Mencoba Bijak Berjejaring Sosial

statusmu harimaumu

Dunia internet atau lebih dikenal dengan dunia maya saat ini khususnya di Indonesia sudah semakin memasyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran situs jejaring sosial. Kita harus akui situs jejaring sosial telah mengenalkan masyarakat sesuatu yang baru, sesuatu yang begitu menggoda di dunia internet.

Kalau beberapa tahun yang lalu pengguna atau pengakses internet hanya kalangan tertentu seperti mahasiswa dan mereka yang bergelut di bidang IT, kini bahkan mereka yang tidak pernah menyentuh komputer pun bisa menjadi pengguna internet. Semua itu berkat kehadiran situs jejaring sosial. Memang ada faktor lain sepertinya semakin mudahnya internet diakses melalui perangkat mobile seperti handphone. Ditambah lagi situs jejaring sosial yang menyediakan versi mobile bahkan bisa diakses melalui SMS.

Nah, kalau membicarakan situs jejaring sosial maka yang paling mudah terbayang di otak mungkin adalah Facebook, mungkin juga Twitter. Sebenarnya masih ada banyak situs jejaring sosial lain termasuk yang terakhir cukup heboh dibicarakan adalah Google+. Tapi untuk saat ini rupanya Facebook masih menjadi yang paling dikenal. Bahkan sampai ada yang mengidentikkan internet dengan Facebook. Sama seperti ketika orang menyamakan internet dengan website.

Namun di balik semua kehebatan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, tentu memiliki kekurangan. Khususnya saat kita sebagai pengguna tidak mampu menggunakannya secara bijak. Ibarat pisau bermata dua, Twitter dan Facebook juga bisa melukai penggunanya sendiri. Tidak perlulah disebutkan satu persatu masalah yang pernah muncul gara-gara sesuatu yang berawal dari jejaring sosial.

Itu baru masalah yang muncul dan diketahui orang banyak karena tersebar melalui media massa seperti televisi atau portal berita di internet. Sebenarnya masih banyak masalah yang lain, karena berawal dari situs jejaring sosial pula.

Hebatnya situs jejaring sosial adalah mampu membuat penggunanya menuliskan/menyampaikan apa yang sedang mereka pikirkan, bahkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahui oleh semua orang. Saya benci dengan si A, saya benci ibu saya, saya benci atasan saya. Si A teman saya sedang ada main dengan si B, kampret emang orang itu berani-beraninya menghina saya, dan seterusnya dan seterusnya..

Kita (saya menggunakan kata ‘kita’ yang artinya saya ikut didalamnya) kadang lupa bahwa tidak semua isi pikiran bisa kita tuangkan kepada sebuah “dinding“. Tidak semua perasaan apalagi yang isinya sumpah serapah bisa kita coretkan pada dinding orang lain. Entahlah, memang rasanya nyaman saat semua uneg-uneg kita keluarkan dari otak, tapi apakah menuliskan di dinding rumah adalah sebuah pilihan bijak?

Saya membayangkan, itu seharusnya sama seperti misalnya saat kita sedang bertengkar dirumah dengan orang tua atau saudara lalu kita berteriak sehingga terdengar oleh orang satu kampung. Apakah itu menyenangkan?

Memang butuh sebuah kebijaksanaan dan kontrol dari kita sendiri tentang mana dan apa saja yang sebaiknya kita share di dunia maya dan mana yang sebaiknya hanya diketahui oleh kita dan orang-orang tertentu di dunia nyata. Butuh waktu juga untuk menyadari bahwa apa yang telah kita coretkan di masa lalu adalah sebuah cara yang kurang bijak. Saya tidak menggurui, dan saya juga bisa menulis seperti ini karena pernah melakukannya di masa lalu.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

17 thoughts to “Mencoba Bijak Berjejaring Sosial”

  1. Mengirim kata-kata di dinding facebook atau twitter kadang untuk menyampaikan pesan kepada seseorang tanpa perlu mengutarakannya secara langsung. Semacam #kode gitu bli. Saya sering kok melakukannya. Terutama di twitter :)

  2. Saya sering kena ‘problem’ di Facebook karena banyak saudara dan karib yang terhubung.. mereka kerap protes kalau misalnya aku ngomong terlalu lancang, terlalu lugas dan kadang menjurus ke kasar…

    Makanya di Facebook sekarang saya sangat tak aktif… paling cuma update tulisan #autopost dari Twitter.. :)

    Sementara Twitter sebaliknya… Aku tak pernah serius di Twitter.. makanya aku suka ngomong ngasal, Bli hehehe…

    Bagiku, blog tetap yang terutama :)

  3. Sayangnya, tidak semua orang punya kontrol terhadap apa yang mereka tuangkan di dunia maya. Juga tidak punya kontrol untuk apa yang mereka akses.

    Pokoknya ya berhati-hati saja :).

  4. Berhati-hati dengan ucapan di social media memang sudah seharusnya. Selama tidak berlebihan dan menyinggung secara khusus seseorang. seharusnya tak masalah ya.

  5. Kadang pas mau menulis sesuatu di akun FB ataupun Twitter, saya pribadi suka mikir dulu, gimana seandainya ini dibaca oleh orang yang tidak paham lantas membalasnya dengan kalimat negatif ? atau barangkali gimana ya efeknya kalo semisal ada orang yang tersindir ?

    dan soal pelarian sih bener banget, sialnya banyak anak alay yang suka nongkrong dengan status seperti yang dikatakan diatas itu. Kalo sudah begitu ya, satu”nya jalan ya ngeBlokir ybs atau di Unfriend. :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *