Perda Tajen di Bali?

September 20th, 2010 by imadewira Leave a reply »

Tajen adalah sebutan untuk judi sabung ayam di di Bali. Selama ini kegiatan tajen di Bali tetap adalah kegiatan yang dilarang dan melanggar hukum karena sudah jelas di dalam tajen ada unsur judi. Ya walaupun pada kenyataannya tajen ini masih tetap ada di beberapa daerah di Bali, tentunya dengan sembunyi-sembunyi.

Beberapa waktu terakhir ini, malah muncul wacana bahwa tajen akan dibuatkan Perda alias peraturan daerah. Wacana tentang Perda Tajen ini menjadi topik di beberapa media koran di Bali. Konon Kapolda Bali saat ini memberikan semacam lampu hijau pada kegiatan tajen asalkan ada Perda yang jelas untuk mengaturnya. Kapolda konon tidak akan menindak dan malah melindungi kegiatan tajen jika sesuai dengan Perda. Kapolda mengatakan hal itu saat melakukan pertemuan DPRD Provinsi Bali. DPRD Bali saat ini sedang mengkaji Perda Tajen tersebut.

Jujur saja saya sendiri tidak mengerti dengan pemikiran pejabat-pejabat tersebut. Sudah jelas dalam arena tajen selama ini ada unsur judi, lalu apanya yang mau dibuatkan Perda. Kalaupun ada Perda nantinya, saya tidak bisa membayangkan seperti apa isinya dan hampir dipastikan Perda Tajen itu akan bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Kalaupun yang dimaksud Perda Tajen itu adalah Perda yang mengatur tentang upacara Tabuh Rah, saya rasa hal itu tidak perlu dibuatkan Perda. Mengapa? Karena setahu saya Tabuh Rah itu hanyalah sebuah ritual dalam upacara agama dan tentunya tidak mengandung unsur judi. Lalu apa tujuan dibuatkan Perda Tajen (Tabuh Rah). Saya rasa DPRD Bali hanya akan sia-sia saja melakukan berbagai kegiatan untuk mewujudkan Perda yang mengatur tentang Tajen tersebut.

Kalau alasannya adalah melestarikan budaya, budaya seperti apa yang dimaksud ingin dilestarikan, budaya judi? Saya rasa masih banyak budaya atau kesenian lain yang lebih penting dan lebih bagus untuk dilestarikan. Kalau alasannya karena tajen membuka banyak lapangan pekerjaan, saya rasa masih banyak kok lapangan pekerjaan lain di Bali.

Saya memang orang yang awam tentang hukum, tapi saya tahu jelas bahwa tajen itu salah satu bentuk judi dan itu melanggar hukum. Kalaupun ada diantara anggota keluarga saya, teman, kerabat atau pun tetangga yang ikut dalam judi tajen, ya itu terserah mereka dan resikonya tentu ada. Saya sendiri tidak bermaksud benci kepada mereka yang melakukan kegiatan tajen, tidak pula bermaksud untuk mendukung adanya tajen.

Saya lebih suka memandang tajen yang ada saat ini seperti rokok, mau merokok ya silahkan tapi resikonya tanggung sendiri. Mau tajen ya silahkan, saya tidak ikut-ikutan melarang tetapi resiko melanggar hukum ya silahkan dihadapi sendiri. Jadi saya rasa wacana untuk membuat Perda tentang Tajen di Bali adalah sia-sia.

Rasanya para anggota DPRD Bali saat ini lebih baik mengurusi hal-hal lain yang lebih penting dibanding membuat Perda Tajen. Wujudkan dulu janji-janji pada masa kampanye dulu. Lebih baik urus masalah-masalah yang saat ini lebih mendesak, misalnya masalah transportasi dan lalu lintas yang makin lama makin macet. Juga masalah penduduk pendatang yang lama-kelamaan semakin banyak dan penduduk lokal masih terdesak. Juga masalah lahan pertanian yang makin lama makin sempit, berganti dengan bangunan beton.

Jadi, lupakan saja soal Perda Tajen itu pak..

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

28 comments

  1. DV says:

    Setuju! *eh…

    Menurutku kita harus hati2 dengan Perda, Bli…
    Bagaimanapun dengan adanya otonomi daerah, keberadaan Perda menjadi sangat kuat sementara pengaturan dan pembuatnya pun seharusnya juga diperketat dan bersih dari ‘titipan’ golongan ataupun kepentingan pihak tertentu.
    DV´s last blog post ..Mengajarkan doa

  2. Saya setuju tajen dibiarkan saja seperti sekarang. Biarlah itu diatur dalam hukum agama masing-masing saja. Kalau judi dianggap dosa, ya itu jadi urusan si penjudi. Kita cuma bisa menyarankan agar ndak berjudi.

    Nah, kalau dia mencuri uang orang lain untuk berjudi barulah dia ditindak secara hukum. Tapi beginilah, hukum di negeri ini terlalu jauh mencampuri urusan pribadi warga negaranya. Seharusnya judi menjadi urusan kesenangan masing-masing orang. Kalau ndak ada yang dirugikan, ya biarkan saja. :)

    Atau, seperti yang pernah anda bilang di blog saya, jangan-jangan ada “sesuatu” dibalik pembuatan perda ini? Duit misalnya. Hihihi!

  3. “Bapak-bapak” diatas hanya sibuk mengurus hal-hal yang tidak perlu diurus, dibuatkan UU beginilah, UU begitulah, ya memang semuanya “UUD”. Hehehe..
    Tamba Budiarsana´s last blog post ..Salah Orang Tak Kenal Maka Tak tahu

  4. Cahya says:

    Wah…, saya malah sudah hampir ndak ingat lagi :).
    Cahya´s last blog post ..Berjemur Di Pulau Tropis

  5. setuju dengan mas Agung, memang kalau itu berhubungan dengan pemahaman agama ya serahkan ke kepahaman masing masing aja, toh mereka sendiri sudah tahu resikonya jika melanggar aturan agama, baikresiko di dunia maupun di akhirat kelak

  6. Reny says:

    Ya..para Bapak-Bapak yang terhormat, urus dulu bagaimana cara mensejahterakan rakyat.
    Kalo tajen di Perdakan, yang paling dirugikan siapa?????

  7. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
    Yohan Wibisono´s last blog post ..TAHITIAN NONI JUICE SEBAGAI MEDIA KESEMBUHAN

  8. madkork says:

    Saya Gak Suka Maen Tajen….. ! Tapi sukanya main cewe… hehehehhe
    madkork´s last blog post ..Akses ke situs porno mulai diblock oleh ISP indosat

  9. hidup tajen says:

    hidup tajen.,tajen = budaya bali.,liat orang – orang di tajen jujur., bicara sopan santun.,

  10. Made says:

    Kami Sekumpulan Bebotoh seBALI yang suka BERjudi biarkanlah kami lesterikan tradisi bali warisan nenek motang kami terutana TAJEN.Biarpun kami suka judi tapi kami paling benci yang namanya KORUPSI,MALING,& KORUPTOR.Kami berjudi menggunakan uang sendiri,hasil keringat sendiri,hasil jerih payah kami ‘BUKAN” dari hasil Mencuri uang rakyat Alias KORUPSI

  11. Jero Botoh says:

    Saya setuju apa yang di katakan Made karena Tajen adalah tradisi bali warisan nenek moyang dari kerajaan Majapahit,,buktinya sekarang banyaknya di adakan Tajen di mana mana malah sampai keluar Bali maupun Luar negeri contohnya di Thailand,,jadi Tajen tidak akan dapat di bubarkan walaupun sudah dibuatkam perda tajen

    “HIDUP TAJEN””

  12. gracie says:

    Saya ditunggui dan dikejar2 oarang2 bali,agen real estate supaya tidak berubah pikiran untu membeli rumah.Masih bingung ,karena hidup sendiri,setelah bercerai dengan suami,saya membeli rumah dari bekas bandar judi ayam sabung yg bangkrut.Setelah 5 tahun disini,ditekan banjar adat.Tanah kosong disebelah rumah saya dipakai tajen tiap hari.Saya lihat seseorang kencing depan rumah saya.”pak jangan kencing depan rumah”.Jawabnya:’memang jalanan ini punya siapa.”Kalau orang2 bali suka melecehkan pendatang,seharusnya real estate dilarang untuk menjual tanah/rumah kependatang2,menyesal tinggal disini.

  13. gracie says:

    Padahal beberapa meter ada sungai kecil,tetapi kenapa mesti mengencingi tembok depan rumah saya dan didepan saya dan menantang saya.Benar benar tidak tahu adat.Seharusnya real estate ditutup supaya kita pendatang2 tidak beli dan tinggal disini

  14. panjendra says:

    Ternak ayam idup, ngae guwungan idup, dagang ayam idup, pande taji idup, pedagang sekitar kalangan idup, ayam asli tidak punah, tanah bisa disewakan untuk kalangan atau sewa parkir, mendatangkan devisa dengan menyelenggarakan adu ayam dunia seperti pilipin dan tailan dan ekspor ayam aduan kalo ayam dan peternakan sudah punya nama, selingkuh berkurang, tingkat stres berkurang dan masih banyak lagi keuntungan lain jika tajen dilegalkan dan dikelola dengan baik
    Budayakan mekamen dan meudeng saat show dan jadi atraksi wisata seni.
    Suksma.

Trackbacks /
Pingbacks

  1. Nge-BLoG lagi gak ya ? | PanDe Baik

Leave a Reply

CommentLuv badge