Pengempu

July 25th, 2011 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

Saya ingin bercerita tentang pembantu dirumah saya. Ya sebut saja dia pembantu walaupun sebenarnya saya tidak enak dan tidak suka menyebut dia pembantu karena bagi saya kesannya agak rendah dan kasar. Kepada teman dan kerabat saya, saya lebih suka menyebut dia sebagai “pengempu” yang dalam bahasa Bali kurang lebih artinya baby sitter.

Satu lagi alasan saya tidak suka mengatakan bahwa saya menggunakan jasa pembantu adalah latar belakang dan keadaaan ekonomi keluarga saya yang biasa saja. Bahkan jauh dari kata “kaya”, semua tetangga dan kerabat tahu bahwa keluarga kami biasa-biasa saja. Jadi mungkin mereka akan mengernyitkan dahi ketika mendengar kami mengajak pembantu dirumah. Karena terkesan mungkin saya sombong, sok kaya atau tidak mampu mengerjakan sendiri pekerjaan dirumah yang mana membuat saya perlu mengajak pembantu.

Sebenarnya saya dan istri sama sekali tidak kewalahan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika dan semua pekerjaan rumah lainnya. Jadi bukan itu alasan saya untuk mengajak pembantu di rumah.

Ada satu hal lain yang tidak mungkin saya dan istri kerjakan yaitu “ngempu”. Saya dan istri sama-sama bekerja, jadi kami tidak mungkin bisa menemani anak selama 24 jam setiap hari. Itulah sebabnya saya terpaksa mencari jasa “pengempu”.

Sebenarnya saya tinggal bersama kedua orang tua saya yang masih sehat dan bisa “ngempu”. Tapi saya kasihan dan tidak mau terlalu merepotkan mereka, apalagi saya tahu pekerjaan “ngempu” balita itu tidaklah mudah dan butuh kesabaran tingkat tinggi. Apalagi kedua orang tua saya juga punya pekerjaan wiraswasta walaupun sebagian besar dikerjakan di rumah.

Jadi, keputusan saya adalah tetap menggunakan jasa “pengempu”. Awalnya kedua orang tua saya kurang setuju dengan berbagai alasan, diantaranya karena merasa dari segi ekonomi keluarga kami belum pantas dan juga masalah biaya untuk gaji. Ada juga alasan lain karena takut kesannya orang tua saya tidak mau mengurus cucunya.

Tapi saya berusaha menjelaskan alasan saya adalah demi orang tua saya juga, saya tidak mau terlalu merepotkan mereka. Apalagi konsep saya adalah kedua orang tua saya tetap saya minta tolong untuk “ngempu” dan pengempunya bertugas untuk membantu. Jadi anak saya tetap berada dalam pengawasan kedua orang tua saat saya dan istri tidak berada dirumah bersamanya.

Dan sejak putri saya yang saat ini sudah berumur 1,5 tahun masih di dalam kandungan, keluarga saya mulai mengajak pembantu. Seperti tujuan awal saya pembantu itu tugasnya adalah “ngempu” tapi dalam prakteknya dia juga membantu banyak pekerjaan dirumah khususnya mencuci dan setrika, menyapu dan mengepel lantai serta memasak nasi dan membersihkan dapur.

Untuk masalah biaya “pengempu” itu, saya merasa tidak masalah menyisihkan sebagian gaji saya dan istri untuk diberikan kepada “pengempu”. Daripada salah satu dari kami harus berhenti bekerja karena mengurus anak dirumah.

Hingga saat ini, secara umum semua berjalan lancar walaupun tetap ada masalah yang muncul dengan adanya “pengempu” dirumah saya. Tapi kami, saya dan istri menganggap semua itu adalah bagian dari cobaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang harus kami hadapi. Syukurlah, dengan bermodalkan kesabaran sejauh ini semua bisa teratasi.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

11 comments

  1. Cahya says:

    Ah, cuma perasaan saja Bli De :).

    Kalau kita memandang pembantu itu rendah, ya kita merasakannya rendah, tapi kalau tidak, mengapa mesti memandang rendah kan.

  2. Alid Abdul says:

    lah yang memandang tinggi ato rendah kan kita sendiri. arti istilah sama aja kok, baby sitter, pengempu, pembantu.

    Orang tidak mau disebut sebagai supir tapi lebih terhormat disebut driver.
    orang tidak mau dipanggil satpam, lebih keren security.

    apa bedanya coba, toh artinya sama aja. tinggi rendahnya kita yang buat. uuppss sok bijak dah haha…

  3. sibair says:

    saya baru dengar istilah pengempu. Menurut saya sih sah sah saja itung-itung berbagi rejeki dengan sesama kan? Bukan berarti keluarga kita berpenghasilan pas-pasan lantas kita tidak boleh menyewa pengempu, bukan?

  4. DV says:

    Saya nggak pake pembantu, Bli. Bukan kenapa-napa, di sini biaya sewa pembantu sangat mahal makanya sangat jarang keluarga dari kalangan manapun untuk pakai pembantu.

    Yang kedua soal privacy, bagaimanapun urusan rumah adalah urusan pribadi. Nggak lucu kan kalau harus marah-marah di depan pembantu yang adalah orang lain :)

    Yang ketiga adalah melatih kemandirian. Aku ngga mau tergantung pada pembantu. Giliran kita semakin tergantung, dia jadi kurang ajar :)

    • imadewira says:

      Alasan itu memang sangat masuk akal, tapi bagi saya, dibandingkan istri saya harus berhenti kerja karena mengurus anak, saya lebih memilih membayar pengempu dengan perhitungan gajinya tidak sampai setengah gaji istri :-)

      Soal privacy, ini memang benar sekali. Bukan hanya saat marah-marah, seringkali ada beberapa percakapan yang tidak pas jika didengar oleh dia.

      Soal kemandirian, saya sih sebenarnya tidak tergantung. Bahkan seringkali saya menyapu atau cuci piring sendiri dan pembantu malah cemberut, mungkin dikira saya tidak puas dengan hasil pekerjaannya, hehe

      Tapi, terima kasih masukkannya mas :-)

  5. surya says:

    Bli…
    boleh minta bocoran ngga dapat pengempu dimana..? untuk calon pengempu di rumah…! masalah yang saya hadapi hampir sama dengan bli sekarang.. cuman saya masih kurang beruntung saja… sudah sejak lama mencari pengempu tapi belum dapat sampai sekarang…
    Terima kasih banyak kalau sekiranya bli bisa membantu

    Made

Leave a Reply

CommentLuv badge