Pengemis dan Tukang Potong Rambut

“MADURATNA”

Itulah kata yang terlintas di benak saya jika ingin memotong dan merapikan rambut. Kata “maduratna” sudah menjadi ciri khas nama tukang potong rambut di daerah saya, bahkan kata itu sudah menjadi seperti merk waralaba. Karena nama tempat potong rambut “maduratna” tidak cuma ada satu tapi cukup banyak, padahal pemiliknya mungkin tidak saling mengenal.

Jaman saya kecil hingga SMA di daerah saya belum banyak bahkan sangat jarang sekali ada tukang potong rambut semacam “maduratna”. Awalnya yang biasa memotong rambut saya adalah Ajik (ayah) saya sendiri. Beliau cukup mahir untuk memotong dan merapikan rambut.

Tapi karena pada waktu itu saya sering merasa hasil atau model potongan rambut Ajik tidak bagus dan kuno, maka saya lalu “berlangganan” potong rambut di kakak sepupu yang rumahnya di sebelah rumah saya. Kakak sepupu saya ini juga mahir, enaknya dia mau menuruti apa keinginan saya khususnya dalam model potong rambut yang saya inginkan.

Selain saya, dulu beberapa saudara dan tetangga juga biasa minta tolong kepada kakak sepupu saya itu untuk potong rambut. Ya, saya sebut minta tolong karena semua gratis, hehe. Kakak sepupu saya ini pun melakukan dengan sukarela asalkan ada waktu. Untuk melakukan potong rambut dia hanya menggunakan gunting biasa dan sisir serta silet untuk merapikan.

Seiring berjalannya waktu, saat ini mungkin banyak yang sungkan karena gratis, tidak pernah saya lihat lagi ada yang potong rambut di kakak sepupu saya itu, termasuk saya. Hampir semua sudah beralih ke “maduratna”.

Beberapa waktu lalu saya pergi ke tukang potong rambut langganan saya, biasanya dia hanya bekerja sendiri. Tapi ketika tiba disana, dia sedang melayani orang lain. Saya maunya menunggu tapi ternyata disuruh langsung potong rambut, namun dilayani oleh orang lain. Mungkin temannya.

Awalnya saya sudah khawatir, jangan-jangan tukang potong rambut ini masih belajar. Dan dalam prosesnya, dugaan saya sepertinya benar. Dari caranya memotong rambut saya, dia terlihat sedikit gugup. Syukurlah semua berjalan lancar, proses potong rambut selesai dan saya cukup puas dengan hasilnya.

Dari kejadian itu saya berpikir, kira-kira bagaimana proses seorang tukang potong rambut dalam belajar memotong rambut. Karena tentu tidak ada konsumen yang mau rambutnya dijadikan bahan percobaan. Apalagi jika dia tahu si tukang potong rambut baru belajar, tentu konsumen akan menolak.

Dan kemarin ketika memotong rambut di tempat lain, saya menemukan jawabannya. Saya mendengar langsung percakapan antara seorang tukang potong rambut yang sepertinya sudah mahir dengan temannya yang baru akan belajar memotong rambut. Dan jawabannya adalah… Pengemis..

Ternyata selama seorang tukang potong rambut dalam belajar menggunakan jasa pengemis. Para pengemis ini akan dipotong dan dirapikan rambutnya secara cuma-cuma, bahkan malah si pengemis akan diberikan upah seribu atau dua ribu rupiah.

Mungkin inilah yang disebut simbiosis mutualisme. Si pengemis tentu mau apalagi diberi uang, dan si tukang potong rambut mendapat “bahan” untuk belajar dengan harga murah. Akhirnya pertanyaan saya¬† terjawab, hehe.

Baca Juga:

  • Tidak ada artikel terkait

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

9 thoughts to “Pengemis dan Tukang Potong Rambut”

  1. Di sini juga ada tempat potong rambut yang selalu saya datangi, malas pindah ke tempat lain.

    Kalau ada asisten baru, saya juga tidak masalah dijadikan percobaan, memang bisa sejelek apalagi sih rambut saya? Ha ha…, setidaknya itu yang ada di benak saya.

    Beginilah kalau pernah mengalami kehidupan jadi koas yang belajar dari pasien. Coba bayangkan kalau tidak ada pasien yang mengizinkan dirinya diperiksa oleh dokter muda, mungkin negeri ini akan kehabisan dokter ke depannya.

  2. haha. itu kerjasama yg keren. mencukur rambut pengemis. harusnya dicek lebih lanjut siapa saja pengemis yg dicukur. :D

    besok2 aku pura2 jd pengemis aja deh. biar dapat cukur gratis. :D

  3. kalau di tempat saya namanya asgar bukan maduratna. mungkin karena banyak yang berasal dari garut maka disebut asgar alias asli garut.
    tapi di tempat saya yang sekarang lebih ngetop ujang. tiap barbershop pakai nama ujang. padahal ujang yang saya tahu cuma satu orang dan sekarang sudah gemuk padahal dulu kurus kaya damsik. laku kali ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *