri.

Itulah sekedar sharing pengalaman saya sebagai PNS yang ditugaskan dalam perjalanan dinas. Bagi teman-teman lain yang bertugas sebagai PNS mungkin bisa bercerita jujur berapa sisa uang saku yang ada di kantong.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

7 comments

  1. Yos Beda says:

    itu yang perjalanan dinas ke jekarta kalau sampai berhari-hari jatah Rp. 450.000,- jadi sangat mepet dong mas :(
    Yos Beda´s last blog post ..Di Era Internet, Wardrobe Untuk Sesi Foto Bisa Dicari dan Dibeli Online

    • imadewira says:

      @Yos Beda : biasanya sih cukup, paling lama saya di Jakarta 5 hari. Belum pernah lebih dari itu. Tidak tahu kalau tugasnya lebih dari seminggu, mungkin beda aturannya.

  2. a! says:

    wah, enak banget ya bisa nabung dari uang saku perjalanan dinas. kalau aku pasti tekor. hehehe..
    a!´s last blog post ..Karena Tindakan adalah Pelajaran Terbaik

  3. yudi says:

    enak juga ya, asal ga boros bisa ada sisa yang dibawa pulang. pengalaman juga dapat. mantap wir :-D

    kalo jadi rider motogp mau wir? keliling2 berbagai tempat dapet, “uang sakunya” juga dapet heheheh

Leave a Reply

CommentLuv badge