Macet oh Macet!

Jika di sore hari anda pernah melewati jalan raya di depan gang rumah saya, yaitu jalan raya Kerobokan-Canggu di Kuta Utara, Bali, pasti rasanya menjengkelkan sekali. Kemacetan sudah sedemikian parahnya. Belakangan jalan ini memang sudah dikenal daerah macet, khususnya di jam pulang kerja yaitu sekitar jam 4 sore hingga jam 7 malam.

Banyak orang yang mengatakan kemacetan disana disebabkan oleh tidak adanya jalan alternatif lain untuk menuju daerah Canggu, Tanah Lot dan Tabanan. Ada juga yang mengatakan macet disebabkan karena memang saat itu jam pulang kerja. Ada juga pendapat lain penyebab macet adalah karena ada dua buah pertigaan yang jaraknya berdekatan.

Kemacetan di depan gang rumah saya itu hanyalah salah satu contoh diantara sekian banyak macet di Bali khususnya Denpasar dan Badung. Kita tentu tidak bisa mengatakan kurangnya jalan sebagai penyebab macet, karena penyebab macet sebenarnya adalah jumlah kendaraan yang semakin banyak sehingga jalan yang ada tidak mampu lagi menampungnya.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai hal untuk mengatasi hal ini mulai dari cara biasa hingga yang bisa dikatakan ekstrem. Cara tersebut misalnya menggalakkan penggunaan sepeda dayung, membangun jalan-jalan baru, mengurangi subsidi BBM, aturan jumlah minimum penumpang untuk mobil pribadi, meningkatkan pajak kendaraan hingga wacana terakhir yaitu pelarangan penggunaan premium (yang notabene harganya disubsidi pemerintah) bagi sepeda motor.

(Khusus di Bali, kini berkembang rencana pembuatan jalan layang atau jalan tol yang sepertinya menjadi pro dan kontra karena mungkin akan berbenturan dengan adat dan agama di Bali).

Sebagian besar cara tersebut sudah ditempuh namun tak satupun berhasil, kemacetan tetap saja terjadi dan bahkan cenderung bertambah parah. Pemerintah tidak pernah berhasil mengatasi penyebab kemacetan yang sebenarnya yaitu jumlah kendaraan yang sudah terlalu banyak. Minat dan kemampuan untuk membeli dan menggunakan kendaraan pribadi adalah penyebab utama. Di samping itu, jumlah penduduk adalah penyebab lainnya. Inilah yang seharusnya menjadi fokus.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi hal tersebut? Masalah tentu saja tidak akan selesai dengan cara semacam menaikkan pajak kendaraan pribadi, menaikkan harga BBM dan lain-lain. Cara-cara itu sudah kuno. Apakah suatu saat pemerintah akan mengeluarkan larangan bagi rakyat untuk membeli kendaraan pribadi?

Yang menjadi fokus sebenarnya adalah apa penyebab masyarakat selalu berusaha untuk membeli kendaraan pribadi. Jelas itu karena kebutuhan, karena tingginya mobilitas masyarakat saat ini. Maka mau tidak mau cara terbaik sebenarnya yang bisa dilakukan pemerintah adalah penyediaan sarana angkutan umum! Angkutan umum yang aman, nyaman, murah dan profesional!

Mewujudkannya memang tidak mudah, tetapi setidaknya kita semua sudah tahu solusinya dan sebaiknya  pemerintah memulai usaha tersebut mulai sekarang juga dan dilandasi atas niat yang baik untuk jangka panjang, sebelum kemacetan semakin parah. Dan harus secara serius serta profesional. Harus dibuat perencanaan matang dari awal bagaimana membangun sebuah sistem transportasi massal yang baik dan cocok untuk diterapkan di daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut.

Langkah pemerintah ini jangan hanya asal-asalan karena image angkutan umum dimata masyarakat saat ini sudah sedemikian buruk. Citra yang baik akan bisa mengubah pola pikir masyarakat sehingga nantinya membeli kendaraan pribadi bukanlah sebuah hal yang mutlak lagi karena angkutan umum yang baik telah tersedia.

Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota harus bekerjasama dan segera bertindak karena merekalah yang paling tahu bagaimana kondisi di daerahnya. Jangan hanya menunggu program dari pemerintah pusat. Dengan dana APBD yang ada, seharusnya mewujudkan rencana pembuatan sistem transportasi massal yang baik bukanlah mustahil. Tentu saja harus bekerja sama juga dengan mereka yang ahli dalam masalah transpotasi massal.

Dan tentu saja mengatasi masalah kemacetan seperti ini tidak bisa dalam waktu sekejap, perlu rencana jangka panjang dan ide-ide jenius yang sebelumnya mungkin dianggap gila. Jadi saya tantang bagi anda yang ingin menjadi Bupati, Walikota, Gubernur atau DPR, siapa saja yang punya keinginan dan niat untuk menjadikan keadaan lebih baik, akan saya dukung dan saya tidak ragu untuk mencoblos muka anda, eh maksud saya gambar anda ketika pemilu nanti.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

23 thoughts on “Macet oh Macet!

  1. Untuk kemacetan yang terjadi di ruas jalan kerobokan Canggu, saya pribadi punya solusi ampuh… kanggoang ngalah ngambin jalan ke perumahan dalung… hahahaha…

  2. Berkacalah ke Jakarta, jalan layang, jalan tol bukanlah solusi untuk mengatasi kemacetan, ditambah dengan dibangun smua infrastruktur itu, hmmm…saya rasa malah mengurangi daya tarik Bali sendiri.

    Dan 1 lagi, kita selalu membebankan urusan kemacetan ke pemerintah, kita semua benci macet, lantas sudahkah kita berbuat sesuatu untuk mengurangi kemacetan ? :D

  3. Ini akibat perkembangan laju kepemilikan kendaraan yang gag seimbang dengan jalan yang ada.
    Apakah ini yang disebut masyarakat semakin sejahtra dengan dapat memiliki sepeda motor atau mobil? Jika diambil rata-rata 1:1,2 yaitu 1 orang memiliki 1,2 sepeda motor. Jelas lebih banyak sepeda motornya…..

    Hmmmmmm

    So, jangan lupa simpang di blog saya http://www.burger-cobra.blogspot.com

  4. macet sepertinya dah jadi trend mas hehe..
    penduduk tambah banyak, anak2 SD dan SMP pun kdang sudah punya motor sendiri..
    bandingkn jaman dlu.. saya baru boleh naik motor saat kuliah

  5. Kangen ke Bali nih, huuhuh.. Kalau macet sih rasanya semua kota macet ya. Apalagi di jam-jam tertentu (berangkat kantor/sekolah & pulangnya). Macet ya sekarang? Moga-moga pas saya dateng nggak macet yak :D

    Kalau di Jakarta, mana ada sih daerah nggak macet. Udah banyak tol sama fly over juga masih tetep sama :(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *