Operasi Batu Ginjal : URS dan ESWL #2

December 21st, 2011 by imadewira Leave a reply »

Rabu, 7 Desember 2011

Dini hari sekitar pukul 4.00 perut saya sakit lagi, coba saya tahan dengan minum air saja. Dalam hati saya sudah memutuskan bahwa saya harus menjalani operasi secepatnya. Pagi sekitar pukul 7.00 setelah diskusi kecil dengan istri dan keluarga, kami memutuskan untuk menelepon dokter. Istri saya menelepon Dokter GWK dan menyampaikan bahwa saya siap menjalani operasi hari itu juga. Pukul 09.00 kami sudah tiba di RS BaliMed, mendaftar di resepsionis lalu saya masuk UGD untuk melakukan persiapan operasi. Cek kondisi fisik, tekanan darah, suntik antibiotik dan lain-lain.

Saya sempat masuk kamar rawat inap menunggu operasi. Pukul 13.00 akhirnya saya masuk ruang operasi untuk menjalani URS. Selama satu jam tindakan itu dilakukan, saya dibius setengah badan. Suntikan bius dimasukkan di punggung, lalu beberapa menit kemudian dari perut ke bawah sudah tidak terasa apa-apa lagi. Saya tidak melihat langsung operasi URS dilakukan. Alat seperti pipa kecil dengan panjang sekitar 40 cm masuk melalui penis saya. Alat itu dilengkapi kamera dan saya bisa melihat video alat itu masuk ke dalam tubuh saya dan menghancurkan batu di saluran kencing saya. Sekitar 14.00 saya keluar dari ruang operasi.

Saya lalu dibawa ke ruangan lain untuk menjalani ESWL. Tindakan ESWL ini semacam diberi sinyal/gelombang kejut dari luar tubuh saya, dari arah punggung yang menuju batu pada ginjal saya. Saya melihat di alat yang digunakan, sinar ESWL ini dilakukan sampai 3000 kali. Saya bahkan sempat ketiduran selama menjalani ESWL ini. Kurang lebih 2 jam kemudian, pukul 16.00 akhirnya selesai juga. Saya lalu dibawa ke ruang lain lagi untuk di rontgen. Rontgen ini katanya untuk melihat apakah posisi selang di dalam tubuh saya sudah benar. Ya, ternyata ketika operasi URS itu di dalam tubuh saya dipasang selang kecil, dari ginjal menuju saluran kencing. Saya juga baru menyadari bahwa di penis saya terpasang selang cateter untuk menampung urine saya yang merah karena bercampur darah. Semuanya selesai, saya lalu masuk ke kamar untuk rawat inap.

Kamis, 8 Desember 2011

Warna urine pada selang cateter yang terpasang di penis saya mulai jernih. Sekitar pukul 08.00 bahkan sudah benar-benar jernih. Perawat mengatakan itu tandanya bahwa saya kemungkinan sudah boleh pulang. Saya sempat di visite oleh Dokter spesialis penyakit dalam. Perawat lalu menghubungi Dokter GWK dan menyampaikan kondisi saya. Sayang, Dokter GWK hari itu baru visite malam hari. Melalui perawat Dokter GWK menyampaikan bahwa saya sudah boleh pulang atau kalau mau juga boleh menunggu dokter visite dulu malam harinya. Mempertimbangkan biaya rawat inap lagi, kami memutuskan untuk pulang. Saya lalu dijadwalkan untuk kontrol ke Dokter GWK hari Kamis seminggu lagi. Saya lalu pulang, total biaya yang saya bayar hari itu adalah sekitar 17,5 juta.

Nah, ketika tiba dirumah inilah saya ceroboh. Saya mengabaikan kata istri serta ibu saya agar saya istirahat dulu. Saya memang tidak merasakan keluhan apa-apa lagi sehingga saya pun langsung beraktivitas seperti biasa, menyapu, menyiram tanaman, menggendong anak, dll. Saya bahkan sempat mau langsung mengajar di Stikom Bali, untungnya saya batalkan.

Jumat, 9 Desember 2011

Mulai pagi, kencing saya keluar berwarna merah. Kencing-kencing selanjutnya semakin parah, bercampur gumpalan-gumpalan darah. Saya sempat mengira ini mungkin wajar karena sehabis operasi, apalagi saya tidak merasakan sakit apa-apa, hanya agak ngeri melihat kencing bercampur darah. Sore harinya, istri saya mencoba menelepon Dokter GWK dan menyampaikan kondisi saya. Dokter langsung mengatakan bahwa saya harus kontrol malam itu juga. Saya pun mulai khawatir, itu artinya kondisi saya itu tidak wajar.

Malamnya saya langsung kontrol ke Dokter GWK yang malam itu praktek di RS Surya Husada, walaupun mendapat giliran paling terakhir. Setelah bertemu Dokter GWK, katanya darah itu kemungkinan disebabkan oleh selang di dalam tubuh saya atau karena saya banyak aktivitas pacsa operasi. Saya lalu di USG lagi dan hasilnya beruntung tidak ada gumpalan darah sehingga selang tidak perlu diangkat malam itu. Seharusnya selang itu baru diangkat setelah bengkak pada ginjal saya kempes. Hasil USG juga menunjukkan bahwa batu di saluran kencing saya sudah hilang, namun masih ada batu kecil di ginjal saya. Ginjal saya juga masih bengkak. Dokter lalu memberikan obat untuk menghentikan pendarahan dan menyarankan agar saya istirahat total dulu selama beberapa hari. Jika tidak ada keluhan apa-apa lagi, hari Selasa 4 hari lagi selang saya akan diangkat.

Sabtu, 10 Desember 2011

Kencing pertama pagi hari masih ada sedikit darah, namun selanjutnya tidak ada darah lagi. Saya mulai tenang, tapi saya benar-benar istirahat dirumah. Saya lebih banyak tiduran saja, keluar kamar untuk makan, kencing dan mandi. Selama 4 hari hanya itu saja aktivitas saya dirumah. Saya bahkan tidak berani menggendong anak saya.

**bersambung…

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

Leave a Reply

CommentLuv badge