Musim Hujan dan Rumah Model Bali

November 15th, 2011 by I Gusti Agung Made Wirautama Leave a reply »

gambar : http://www.baliaround.com/balinese-house-architecture/

Musim hujan sudah datang, khususnya di Bali. Bahkan beberapa hari terakhir sudah terjadi sekian kali hujan deras yang menyebabkan banjir di beberapa tempat di daerah Denpasar dan sekitarnya. Tapi tunggu dulu, saya tidak sedang membicarakan masalah banjir. Masih tentang hujan, tapi kaitannya dengan rumah model atau ciri khas Bali.

Orang yang sudah pernah datang ke Bali mungkin tidak semua tahu bagaimana model rumah Bali yang sebenarnya. Untuk tahu, mungkin anda perlu masuk ke rumah penduduk asli yang rumahnya masih menggunakan konsep Bali. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi saya akan coba.

Tidak seperti rumah modern yang umumnya satu atap, rumah model Bali terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sebuah rumah biasanya terdiri dari beberapa bangunan yaitu : Tempat Suci (sanggah / merajan), Bangunan Tempat Tinggal (bale daja, bale delod, dll), Dapur, Kamar Mandi.

Sepertinya hal rumah saya, terdiri dari “bale daja” yaitu bangunan tempat tidur yang terletak di bagian utara, “bale delod” yaitu bangunan tempat tidur di bagian selatan. Ada juga “bale dangin” yaitu tempat tidur yang letaknnya di bagian timur. Tentu ada tempat suci (sanggah/merajan) yang letaknya di timur laut. Dapur letaknya di barat daya. Kamar mandi tempatnya biasanya di bagian barat.

Kalau tata letak dan bangunan yang lengkap masih banyak lagi, tapi karena keterbatasan tempat dan biaya, jarang masyarakat biasa seperti saya bisa membuat bangunan model Bali yang lengkap. Yang lengkap biasanya dimiliki oleh orang kaya atau rumah-rumah keturunan raja-raja jaman dulu. Dan sebenarnya setiap bangunan serta tata letaknya memiliki makna serta aturan khusus.

Nah, karena model rumah Bali ini terpisah-pisah seperti itu, maka ada beberapa kendala yang dialami ketika musim hujan. Aktivitas di rumah bisa dikatakan sedikit terganggu. Mohon maaf, bukan maksud saya mengatakan rumah model Bali ini jelek, karena para leluhur dulu pasti memiliki pertimbangan tertentu dalam membangun rumah.

Tapi kenyataannya saat hujan turun, otomatis daerah kering dirumah hanya ada didalam ruangan seperti kamar dan dapur. Untuk beraktivitas apalagi berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain menjadi kurang nyaman karena hujan dan basah. Mungkin berbeda halnya kalau rumah model satu atap sehingga kalau hujan tidak menjadi masalah.

Bangunan “bale daja” dan “bale delod” biasanya memiliki teras sendiri-sendiri, tapi kalau hujan deras apalagi disertai angin tetap saja teras tersebut basah karena percikan hujan. Makanya kemudian banyak yang menggabungkan model rumah Bali dengan rumah modern.

Misalnya membuat “bale daja” atau “bale delod” yang dilengkapi dengan ruang tamu / ruang keluarga dan beberapa kamar, sehingga saat hujan tidak menjadi masalah. Tentu saja ini akan membutuhkan lebih banyak lahan. Belakangan ini bahkan “kamar mandi dalam” sudah menjadi hal biasa dalam pembuatan rumah model Bali. Padahal dulunya kamar mandi tempatnya agak jauh dari kamar.

Begitulah, banyak hal yang perlu dipikirkan dalam urusan membangun rumah. Tapi di luar semua itu, upaya melestarikan ciri khas Bali perlu dihargai. Syukur-syukur kalau masyarakat Bali masih memiliki pemikiran bahwa memiliki rumah model Bali merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Sehingga “ajeg Bali” bukan hanya sekedar jargon pemanis lidah.

Tapi kalau hanya punya lahan 1 are seperti perumahan di perkotaan, ya tidak perlu memaksakan diri membuat rumah dengan model dan tata letak model Bali, hehe. Mungkin tetap dengan ciri khas seperti sedikit ukiran saja sudah cukup.

Bonus, foto Nindi di depan teras “bale daja” rumah saya.

Nindi di depan teras "bale daja"

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

6 comments

  1. andinoeg says:

    rumah tradisional terlihat asri

  2. Agus Lenyot says:

    Salah satu yang paling saya suka dari rumah Bali adalah fondasinya tinggi. Di luar Bali, lumrah fondasinya cuma seuprit!
    Agus Lenyot´s last blog post ..Kejutan itu Muncul di Waktu yang Tak terduga

  3. DV says:

    Bli, sekitar lima tahun silam aku beserta Joyce (Waktu itu masih pacar belum istri hehehe) berkunjung ke salah satu teman kami yang asli Bali… Kami sungguh menikmati suasana rumahnya yang unik dan terpisah-pisah bangunannya…

    Jadi, aku senang sekali karena kamu nulis tentang rumah bali di sini,… setidaknya aku jadi tau… :)
    DV´s last blog post ..Menjadi tampak pintar tak berarti benar-benar pintar

  4. zee says:

    Waktu aku ke Bali aku juga lihat model rumahnya misah2…
    Di dekat rumahku ini ada orang Bali. Rumahnya mewah tapi tetap dia bangun rumah khas Bali… :)
    zee´s last blog post ..Weekly Photo Challenge: Breakfast

  5. Nuno says:

    Lestarikan Bangunan Arsitektur Tradisional..
    Aku sudah hampir 10 tahun wisata ke Bali, Bali memang sangat Indah

  6. giewahyudi says:

    Tradisional tapi sangat solutif..
    Andai bisa diadaptasi di Jakarta.. *ngimpi
    giewahyudi´s last blog post ..Prestasi-prestasi Pelajar Indonesia di Kancah Internasional Tahun 2011

Leave a Reply

CommentLuv badge