Melasti di Pantai Petitenget

March 2nd, 2011 by imadewira Leave a reply »

Melasti atau ada juga yang menyebut Melis atau Mekiis merupakan rangkaian awal hari raya Nyepi. Dalam upacara ini seluruh pratima/pralingga dari pura masing-masing dibawa dengan menggunakan sebuah tempat khusus yang disebut “juli” atau “jempana” menuju pantai, sungai, danau atau sumber air lainnya yang dianggap suci. Seperti yang sempat saya jelaskan sebelumnya, jadi saya tidak akan jelaskan secara detail lagi.

Meskipun tidak sama di seluruh Bali, namun upacara Melasti biasanya dilaksanakan sekitar 2 atau 3 hari sebelum Nyepi. Misalnya untuk di Bali Selatan, upacara Melasti untuk Nyepi Caka 1933 dilaksanakan kemarin tanggal 2 Maret 2011. Karena di Bali umat Hindu merupakan mayoritas maka ketika upacara Melasti ini jalan-jalan utama dipastikan penuh sesak oleh umat yang Melasti.

Apalagi seperti di daerah saya yang mayoritas umat Hindu masih berjalan kaki menuju pantai. Saya sendiri berjalan sekitar 12 km ketika Melasti kemarin, dari perempatan Kerobokan hingga pantai Petitenget, ya lumayan membuat kaki terasa pegal-pegal. Untunglah saya ikut dalam “sekaa balaganjur” sehingga berjalan kaki sambil “megambel” membuat rasa lelah sedikit terlupakan.

Upacara Melasti yang saya ikuti kemarin berjalan lancar. Pukul 08.00 saya sudah siap dan berangkat dari rumah menuju Merajan (pura). Sekitar pukul 09.00 rombongan berangkat, berjalan perlahan dan sesekali harus berhenti karena padatnya umat yang Melasti menuju pantai Petitenget. Tiga jam kemudian yaitu pukul 12.00 rombongan kami tiba di pantai Petitenget.

Setelah mengikuti prosesi upacara di pinggir pantai yang cukup panas, saya dan kerabat langsung menuju tempat istirahat di wantilan, kami menikmati makan siang yang kami beli disana. Baru kali ini saya membeli makan siang, ketika Melasti tahun-tahun sebelumnya Ibu saya selalu membawa perbekalan makanan dari rumah yang rasanya tentu jauh lebih nikmat. Tapi kali ini Ibu dan Ayah saya bertugas menemani putri saya yang baru berumur setahun di rumah, jadi beliau tidak bisa ikut Melasti.

Pukul 14.00 rombongan mulai beranjak, kembali menuju pura masing-masing. Kali ini kami berjalan lebih cepat, sehingga dalam waktu 2 jam saja sudah tiba di Merajan (pura). Perjalanan pulang inilah yang melelahkan, disamping karena tenaga yang memang sudah mulai terkuras, berjalan cepat-cepat bahkan setengah berlari membuat kaki terasa sangat pegal. Akhirnya tiba juga di Merajan, kami merasa lelah tapi sangat puas karena bisa ikut Melasti dengan baik. Minuman manis dan makanan sudah tersedia dan langsung dinikmati.

Yang membuat saya kagum adalah selama di perjalanan, masyarakat yang tidak ikut Melasti (mungkin bukan umat Hindu) sangat antusia menyaksikan rombongan Melasti. Bahkan banyak tersedia minuman gratis di pinggir-pinggir jalan. Dalam perjalanan pulang bahkan ada beberapa orang (saya yakin bukan umat Hindu) yang membawakan buah semangka yang siap dimakan untuk pelepas dahaga. Sungguh sebuah perbuatan yang patut dihargai dan dibanggakan.

Saya berdoa, semoga saja umat lainnya di Bali tidak merasa terganggu dan bisa memaklumi upacara Melasti ini. Karena jalanan sangat macet bahkan bisa dikatakan lumpuh total karena rombongan Melasti. Semoga tidak ada insiden dari rombongan Melasti yang mungkin terlihat arogan. Bagaimana pun juga, mereka yang tidak Melasti (baik Hindu atau bukan) dan kebetulan berpapasan dengan rombongan Melasti tetap harus dihormati. Mereka juga berhak menggunakan jalan raya, jadi mari saling menghormati dan menghargai.

Dan sebagai penutup, berikut saya tampilkan beberapa foto narsis saya ketika Melasti :-)

Sebelum berangkat Melasti, itu putri saya, Anindita

Sambil megambel Balaganjur, perjalanan jadi lebih semangat

Yang megambel muda-muda, penuh semangat

Tiba di pantai, bersama istri tercinta dan satu-satunya :D

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

8 comments

  1. DV says:

    Wah, foto2nya bikin kangen Bali, Bli!
    Selamat menjalani ritual Nyepi ya! Semoga Bali tetap hindu dan asri!
    DV´s last blog post ..Menikmati Tram Festival

  2. zee says:

    Waaah.
    Betapa menyenangkan dan tenteram ya kalau kita semua umat bisa hidup berdampingan dengan damai.

  3. Cahya says:

    Saya kadang kasihan sama anak-anak yang siang-siang juga ikut berjemur di pantai.

  4. PanDe Baik says:

    Pipi Bapaknya jadi mangkin Chubby :p
    PanDe Baik´s last blog post ..Mengenal Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

  5. PanDe Baik says:

    MiRah kemarin pas Melasti juga ikutan, tapi mengendarai mobil… dia siy seneng banged pas liat barong dan gambelan yang saling bersautan. :p
    PanDe Baik´s last blog post ..Mengenal Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

  6. indahnya kebersamaan…..
    Teti Mardiana´s last blog post ..Perselisihan Adalah Sebetulnya Kesempatan

Leave a Reply

CommentLuv badge