Ketemu Aparat, Saya Lebih Baik Menghindar

September 21st, 2011 by imadewira Leave a reply »

Kejadian ini saya alami ketika dalam perjalanan pulang kerja dari Nusa Dua menuju Kerobokan. Seperti biasa sekitar pukul 15.30 saya berangkat dari kampus melewati jalan By Pass Ngurah Rai hingga simpang Dewa Ruci lalu melewati Sunset Road menuju Kerobokan.

Sore-sore begitu sudah terbiasa di By Pass Ngurah Rai lalu lintas padat merayap, bahkan terkadang macet. Apalagi di pertigaan patung Ngurah Rai, maklum itu adalah satu-satunya akses darat dari Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya menuju Kuta dan Denpasar. Antrian traffic light di pertigaan itu pun sangat panjang. Untungnya saya mengendarai sepeda motor, sehingga bisa meliuk-liuk diantara antrian mobil, truk dan bus.

Lalu saya melihat ada dua truk berwarna coklat yang berjalan beriringan pelan karena macet, di bak belakangnya penuh dengan aparat (tentara) berpakaian loreng dengan ciri khasnya bertampang sangar. Saya tidak tahu mereka dari kesatuan mana, yang saya tahu mereka adalah tentara karena berpkaian loreng seperti tentara pada umumnya.

Karena lalu lintas sangat padat maka saya pun meliuk-liuk mencari celah diantara mobil lain dan juga truk tersebut. Semua pengendara sepeda motor juga melakukan hal serupa dengan saya. Lalu tibalah saya diantara kedua truk tentara tadi, ada juga satu-dua sepeda motor lain. Jadi di depan dan belakang saya ada truk tentara.

Saya lalu mendengar suara klakson yang cukup keras dari truk di belakang saya, karena hanya sekali awalnya saya menduga peringatan agar saya berhati-hati. Suara klakson sesekali begitu biasa dalam suasana jalanan padat. Saya pun berkendara seperti biasa, sesekali berhenti karena macet.

Lalu kemudian terdengar lagi suara klakson dari truk di belakang saya, ya truk yang bermuatan tentara itu. Kali ini bukan sekali, tapi berkali-kali dan seperti orang marah. Saya berpikir apa salah saya, pengendara sepeda motor yang kebetulan di dekat saya juga tampak bingung.

Lalu beberapa orang tentara di truk di depan memberi tanda agar saya minggir, tapi saya harus minggir kemana, karena saya tidak bisa bergerak kemana-mana kecuali mengikuti truk di depan saya itu. Dan suara klakson dari truk di belakang saya masih terdengar.

Akhirnya ada juga kesempatan untuk ke samping dan menyalip truk di depan saya dan saya pun berlalu.

Sambil melanjutkan perjalanan pulang saya merenung, apa kira-kira salah saya sehingga sopir truk tadi yang kemungkinan tentara juga meng-klakson saya dan orang lain seperti itu. Apakah karena saya berada di depan truk mereka? Apakah hal itu tidak boleh? Bukankah itu jalan umum dan saya serta semua orang berhak menggunakan jalan tersebut, apalagi dalam kondisi padat dan hampir macet seperti itu.

Jujur saja ketika itu saya merasa sedikit terintimidasi dan terancam. Padahal seharusnya aparat seperti polisi dan tentara bisa memberikan rasa aman dan melindungi masyarakat. Tapi kenapa yang ada justru saya cenderung merasa takut dan tidak nyaman ketika berada di dekat mereka.

Baca Juga:

Ingin berlangganan artikel dari blog ini?

Ya, setiap artikel di blog ini akan dikirimkan secara gratis ke email anda. Cukup masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini :


Jangan lupa, cek email anda lalu klik link aktivasi yang dikirimkan ke email anda.

Comments are closed.