Masalah Air Tanah di Kerobokan – Kuta Utara

Saya tinggal di Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, sebuah daerah yang cukup padat dimana sebagian besar penduduknya adalah penduduk asli. Sisanya banyak lahan di daerah ini dipergunakan untuk villa dan tempat usaha pertokoan. Sebagai sebuah daerah yang cukup atau bahkan bisa dikatakan sangat padat, kebutuhan akan air pun tentu sangat tinggi, apalagi dalam musim kemarau panjang seperti belakangan ini.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, setahu saya ada dua cara yang digunakan oleh masyarakat yaitu air sumur dan air PDAM. Bagi mereka yang tinggal di dekat jalan-jalan utama, bianya menggunakan air PDAM walau mungkin ada juga yang tetap menggunakan sumur. Tapi yang tinggal tidak di pinggir jalan utama, sepertinya sebagian besar menggunakan air sumur yaitu sumur bor. Sedangkan untuk villa dan semacamnya, setahu saya hampir pasti menggunakan sumur bor, bahkan ada yang sumurnya lebih dari satu.

Belakangan ini kami di rumah kembali mengalami masalah dengan air khususnya air tanah yang kami dapatkan dengan sumur bor. Saya ingat sekitar tahun 90an, kami masih menggunakan sumur biasa yaitu sumur yang digali dengan cara tradisional. Kalau tidak salah sumur ini dibuat sekitar tahun 80an. Kedalamannya sekitar 18 meter, sedangkan permukaan air berada di kedalaman sekitar 8 meter. Pada awalnya ayah saya menggunakan tali timba untuk menaikkan air dari sumur, saya masih ingat ketika SD saya juga sering menimba air dari sumur tersebut.

Di awal tahun 90an, ayah saya membeli sebuah mesin air sehingga kami jadi lebih mudah menaikkan air. Sebuah hal yang menyenangkan bagi kami ketika itu. Tapi tali timba tetap terpasang sebagai antisipasi ketika listrik mati. Semua berjalan lancar hingga sekitar tahun 2000, permukaan air di sumur kami sedikit turun, hingga ayah saya harus menambah panjang pipa dari mesin air.

Di tahun-tahun selanjutnya, kami sering mengalami kekeringan saat tiba musim kemarau. Beberapa tetangga sudah mulai menggunakan sumur bor namun kami tetap bertahan dengan sumur biasa. Apalagi sumur itu merupakan kebanggaan ayah saya, karena banyak sejarah dalam pembuatan sumur itu. Namun pada akhirnya keadaan memaksa kami menyerah.

Sekitar tahun 2006, kami sudah tidak bisa bertahan dengan terus kehabisan air. Ayah saya pun terpaksa ikut membuat sumur bor seperti yang dilakukan oleh orang lain di sekitar lingkungan kami, biayanya tentu tidak murah bagi kami, apalagi dengan kondisi ekonomi kami ketika itu yang masih srandang-srendeng. Sumur bor pun selesai dibuat, kedalamannya 65 meter, sedangkan panjang pipa dari mesin air sekitar 16 meter. Air pun mengalir lancar. Kami pun merasa senang, karena bisa menggunakan air sesuai kebutuhan tanpa takut kekeringan lagi walau di musim kemarau.

Saya mengira masalah sudah selesai sampai disana. Hingga tiba di tahun 2015 ini, khususnya beberapa bulan terakhir ketika musim kemarau tiba. Otomatis penggunaan air kami sedikit meningkat karena saya harus menyiram tanaman-tanaman setidaknya dua hari sekali. Beberapa kali mesin air kami tidak bisa menaikkan air lagi. Ternyata permukaan air tanah di sumur kami sudah turun lagi, pipa 16 meter yang kami pasang di mesin tidak cukup untuk menjangkau air di dalam sumur sehingga air pun gagal disedot oleh mesin.

Apa yang harus kami lakukan? Sepertinya kami harus menambah pipa lagi. Semoga saja musim hujan bisa segera datang sehingga penggunaan air bisa kami kurangi. Padahal belakangan ini kami sudah mencoba menghemat air. Saya sudah lama tidak mencuci kendaraan di rumah. Tanaman pun agak jarang saya siram, kadang-kadang sampai layu baru saya siram lagi. Tapi tetap saja mesin air kami beberapa kali gagal menaikkan air. Jadi saya pikir penghematan yang saya lakukan tidak banyak dampaknya.

Yang kemudian saya pikirkan, apakah hal ini akan terus terjadi di tahun-tahun selanjutnya. Apakah permukan air tanah akan terus turun? Padahal kami berada di daerah yang cukup rendah, bagaimana dengan yang berada di daerah lebih tinggi. Jika hal ini terus terjadi, maka beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin daerah saya akan benar-benar kesulitan air bersih.

Saya tidak paham tentang ilmu yang berkaitan dengan air tanah. Tapi secara logika saya mencoba berpikir, apakah penyebab semua ini, apakah penyebab air tanah semakin sulit didapat? Mungkin penyebabnya adalah karena penggunaan air tanah yang sangat tinggi, melebihi persediaan yang ada. Sementara air hujan sangat sedikit yang terserap ke bawah ke dalam tanah karena permukaan tanah sebagian besar sudah tertutup beton sehingga air langsung mengalir ke got, sungai lalu ke laut. Siapakah yang paling banyak menggunakan air tanah? Siapakah yang harus bertanggungjawab jika di kemudian hari air tanah benar-benar tidak bisa kita gunakan lagi?

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

5 thoughts on “Masalah Air Tanah di Kerobokan – Kuta Utara

  1. sama bli, baru beberapa hari yang lalu ngobrol sama Yudha-mantan mahasiswanya bli- sumur dirumahnya juga airnya makin menipis terutama di musim kemarau, padahal di deket pantai yg berarti dataran rendah :|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *