Ketika Musim Hujan Datang

hujan

Salah satu kendala yang saya rasakan bekerja di tempat yang sekarang ini adalah jarak kantor yang lumayan jauh dari rumah, sekitar 27 KM. Itu artinya setiap bekerja saya akan menempuh jarak 54 KM untuk pulang pergi, apalagi ditambah dengan kondisi jalan yang semakin tidak manusiawi, macet dimana-mana. Dan ditambah lagi jika musim hujan datang, lengkaplah “penderitaan” saya.

Sekarang sudah memasuki bulan Desember dan sekitar dua minggu lagi sudah tahun baru dimana hujan-hujan lebat sudah mulai datang. Disini hujan biasanya mulai turun sekitar bulan November atau paling lambat Desember dan akan berlangsung sampai bulan Januari/Februari atau bahkan sampai Maret. Hujan memang sebenarnya berkah tapi sekaligus rintangan bagi saya yang kerjanya lumayan jauh.

Kalau sudah musim hujan begini, saya yang ke kantor sehari-hari naik sepeda motor akan jadi ribet. Kalaupun ada mobil kayaknya saya lebih memilih naik motor karena sudah beberapa kali saya kapok naik mobil. Jarak 27 KM itu bisa saya tempuh dengan waktu lebih dari dua jam karena macetnya parah, sudah kayak Jakarta aja. Karena naik motor berarti agar tidak kehujanan berarti saya harus menggunakan jas hujan atau disini lebih dikenal dengan mantel.

Apalagi sebelumnya ketika selama kurang lebih dua tahun saya naik “motor laki”, kalau hujan maka kaki saya pasti akan basah. Dengan pakaian kantor lengan panjang plus dasi dan sepatu hitam, bisa dibayangkan susahnya naik “motor laki” kalau harus berhadapan dengan hujan. Apalagi kalau hanya menggunakan mantel biasa maka sampai celana pun akan ikut basah hanya dengan hujan gerimis.

Maka waktu itu saya memutuskan merogoh kantong lebih dalam untuk membeli jas hujan model baju+celana. Tapi ya tetap saja sepatu tetap basah, satu-satunya caranya adalah sepatu saya bungkus dengan tas plastik lalu dimasukkan ke dalam tas laptop. Laptop pun kadang minggir atau saya tinggalkan di kantor. Atau ketika hujan rutin datang, sepatu saya tinggalkan di kantor dan saya berangkat dengan sandal jepit saja. Belakangan saya sampai membeli sepatu baru karena kebetulan sepatu saya sebelumnya sudah mulai usang. Jadi sepatu yang baru saya tinggalkan di kantor dan sepatu yang lama saya pakai ketika cuaca tidak menentu.

Sekarang “motor laki” saya sudah saya jual dan saya ke kantor sehari-hari naik motor jenis skuter matic. Kalau hujan memang jadi lebih mudah, setidaknya kalau hujan gerimis masih bisa saya terobos dengan menggunakan mantel biasa dan tetap memakai sepatu karena dengan motor yang sekarang sepatu saya tidak akan kena cipratan air dari roda depan motor. Tapi kalau hujannya lebat ya tetap harus minggir dan berteduh dulu.

Ya begitulah, “penderitaan” saya kalau musim hujan sudah datang. Belum lagi kalau hujannya terlalu deras sehingga di beberapa ruas jalan yang saya lewati kerap digenangi air alias banji. Eh tapi ada sukanya juga lho. Rumput-rumput di seluruh kawasan kampus tempat saya bekerja akan langsung menghijau lagi ketika musim hujan datang. Begitu juga dirumah, kalau biasanya setiap hari minimal sekali saya menyirami tanaman dan kebun, sekarang tidak perlu lagi, hehe.

Baca Juga:

Wirautama

Wira, seorang dosen komputer di STP Nusa Dua, Bali. Lahir dan hingga kini tinggal di Kerobokan, sebuah tempat yang tak jauh dari kampung turis mancanegara, Kuta-Bali. Ngeblog sebagai hobi dan sekedar pelepas penat.

2 thoughts on “Ketika Musim Hujan Datang

  1. Memang hujan deras yang sekarang melanda ini bikin kurang nyaman untuk bepergian, apalagi sudah banjir di mana-mana kalau deras sedikit.
    Apapun, harus berhati-hati dalam segala kesempatan…

  2. kalau musim penghujan kayak gini saya malah takut kalau anggota keluraga banyak yang sakit flu ataupun demam nih
    Moga saja musim hujan ini tidak memberi dampak buruk bagi kita dan lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *