Malu Jadi Petani?

December 25th, 2010 by imadewira Leave a reply »

Tulisan saya ini merupakan lanjutan(atau setidaknya ada kaitannya) dari tulisan sebelumnya, Kalau Saya Punya Uang 200 Juta.

Saya melihat, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, banyak petani yang kini beralih profesi. Mereka tidak menjadi petani lagi, banyak kini memilih menjadi kuli/tukang bangunan, atau menjadi tenaga keamanan (security) di villa-villa bekas tanah sawah mereka yang kini sudah beralih fungsi. Bahkan tidak sedikit ibu-ibu yang dulu aktif ke sawah kini lebih memilih diam di rumah.

Di sekitar saya saja, untuk yang berumur 35 tahun ke bawah sudah sama sekali tidak ada lagi yang ke sawah. Lalu pertanyaannya,

Mengapa Mereka Berhenti ke Sawah? Mengapa Mereka Berhenti Menjadi Petani?

Apakah mereka malu? Berbalut lumpur dan memikul cangkul, berjalan kaki dengan pakain lusuh ke sawah? Berbekal rantang dengan lauk seadanya?

BUKAN..

Mereka bukan malu, bukan juga karena kini mereka memiliki uang banyak hasil menjual tanah sawah. Tapi karena sudah jelas menjadi petani bukanlah pilihan yang enak bagi mereka. Hasil sawah sudah tidak menjanjikan lagi sebagai penopang hidup mereka.

Kalaupun ada yang masih ada yang pergi ke sawah, itu karena tidak ada pilihan lain selain bertani. Atau ada juga yang sudah sepuh seperti kakek saya, yang usianya sudah sangat tidak produktif lagi, yang seharusnya tinggal di rumah bermain dengan cucu dan cicit. Tapi karena tidak mau dianggap tidak berguna, beliau memutuskan untuk tetap menjadi petani, menganggap bertani sudah merupakan panggilan hidup dan akan dijalankan hingga akhir hayat, atau ketika kaki sudah tak mampu lagi melangkah membawa tubuhnya ke sawah.

Apakah anda memiliki anggota keluarga yang masih bertani tradisional?

NB. Saya baru sadar ternyata post ini “comment are closed” setelah beberapa hari, mohon maaf karena ini ketidaksengajaan.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

7 comments

  1. aldy says:

    Orang tua saya masih menjadi petani Bli, petani karet.
    Keluarga saya mayoritas petani, bahkan dengan cara tradisional.

  2. Lama-lama, ndak akan ada lagi sebutan negara agraris untuk Indonesia. Negara buruh mungkin lebih tepat! Hehe..

  3. utary says:

    Didepan rumahku sawah2 hijau indah banget, baru 2 taun aku pindah kerumah ini n sekarang semua sawah2 itu sudah dikapling, tinggal nunggu mobil2 truk pengangkut pasir datang n sawah2 itu bakalan jadi bangunan.. Gak ada lagi pemandangan indah didepan rumah…

  4. postingan yg sangat menarik,,,y kalo di negara luar sana,,, penghasilan petani itu lebih besar,,, kasihan petani indonesia,,, hhhmmmm

Leave a Reply

CommentLuv badge