Melukat di Sebatu Gianyar

April 15th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Sudah sejak cukup lama Ibu saya minta agar diantarkan untuk melukat di “Genah Melukat” di Sebatu, Kabupaten Gianyar. Oh ya, untuk yang belum tahu apa itu “melukat”, Melukat adalah ritual dalam agama Hindu, khususnya di Bali. Kegiatan melukat pada intinya adalah pembersihan diri khususnya secara rohani. Tujuan melukat pada umumnya adalah untuk membersihkan jiwa dan pikiran agar kembali suci, tenang dan tenteram. Ya kurang lebih begitulah.

Dan hari Minggu kemarin akhirnya tercapai juga keinginan orang tua saya untuk Melukat di Sebatu. Genah (tempat) Melukat ini terletak di desa Sebatu, kecamatan Tegallalang, kabupaten Gianyar. Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari rumah saya di Kerobokan. Jika anda tahu Pura Tirta Empul, Tampak Siring yang berada di sebelah Istana Presiden Tampak Siring, letak desa Sebatu hanya beberapa menit dari sana. Oh ya, di pura Tirta Empul itu juga ada tempat melukat yang sangat terkenal. Saya dan keluarga juga sudah cukup sering melukat di Tirta Empul, Tampak Siring.

Kami berangkat lebih pagi ke Sebatu karena sebelumnya kami semua belum pernah kesana, dan juga karena hari Minggu kemungkinan tempat Melukat ini akan lebih ramai. Istri saya yang rencananya ikut terpaksa batal karena datang bulan. Ya, tempat suci di Bali memang tidak diperkenankan untuk wanita yang sedang haid.

Walaupun belum pernah kesana, dengan ancer-ancer desa Sebatu, saya tidak kesulitan mencari Genah Melukat di Sebatu ini. Dari Ubud saya terus ke Utara menuju Tegallalang dan tiba di desa Sebatu. Sempat bertanya ke penduduk setempat untuk memastikan, saya kemudian melihat dan mengikuti papan petunjuk “Genah Melukat”.

Tiba disana, kami disambut oleh petugas parkir dengan pakaian adat khas Bali. Belum terlalu ramai rupanya, hanya sekitar 3 mobil dan beberapa sepeda motor yang saya lihat. Kata orang-orang disana, saya tiba pukul 08.30 memang termasuk cukup pagi. Katanya akan ramai sekitar pukul 10 sampai siang. Tempat parkirnya tidak terlalu luas, tidak seluas di Pura Tirta Empul.

Kami berjalan sekitar 50 meter, lalu menuruni tangga yang sangat curam. Untungnya sudah dilengkapi dengan pengaman dari pipa besi, sehingga cukup aman dan bantuan tangan berpegangan. Walaupun begitu, kami tetap waspada dan hati menuruni anak tangga yang cukup jauh. Sekitar 10 menit, kami tiba juga di tempat Melukat. Sudah ada beberapa rombongan disana.

Di tempat melukat ini, sudah ada petunjuk urutan kegiatan yang akan kita lalukan. Pertama adalah melakukan persembahyangan di tempat suci yang terletak sebelum tempat melukat. Tujuannya adalah memohon ijin dan anugerah dari Tuhan yang berstana disana. Mereka yang melukat biasanya membawa “kwangen” (bunga) yang berisi “pis bolong” (uang kepeng) sebanyak 11.

Setelah itu, kami menuju tempat melukat dengan membawa “kwangen”. Air suci di tempat melukat Sebatu ini sangat deras, seperti air terjun. Sumber air melukat terdiri dari 3 bagian, kami pun membasahi kepala dan tubuh di bawah sumber air Melukat ini. Berdoa memohon agar diberikan kejernihan pikiran dan ketenangan. Oya, “kwangen” yang berisi uang kepeng tadi di lepaskan ketika Melukat sehingga jangan heran ada begitu banyak uang kepeng di dasar air. Selesai Melukat, masih dalam keadaan basah, kami bersembahyang sekali lagi tepat di depan tempat Melukat. Menghaturkan puji syukur dan terima kasih kepada-Nya.

Selanjutnya, berganti pakaian di tempat yang telah disediakan. Jangan khawatir, tempatnya cukup memadai dan bersih. Juga tersedia loker untuk menitipkan dompet dan barang berharga. Berapa membayar? Seikhlasnya. Nah, untuk kembali ke atas ke tempat parkir, butuh tenaga ekstra untuk menaiki puluhan anak tangga yang terjal. Saya dan khususnya Ibu saya berkali-kali berhenti untuk menarik nafas. Kami pun sampai di atas dan pulang dalam keadaan selamat.

Apa yang didapat setelah Melukat? Yah namanya kepercayaan, tergantung dari apa tujuan dan apa yang kita percayai. Bagi saya sendiri, ada tujuan lain dan khusus dalam kegiatan-kegiatan seperti ini. Yaitu momen untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat khususnya saya dengan kedua orang tua saya. Maklum kami sama-sama sibuk, walaupun satu rumah, agak jarang ada momen untuk bercerita dan ngobrol panjang lebar. Dan saya menganggap Melukat kegiatan seperti ini sekaligus untuk refreshing dan jalan-jalan. Ya semacam Spiritual Travelling.

Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil di tempat Melukat Sebatu, Gianyar.

Menuruni puluhan anak tangga yang terjal

 

Harus hati-hati, khususnya untuk ibu-ibu

 

Sebelum melukat, sembahyang dulu di tempat suci ini

 

Airnya deras, bisa dikatakan air terjun mini

 

Airnya super jernih, tampak uang kepeng memenuhi dasar air

 

Tempat sembahyang setelah Melukat

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

20 comments

  1. zee says:

    Air terjun mininya deras sekali ya Bli.
    Padahal kalo yg deras itu biasanya air terjun yang tinggiiiiii banget.
    Ah, what a nice place…
    zee´s last blog post ..Mirip Siapa

  2. applausr says:

    kira kira kalau bukan orang bali bisa ikut tidak ya… kayaknya sekali sekali perlu ikut acara seperti ini.. seneng kayaknya..
    applausr´s last blog post ..Belajar Ikhlas dari Seorang Pengemis

    • imadewira says:

      Tentu saja boleh, asalkan memakai kain dan selendang yang biasa digunakan untuk masuk tempat suci di Bali. Disana juga banyak bule yang ikut Melukat, seperti di Tirta Empul juga.

  3. adiarta says:

    Sekitar 3 tahun yg lalu saya pernah melukat ke sana. Cuma berdua dgn seorang teman, pas menjelang malam, membuat suasana agak mencekam. Ada satu kepercayaan juga, bahwa kalau yg melukat memiliki penyakit niskala (non medis), airnya akan berubah warna…
    adiarta´s last blog post ..Indra Keenam yang Perlu Dipercaya

  4. devieriana says:

    Saya waktu dinas ke Istana Tampaksiring juga sempet liat Tirta Empul dari atas. Cuma bisa ngeliat doang sih, soalnya harus jalan lagi siangnya.

    Btw, serius ya kalau abis melukat gitu kalau ada yang negatif dalam diri kita airnya akan berubah warna, Bli?

  5. a! says:

    airnya adem banget sepertinya. kapan2 deh ke sana. jadi ingat dari dulu mau ke tirta empul tapi belum juga ke sana. :(
    a!´s last blog post ..Sebab, Perempuan Bukanlah Pelayan

    • imadewira says:

      Waktu saya kesana ini, airnya duingin pak.. Abis melukat, tubuh kita sampai keluar asap karena terkena sinar matahari. Kayak es yang dijemur gitu deh, hehe

  6. DV says:

    Selalu menyenangkan kalau bercerita soal Bali, Bli :)

  7. yadi says:

    kapan saya ke bali ya?

  8. putri astiti says:

    Aku kangen bali. sangat.

  9. wendhisasono says:

    air terjunya……bikin ngerasa di surga…,pengen get loss kesana…..bali wait 4 me
    wendhisasono´s last blog post ..launching Honda CRV SE (special edition)

  10. yudhita says:

    sya bkn orng bali (non hindu) pernah ikut melukat juga,,, brsama kluarga yg hindu, krna kluarga tsb prnah mngucap janji atas saya utk melukat… dingiiin bgt airnya… wktu sembahyang hanya mengikuti gerakan tanpa doa(bacaan mantranya).. bolehkah itu Bli???

  11. yan jana says:

    bli made……, boleh mengajak anak kecil gak melukat kesana ? thanks bli.

    • imadewira says:

      @yan jana : saya tidak tahu pasti, tapi konon anak yang masih dibawah umur / belum meketus (belum pernah tanggal giginya) tidak boleh diajak melukat disana karena biasanya si kecil akan menangis terus, itu konon lho ya.

  12. widhi says:

    jadi pengen kesana…sebelah mana pura gunug kawi Bli…?

Leave a Reply

CommentLuv badge