Maafkan Saya Nek, Hanya Itu Yang Bisa Saya Lakukan

June 17th, 2010 by imadewira Leave a reply »

Pagi ini saya berangkat ke kampus lebih pagi, karena ini hari Jumat dan jadwalnya untuk berolahraga badminton di kampus. Tepat pukul 7 saya ditemani Cecep menelusuri jalanan dari Kerobokan melewati Sunset Road menuju Nusa Dua, tempat saya bekerja.

Saya sempat berhenti untuk sarapan nasi kuning di pinggir by Pass Ngurah Rai, beberapa puluh meter dari bundaran Simpang Siur Kuta. Jalanan yang sudah mulai padat tidak saya perdulikan, dengan beberapa orang yang juga menikmati sarapan nasi bungkus di pinggir jalan, murah meriah.

Selesai makan, saya lanjutkan perjalanan sembari bersendawa. Ketika melewati daerah Jimbaran tepat di sekitar depan toko bangunan (kalau tidak salah namanya Mekar Abadi), tiba-tiba orang-orang di pinggir berteriak histeris dan melihat ke tengah jalan.

Saya kaget dan mencari ada apa gerangan, ternyata di jalan seberang saya melihat seorang nenek tengkurap di tengah jalan dan satu orang lain memakai helm juga tengkurap di pinggir jalan. Belum ada yang menolong dan jalanan masih ramai, maklum itu memang jalur ramai dan cepat, saya sendiri biasanya melewati daerah itu dengan kecepatan 100 km/jam.

Saya lalu berhenti di pinggir jalan dan memarkir motor lalu menyeberang dan mendekati nenek itu, awalnya saya mengira nenek itu sudah meninggal karena dari jauh terlihat tidak bergerak. Kemungkinan dia menyeberang jalan dan ditabrak oleh seseorang yang tergeletak di pinggir barat jalan.

Orang-orang di pinggir jalan pun berkerumun khususnya para buruh di toko bangunan itu. Sebelum saya berhasil mendekat, seorang bapak yang mungkin pemilik warung makan segera menggendong nenek tersebut dan dibawa ke timur jalan, di teras warungnya.

Saya belum bisa membantu, hampir semua orang panik dan sebagian besar histeris melihat keadaan nenek tersebut, beberapa orang mengambilkan air minum. Saya akhirnya bisa mendekat, ternyata nenek itu masih hidup, di kakinya sekilas saya lihat luka yang cukup lebar, mungkin juga kakinya patah. Yang paling parah di dahi kanannya terdapat luka berlubang namun tidak berdarah. Bajunya memang banyak kena darah namun saya tidak tahu darimana asalnya.

Saya ikut sedikit panik dan air mata saya hampir keluar melihat muka nenek itu yang benar-benar tidak berdaya. Saat semua orang bingung, saya berpikir apa yang harus dilakukan, saya lalu mengajak beberapa orang untuk menyetop kendaraan untuk membawa nenek itu ke RS terdekat.

Kami mencoba mencari kendaraan jenis pick up. Dua kali kendaraan jenis itu yang saya stop menolak untuk membantu. Saya makin sedih dan bingung. Akhirnya sebuah mobil pick up yang ada di garasi dekat kejadian dikeluarkan oleh seorang buruh dan digunakan untuk mengangkut, saya berusaha membantu agar nenek itu bisa dinaikkan ke mobil.

Nenek itu lalu dibawa ke klinik terdekat sementara saya masih diam menenangkan diri di lokasi. Seorang lagi korban di seberang jalan sepertinya juga sekalian dibawa. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya.

Setelah agak tenang saya melanjutkan perjalanan ke kampus dengan pelan. Di jalan pikiran saya melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada orang terdekat kita. Pasti sangat sedih dan panik. Berada di lokasi dan keadaan seperti itu tentu saja jauh berbeda dengan ketika kita mendengar ceritanya.

Saya kembali terbayang wajah nenek itu ketika berada di pangkuan bapak baik hati yang menolongnya. Entahlah, saya melihat nenek itu seperti bayi yang tak berdaya, saya teringat anak saya di rumah, seketika air mata saya mengalir. Ya mungkin saat itu saya terlalu sentimentil.

Dalam hati saya berkata, “maafkan saya nek, hanya itu yang bisa saya lakukan”. Saya sudah berusaha maksimal namun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semoga saja nenek itu selamat dan bisa sembuh.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

10 comments

  1. wiwid says:

    Waah.. Cerita yg mengharukan.. Jika saja saya berada dsna, pasti akan panik jg.. Mdh2an aja orng2 terdekat kita selalu dlm lindungannya..

  2. Adi says:

    Wah bli wira uda nOlong pntg, sukur2 ud dbw d klinik,

  3. zee says:

    Ya Tuhan,
    kenapa mobil2 pickup itu tidak berhenti bantu?
    saya juga selalu berpikir begitu, ya siapa tahu nanti ada kejadian juga dengan keluarga kita, lalu orang lain tak memperdulikan permintaan tolong kita, aduhhh pasti hati hancur rasanya. harta ini hanya titipan, bukan begitu bli, jadi kalau bisa digunakan u/ bantu orang apa salahnya?
    kalo saya pasti juga menangis klo ktemu kejadian itu. kasihan si nenek. mudah2an cepat sembuh ya nek..

  4. - H - says:

    posisi yang dilema ya bli?

  5. Yang harus jadi pelajaran bagi kita semua, hargai setiap orang di jalan raya. Kalau ngebut cuma membuat celaka diri sendiri sih, ndak apa-apa. Tapi kalau ada orang lain yang ndak berdosa ikut jadi korban, bayangkan bagaimana perasaan orang itu.

    Hargai sesama, hati-hati di jalan.

Leave a Reply

CommentLuv badge