Kuta Diantara Mereka

September 12th, 2012 by imadewira Leave a reply »

Ilustrasi foto dari penulishidupku.com

Hari Rabu kemarin saya tumben melewati jalan pantai Kuta lagi, setelah mungkin lebih dari setahun saya tidak melewatinya. Padahal rumah saya hanya beberapa kilometer dari daerah ini. Dan juga Kuta berada di antara Kerobokan tempat tinggal saya dan Nusa Dua tempat saya bekerja. Namun adanya jalan by Pass Ngurah Rai membuat saya tidak melewati Kuta yang bagi sebagian besar turis adalah surga di dunia.

Kuta memang Surga bagi sebagian orang, lihat saja bagaimana terkenal Kuta disamping juga Bali sampai ke seluruh dunia. Bagi orang Bali khususnya penduduk asli disana, apakah Kuta adalah surga? Belum tentu, tergantung dari rejeki dan juga usaha dari setiap orang. Bisa menjadi surga jika mereka berusaha dan memiliki rejeki yang bagus serta mampu memanfaatkan peluang dengan banyaknya turis yang datang. Bisa jadi neraka jika salah mengelola “aset” hingga habis tak tersisa untuk generasi selanjutnya.

Hari Rabu kemarin, saya memilih melewati jalan yang lain dari biasanya. Melihat jalan By Pass Ngurah Rai yang sangat padat bahkan hampir macet saya iseng mencari alternatif. Jalan By Pass Ngurah Rai memang sudah biasa padat merayap, apalagi ditambah dengan proyek pembangunan under pass di simpang Dewa Ruci atau lebih dikenal dengan Simpang Siur. Tujuannya memang untuk mengatasi kemacetan walaupun dalam prosesnya memang membuat kemacetan semakin parah.

Dan kemarin kepadatan sudah mulai dari Jimbaran menuju Tuban. Kendaraan khususnya mobil harus melaju sangat pelan dan beberapa kali berhenti. Untungnya saya mengendarai sepeda motor dan masih bisa meliuk-liuk diantara hutan kendaraan di jalan yang penuh sesak itu. Sudah terbiasa dengan kondisi macet begitu, saya biasanya terus menerobos hingga Simpang Siur lalu menuju jalan Sunset Road (aneh ya, sudah Sunset Road masih pakai ‘jalan’) hingga mentok lalu belok kanan ke arah Kerobokan.

Tapi kemarin tidak, di pertigaan patung Ngurah Rai saya belok kiri menuju arah bandara Ngurah Rai, lalu belok kanan menuju Kuta dan melewati jalan pantai Kuta. Iya, jalan tepat di pinggir pantai Kuta yang terkenal itu. Melaju dengan perlahan walaupun lalu lintas tidak padat, cukup lancar dibanding melewati by Pass Ngurah Rai walaupun jadinya lebih jauh karena pelan, tapi di By Pass Ngurah Rai toh pelan juga karena macet.

Sambil melihat kiri kanan rupanya sudah banyak yang berubah di jalanan ini. Jalan pantai Kuta ini satu arah dari selatan, di sebelah kiri kita akan melihat tembok tinggi khas Bali dan di sebelah tembok itulah pantai Kuta yang menjadi surga para turis itu berada. Di sebelah kanan, berderet hotel dan bangunan mewah sebagai wujud dan ciri dari megahnya dunia pariwisata di Kuta. Sebut saja Hard Rock Hotel dan Cafe, Kama Sutra semua ada disana.

Dan setahun lebih tidak lewat sana ternyata beberapa bangunan megah menghadap ke pantai sudah berdiri disana. Kalau tidak salah namanya Beachwalk, terlihat megah dan mewah untuk ukuran di Bali khususnya di pinggir pantai Kuta. Ada beberapa juga bangunan baru yang sebelumnya belum pernah saya lihat. Sejenak semuanya membuat saya bengong. Bengong karena memang baru dan desain yang berbeda dengan bangunan khas Bali. Entah harus bangga dengan makin elitnya Kuta atau harus sedih karena Kuta yang mewakili Bali sudah tidak “perawan” lagi.

Tapi, tidak semua pemandangan itu yang membuat tulisan ini lahir. Tapi sebuah pemandangan berbeda yang mungkin sama sekali tidak diharapkan oleh para turis dan oleh kita semua. Di ujung jalan pantai Kuta yang membentang selatan ke utara itu, saya lalu belok kanan ke arah Seminyak dan menuju Kerobokan.

Tepat di tikungan ke kanan setelah ujung jalan pantai Kuta itulah saya melihat, di kiri jalan di atas trotoar, seorang ibu dengan pakaian lusuh dan kumal bersama dua orang anak kecil dengan pakaian tak kalah menyedihkan. Seorang anak perempuan mungkin berumur belum 2 tahun dan seorang lagi anak laki-laki sekitar 4 tahun. Si ibu sedang memegangi anak yang perempuan yang sedang buang air kecil, mungkin agar pakaiannya yang lusuh itu tidak basah.

Dari penampilan mereka, saya menduga mereka pengemis. Saya tidak berani memastikan tetapi kemungkinan besar begitu. Karena penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan pengemis di persimpangan jalan Imam Bonjol dan Sunset Road yang biasa saya lihat. Mereka adalah kaum pinggirian yang mencoba mengais remah kue pariwisata di pulau Surga ini. Entah dengan cara yang benar atau salah tapi yang jelas mereka hanya ingin bertahan hidup. Sejenak saya teringat dengan putri saya dirumah, entah apa hubungannya. Tapi sepertinya saya harus bersyukur dengan apa yang saya terima saat ini.

Lamunan saya pun buyar, tidak tahu apa makna yang terkandung di balik pemandangan itu. Saya melanjutkan perjalanan pulang dan tiba dirumah disambut senyum anak dan istri yang sudah menunggu seperti biasanya.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

7 comments

  1. Zizy Damanik says:

    Setiap kali melihat pengemis, mau gak mau pasti jadi ingat dgn keluarga. Kita jadi bersyukur karena ternyata hidup kita lebih beruntung dibanding mereka….

  2. DV says:

    Tulisan ini menarik sekali, Bli! Sisi lain dari sebuah hal yang selalu dipandang orang…
    DV´s last blog post ..Buzzer? Sekali lagiā€¦

  3. Pak Wira,
    Saya berusaha membaca semua artike ini dari awal hingga akhir. Dari Tajuknya saja saya ingin menelusuri isinya. Kita memang berada 2 pilihan tentang seorang ibu dan 2 orang anak yang berpakain lusuh.

    Pertama: kita ingin membantu mereka sebagai perwujutan cinta kasih terhadap sesama manusia, untuk membagi dan merasakan oleh orang yang tidak berkecukupan hidup atas kelebihan yang kita miliki.

    Kedua; kita dihantui oleh sikap dan prilaku GEPENG yang meresahkan sehingga kita tidak atau urung niat utk berbagi kasih. Karena di sini kita tidak bisa yang mana asli miskin dan mana yang tidak.
    Indonesia Hotels´s last blog post ..Sanggingan Villa Ubud

    • imadewira says:

      @Indonesia Hotels : benar sekali, saya seringkali bimbang ketika melihat pengemis. Sementara ini, saya selalu berusaha untuk tidak memberikan apa-apa ketika di jalanan, tapi saya juga berusaha tidak bersikap membenci atau kasar kepada mereka.

Leave a Reply

CommentLuv badge