Ogoh-Ogoh dan Nyepi

February 21st, 2011 by imadewira Leave a reply »

Hari Raya Nyepi untuk memperingati Tahun Baru Caka 1933 jatuh pada tanggal 5 Maret 2011, artinya saat ini sudah kurang dari 2 minggu lagi. Salah satu ciri unik perayaan hari raya Nyepi adalah adanya ogoh-ogoh. Entah sejak kapan tradisi mengarak ogoh-ogoh ini ada di Bali, tetapi yang jelas Nyepi rasanya kurang lengkap tanpa ogoh-ogoh.

Buat anda yang belum tahu, ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang diarak sehari menjelang Nyepi. Ukurannya berbagai macam namun biasanya cukup besar hingga membutuhkan belasan orang untuk mengangkatnya untuk diarak keliling desa. Bentuk ogoh-ogoh umumnya seram yang identik dengan “bhuta kala” namun seiring berkembangnya jaman banyak juga ogoh-ogoh berbentuk lucu, seperti sinchan, upin-ipin dan lainnya. Jika anda ingin tahu lebih banyak foto ogoh-ogoh, coba saja search di Google.

Ogoh-ogoh biasanya dibuat dengan bahan dasar kayu, bambu, kertas lalu di cat sedemikian rupa. Belakangan ini ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dengan bahan dasar gabus. Pembuatan ogoh-ogoh umumnya didominasi oleh para pemuda, namun ada juga anak-anak dan orang tua.

Para pemuda di setiap banjar (organisasi setingkat di bawah desa/kelurahan) hampir pasti mulai membuat ogoh-ogoh sekitar sebulan menjelang hari raya Nyepi. Organisasi pemuda di banjar biasanya disebut STT (Sekeha Teruna Teruni). Mereka biasanya menggunakan dana kas STT untuk membuat ogoh-ogoh, ditambah dengan dana sumbangan yang mereka pungut ke warga banjar dan perusahaan-perusahaan di lingkungan banjar masing-masing.

Terkadang, pemungutan sumbangan ini menjadi pemicu masalah. Biasanya ada saja oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari pemungutan sumbangan ini, belum lagi ada yang merasa dipaksa untuk menyumbang dana ogoh-ogoh. Tapi itu masalah seperti itu tidak selalu ada kok, organisasi pemuda dan banjar biasanya sudah mengantisipasi masalah itu.

Asal tahu saja, dana pembuatan ogoh-ogoh tidaklah sedikit, umumnya sekitar 5 hingga 10 juta, bahkan ada yang lebih. Itu baru untuk pembuatan ogoh-ogoh, belum untuk konsumsi, pembuatan baju dan biaya lain ketika pengarakan ogoh-ogoh. Maka di jaman sekarang banyak ogoh-ogoh yang tidak langsung dibakar setelah selesai di arak. Kalau jaman dulu, selesai diarak, ogoh-ogoh langsung dibakar.

Pengarakan ogoh-ogoh umumnya dilakukan sehari sebelum Nyepi atau biasa disebut dengan hari Pengerupukan. Mulai sekitar pukul 18.00 ogoh-ogoh sudah mulai diarak keliling desa atau kelurahan hingga kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00, di beberapa tempat bahkan hingga larut malam.

Belakangan juga semakin marak dibuat lomba untuk ogoh-ogoh. Jadi ogoh-ogoh yang dilombakan selain diiringi gamelan balaganjur juga disertai dengan para penari dan dipentaskan dengan cerita dalang sedemikian rupa dan menjadi sangat menarik untuk ditonton. Di beberapa tempat karena banyak jumlah ogoh-ogoh, maka pengarakan ogoh-ogoh kadang sudah dimulai sejak siang. Ada juga lomba ogoh-ogoh yang digelar beberapa hari sebelum Pengerupukan, jadi di malam Pengerupukan hanya digunakan untuk mengarak ogoh-ogoh.

Nyepi memang tidak bisa dipisahkan dari ogoh-ogoh. Pembuatan ogoh-ogoh merupakan ajang untuk mencurahkan rasa seni dan segala unek-unek para pembuatnya yang biasanya masih berjiwa muda. Maka tak jarang bentuk ogoh-ogoh mencerminkan “aspirasi” mereka. Namun kadang pernah juga pembuatan ogoh-ogoh dilarang ketika menjelang Nyepi.

Biasanya itu disebabkan karena menjelang momen pesta politik. Karena pembuatan ogoh-ogoh seringkali ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu yang ujung-ujungnya terjadi gesekan dan bentrokan ketika malam Pengerupukan. Dari sisi para pemuka agama Hindu, pengarakan ogoh-ogoh juga pernah mendapat kritikan.

Karenasecara logika, ogoh-ogoh merupakan wujud “bhuta kala” / kekuatan jahat. Kekuatan jahat ini konon akan somya (berubah) menjadi baik setelah dilakukan upacara mecaru (sore hari). Jadi pada saat itu semua bhuta kala (termasuk dalam diri) sudah sirna. Nah, pengarakan ogoh-ogoh di malam hari ini dianggap malah kembali membangunkan bhuta kala tersebut.

Entahlah, kenyataannya pengarakan ogoh-ogoh tetap dilakukan di Pengerupukan yaitu malam menjelang Nyepi. Dan dapat dipastikan mulai sore hingga malam tersebut kondisi lalu lintas akan lumpuh total, apalagi di pusat-pusat kota. Besok paginya, di hari raya Nyepi suasana akan sangat hening selama sehari semalam. Namun bagi anda yang belum puas melihat ogoh-ogoh, coba saja berkeliling lagi di hari Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Karena seperti yang saya jelaskan diatas, ogoh-ogoh yang menghabiskan banyak biaya tersebut tidak langsung dibakar. Bahkan biasanya ada tulisan “for sale” di depan ogoh-ogoh itu.

Fiuh, rasanya sudah cukup banyak yang saya ceritakan tentang ogoh-ogoh menjelang Nyepi. Semoga saja Pengerupukan kali ini berjalan lancar dan tidak ada insiden yang akan menodai perayaan hari raya Nyepi kali ini. Berikut ini beberapa foto ogoh-ogoh di banjar saya.

Ogoh-Ogoh Nyepi Caka 1920 (tahun 1998)

Ogoh-Ogoh Nyepi Caka 1927 (tahun 2005)

Ogoh-Ogoh Nyepi Caka 1929 (tahun 2007)

Ogoh-Ogoh Nyepi Caka 1932 (tahun 2010)

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

20 comments

  1. Cahya says:

    Bagaimana pun itu sudah jadi bagian kemeriahan warga. Asal efek negatifnya ndak ikutan muncul saja, biasanya ada saja yang punyah pas mengarak ogoh-ogoh.
    Cahya´s last blog post ..Do I like Horror

  2. .gungws says:

    sebenernya seru sih ogoh2 itu..tapi ya gtu,bli..
    sumbangan yg memaksa…kecenderungan minum sebelum nguyeng ogoh-ogoh, kmren saya ktemu…mau lomba ogoh-ogoh, tapi ogoh-ogohnya beli, bukan karya sndiri…
    walah… +_+
    .gungws´s last blog post ..pohon lateng

  3. Bung Iwan says:

    saya tiga kali mengalami nyepi di Bali. yang terakhir kabur krn saya denger bahkan TV pun ngga boleh siaran ya?
    basically Nyepi itu bagusnya adalah: pencemaran udara jadi turun. tapi buat yang tak tahan kesepian dan tak bisa keluar dari Bali, siapkan DVD sebanyak2nya. dan mi instan. :))
    Bung Iwan´s last blog post ..Uhuy- Si Penyebut Dirinya sebagai Kata Ganti Orang Ketiga

    • imadewira says:

      @Bung Iwan,
      Ya, Nyepi kemarin memang TV pun tidak boleh siaran. Di luar kaitan dengan agama, pelaksanaan Nyepi memang memiliki dampak yang sangat baik untuk lingkungan.

  4. zee says:

    Waduh harga pembuatan ogoh-ogoh itu mahal, tapi selesai itu langsung dibakar ya. Sayang sekali.

  5. DV says:

    ah, ogoh-ogoh..
    tau nggak bli, waktu mata kuliah Kewiraan dulu aku bikin karya tulis tentang Ngaben, kebetulan waktu itu lagi ngedeketin cewek bali hehehe :)

    Jadi kangen Bali!
    DV´s last blog post ..Film asing dan hak hiburan bagi kita

  6. abdee says:

    bisa ngebayangin ramai & meriahnya suasana disana .. jadi pingin ke Bali lagi, hehe. salam kenal mas

  7. mbah jiwo says:

    kalau sampai 10 juta berarti mahal banget ya mas…kangen pingin ke Bali he he
    mbah jiwo´s last blog post ..Sepatu Untuk Mbah Putri

  8. niee says:

    wah, ogoh2nya keren2 >.<
    klo di Pontianak jarang ada arak2an,,
    palingan pas cap go meh ajah banyak arak2an naga, tatung sama barongsai..
    naga juga harus dibakar sehari setelah cap go meh untuk buang sial bagi masyarakat cina :D

  9. adin says:

    waduh, udah 11 tahun saya gak liat ogoh-ogoh lagi, padahal dulu waktu kecil paling favorit yang namanya nyepi, malemnya nonton ogoh-ogoh, paginya bisa main di jalan, hehehe

  10. PanDe Baik says:

    Tumben tulisannya panjang :p
    PanDe Baik´s last blog post ..At Last… Samsung Galaxy ACE

  11. eKO says:

    Saya dari Jakarta, kalau perusahaan kami ingin membuat ogoh-2 apa ada yang bisa bantu, dan bisa infokan saya contact personnya (beserta nomor teleponnya/ HP).

    terimakasih.

Leave a Reply

CommentLuv badge