Pekan Yang Melelahkan

Dua pekan terakhir benar-benar melelahkan bagi kami baik secara fisik maupun pikiran. Berawal dari dua minggu yang lalu, di hari Minggu sore Bramasta diimuninasi, kebetulan ini imunisasi yang menyebabkan panas. Selama dua hari Bramasta badannya panas, walau sudah kami tahu sejak awal dan juga minum obat, tetap saja pikiran tidak tenang. Apalagi ibunya, tentu lebih repot khususnya di malam hari karena Bramasta tidak bisa tidur nyenyak.

Panasnya Bramasta pun hilang, hari berikutnya ibunya yang tepar. Mulai pusing dan meriang, dugaan kami mungkin karena kecapean. Tapi istri saya tetap memaksa beraktivitas, sampai akhirnya hari Kamis pagi saat berangkat dari rumah lalu singgah di rumah mertua dan istirahat disana sampai sore. Pusing dan demamnya belum juga hilang.

Hari Jumat saya memutuskan untuk tidak masuk, agar bisa membantu ngempu Bramasta di rumah dan istri saya lebih banyak istirahat. Sabtu sore karena belum membaik juga, akhirnya saya paksa ajak cek lab. Hasil cek darah lengkap, istri saya positif demam berdarah, trombosit sudah 124 dan panas hari ke 4. Saran dokter, banyak istirahat dan minum air, apalagi sedang menyusui. Sementara itu Sabtu siang Bramasta ikutan panas lagi, duh..

Keesokan harinya, Minggu di sore hari istri saya cek lab lagi, saya sudah pasrah kalau harus opname. Hasilnya, trombosit masih turun menjadi 117, tapi masih boleh istirahat di rumah. Kami cukup lega namun bercampur cemas. Saya sangat pesimis kalau besok trombosit akan naik. Hari Senin istri cek lab lagi, syukurlah trombosit malah naik menjadi 130, ini hari ke 6. Saya anggap sebuah keajaiban, saya cukup lega.

Tapi masih ada yang membuat cemas yaitu Bramasta masih panas dan terus diberi penurun panas. Senin sore dia ikut ke dokter tapi kata dokter belum perlu cek lab. Hari Selasa istri saya tetap istirahat di rumah karena belum fit dan masih lemes. Saya kerja dan lembur sampai malam karena harus membuat tugas kuliah. Saya dikabarin bahwa Nindi muntah-muntah dari siang sepulang sekolah. Saya tiba di rumah pukul 10 malam dan Nindi masih muntah-muntah, obat yang diminum tidak mempan. Perutnya kembung dan mual terus menerus. Kami coba suruh istirahat dan beri minum sedikit demi sedikit. Sampai pagi Nindi tidak bisa tidur nyenyak, dia mengeluh mual terus. Beberapa kali saya terbangun mengurut perutnya dan dia muntah terus. Sementara itu istri saya mengurus Bramasta yang juga masih hangat badannya. Benar-benar malam yang menguras energi dan pikiran.

Rabu pagi sekitar pukul 6 kami menyerah, kami putuskan ajak Nindi ke UGD RS Balimed. Sampai di UGD Nindi diperiksa dan diberi obat mual lewat suntikan sekaligus cek darah. Hasil cek darah normal, sekitar 30 menit observasi Nindi mulai membaik. Terlihat dari senyumnya, dia mulai bisa bicara biasa, padahal sebelumnya cuma meringis dan mengeluh mual dan muntah. Setelah kondisinya membaik, kami diijinkan pulang. Hari itu Nindi tidak sekolah, padahal dia sempat menangis sedih ingin sekolah karena katanya itu hari pertama ada pelajaran bahasa Inggris.

Hari Rabu itu Nindi full istirahat, setelah minum obat dan makan bubur, dia tidur. Saya tinggal kerja, katanya Nindi tidur sampai lewat siang. Tak apalah mungkin dia benar-benar lelah. Sementara itu Bramasta masih hangat saja, sorenya sempat kami ajak cek lab tapi setelah disuntik gagal diambil darahnya. Kami minta ditunda dan akhirnya batal cek lab hari itu, karena sebenarnya Bramasta masih sangat aktif dan panasnya sekitar 37-38 saja.

Hari Kamis, Nindi masih tidak sekolah, sementara ibunya mulai masuk kerja walau berangkat agak siang. Kamis sore sepertinya semua mulai pulih. Hari Jumat, akhirnya semua sudah kembali beraktivitas normal, istri saya mulai kembali ke kantor, Nindi mulai sekolah dan Bramasta juga tidak panas lagi. Terima kasih Tuhan akhirnya semua sudah sehat kembali.

Lega sekali rasanya setelah semua kembali sehat. Karena jangankan ketiganya sakit, salah satu diantara mereka saja yang sakit, saya pasti cemas, apalagi ini ketiganya dan hampir bersamaan. Banyak hal yang saya syukuri dari kejadian ini, mulai dari kesembuhan mereka dan tidak sampai opname sampai bagaimana menghargai kesehatan serta belajar sabar menghadapi cobaan. Sekali lagi, Terima Kasih Tuhan..

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *